Kampus
15 Februari, 2026 06:20 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta akan terus disiapkan agar memiliki daya tahan dalam menghadapi kompleksitas masa depan. Para mahasiswa ini tidak sekadar akan memiliki pengetahuan teknis, melainkan juga kompas etik.
Hal ini disampaikan Rektor UIN Sunan Kalijaga, Noorhaidi Hasan, dalam pidato sambutan pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Periode II Tahun Akademik 2025/2026, yang digelar selama dua hari, Rabu-Kamis (11-12/2/2026), di Gedung Multipurpose. Dalam dua hari tersebut, 570 mahasiswa diwisuda pada Rabu (11/2/2026), sedangkan pada Kamis (12/2/2026), wisudawan diikuti 410.
“Komitmen tersebut diterjemahkan dalam agenda besar menjadikan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai ‘Kampus Berdampak’. Artinya, ilmu yang dikembangkan dan alumni yang dilahirkan memberikan kontribusi nyata bagi transformasi sosial, baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional,” kata Noorhaidi Hasan, dikutip pada Jumat (13/2/2026).
Menurut Noorhaidi, ukuran keberhasilan lulusan tidak diletakkan pada posisi atau jabatan, melainkan pada dampak yang dihadirkan. Sehingga, di mana pun pengabdiannya, selama memberikan dampak bagi masyarakat, itulah alumni sukses UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Berkaitan dengan hal itu, Noorhaidi juga menyebutkan bahwa riset dosen maupun mahasiswa difokuskan pada respon atas masalah aktual. Untuk memperkuat ekosistem tersebut, kampus juga telah mendirikan pusat inovasi dan hilirisasi riset sebagai jembatan agar temuan ilmiah tidak berhenti di ruang seminar atau jurnal, tetapi bertransformasi menjadi solusi konkret.
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menempati posisi epistemik yang strategis dan unik. Kampus ini mengusung paradigma integrasi-interkoneksi yang menyatukan ilmu keagamaan dengan ilmu sosial-humaniora, sains, teknologi, dan ilmu lainnya dalam satu tarikan napas.
“Dalam kerangka itu, ilmu-ilmu keislaman tidak berdiri terpisah, melainkan menjadi landasan filosofis dan etik bagi setiap proses inkuiri saintifik,” jelasnya.
Semua lulusan diharapkan menyandang predikat kesarjanaan "plus" karena tidak saja memiliki kompetensi keilmuan masing-masing, tetapi juga dibekali dengan semangat keislaman, spiritualitas, dan keinginan untuk terus memberikan pengabdian terbaik bagi masyarakat, bangsa, negara, dan peradaban dunia.
Dampak Nyata
Saat ini, jejak para alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta telah tersebar di berbagai lini kehidupan, mulai dari birokrasi, pendidikan, riset, hingga sektor sosial-keagamaan, dan yang lebih penting lagi, memberi dampak nyata bagi masyarakat. Menurut Noorhaidi, capaian tersebut bukan semata hasil kecerdasan akademik, melainkan buah dari semangat perjuangan dan kerja keras yang terus dirawat sejak menjadi mahasiswa.
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta akan terus bertransformasi menjadi kampus terkemuka dan bereputasi global melalui pembaruan kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan tantangan zaman, sehingga mampu menjawab problem sains serta fenomena keilmuan kontemporer.
Noorhaidi juga mengingatkan bahwa capaian akademik tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan personal atau tersimpan di “menara gading”. Ilmu dan kerja keras yang ditempa selama studi, tegasnya, harus diturunkan ke masyarakat dalam bentuk kontribusi nyata.
“Kalian adalah generasi yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini. Indonesia masih membutuhkan kontribusi nyata di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Di tangan kalian, arah dan kualitas masa depan negeri ini akan ditentukan,” katanya.
Karena itu, UIN Sunan Kalijaga berkomitmen bergerak searah dengan agenda pembangunan nasional, memastikan lulusannya hadir sebagai bagian dari solusi bagi masa depan bangsa.
Noorhaidi memastikan acara wisuda bukan sekadar seremoni akademik, melainkan penanda akhir dari proses panjang yang ditempuh dengan disiplin dan dedikasi. Di titik itulah, para lulusan dinilai layak menyandang gelar kesarjanaan, sebuah otoritas intelektual yang membawa tanggung jawab moral.
Bagikan