logo

Kampus

87 Persen Pelajar-Mahasiswa Manfaatkan AI untuk Kerjakan Tugas

87 Persen Pelajar-Mahasiswa Manfaatkan AI untuk Kerjakan Tugas
Menkomdigi Meutya Hafid mengatakan sebanyak 87 persen pelajar dan mahasiswa menggunakan AI untuk mengerjakan tugas. (EDUWARA/K. Setyono)
Setyono, Kampus12 Desember, 2024 01:25 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan Indonesia menjadi negara ketiga terbesar yang jumlah penduduknya memanfaatkan dan menggunakan teknologi digital Artificial Intelligence (AI). Bahkan berdasarkan survei diketahui jika sebanyak 87 persen pelajar dan mahasiswa menggunakan AI untuk mengerjakan tugas.

“Menurut survei dari Tirto dan Jakpat, 87 persen pelajar Indonesia menggunakan AI untuk mengerjakan tugas mereka. Ini yang perlu jadi catatan," kata Meutya Hafid di UGM, Rabu (11/12/2024).

Kehadiran talenta digital bidang AI sangat dibutuhkan karena pemanfaatan teknologi ini sudah diterima sekarang dan bukan lagi terjadi di masa depan. AI sekarang ini bukan lagi dianggap ancaman namun peluang.

“Keyakinan ini bukan berdasarkan feeling atau intuisi tetapi berdasarkan data yang menunjukkan AI akan menggantikan 85 juta pekerjaan pada 2025. Tapi di saat yang sama menciptakan 97 juta pekerjaan baru di berbagai bidang teknologi digital,” katanya.

Terlebih lagi potensi digital ekonomi, menurut Meutya, digital Indonesia diprediksi akan tumbuh dari angka 90 juta US dollar pada 2024 menjadi 130 juta US dollar pada 2027. Saat ini, Indonesia menduduki peringkat ketiga yang jumlah penduduknya terbanyak mengakses platform-platform AI, yaitu 1,4 miliar kunjungan.

Meutya juga meminta institusi pendidikan untuk menerima dengan tangan terbuka dan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi digital dengan kebijaksanaan. Karena kalau tidak, akan lebih banyak manfaat buruknya dibandingkan manfaat baiknya.

Kepada mahasiswa dan generasi muda lainnya, Meutya meminta dalam pemanfaatan teknologi digital AI harusnya bisa segera beradaptasi. AI sekarang yang hadir di depan mata sekarang bukan lagi dianggap ancaman namun sebagai peluang yang penuh tantangan.

“AI tidak mengurangi peran kita, ini harus disadari sejak awal. Kita harus memperbesar dampak kemanfaatan kepada manusia dengan terus belajar sesuatu yang bermakna sehingga kita dapat mengambil momentum saat percepatan teknologi,” tuturnya.

Sederhananya, lanjut Meutya, AI membantu manusia di semua sektor. Namun dalam penggunaan harus disertai kemampuan berpikir kritis, mempergunakan akal, hati serta imajinasi.

Read Next