Badai Pandemi, Menyisakan Mereka yang Ulet dan Cerdik Melihat Pasar

01 April, 2023 19:25 WIB

Penulis:Ida Gautama

Editor:Ida Gautama

Wildan Salim 2.jpg
Wildan Salim, CEO Fadkhera (EDUWARA/CM Ida Tungga Gautama)

Pandemi Covid-19 memang menghancurkan dunia usaha. Tidak sedikit perusahaan tumbang gegara pandemi, tidak terkecuali usaha kecil, menengah dan mikro (UMKM). Bencana yang melanda dunia itu hanya menyisakan mereka yang ulet, pantang menyerah menghadapi kesulitan dan mencari peluang solusi.

“Awal-awal pandemi tahun 2020 itu masih belum begitu terasa. Saya masih menargetkan pertumbuhan, kenaikan penjualan. Januari, Februari, Maret, respon pasar juga masih bagus. Tapi menjelang akhir Maret, sekitar minggu ketiga, saya mulai panik karena grafik Covid-19 mulai naik,” tutur Wildan Salim, mengawali perbincangan di kantornya, beberapa waktu lalu.

Tak ada kata menyerah bagi Wildan, yang menekuni bisnis fashion pria muslim modern ‘Fadkhera’ sejak 2015. Di tengah situasi yang semakin sulit, ia justru melihat potensi pasar yang masih terbuka. Pandemi ternyata meningkatkan kebiasaan belanja secara online. Peluang ini yang terbaca naluri bisnis Wildan. Ia melihat kunci sukses saat pandemi justru terletak pada pilihan jasa pengiriman yang andal, meskipun pembeli tetap memiliki keleluasaan dalam memilih jasa pengiriman.

Namun, sukses yang diraih CEO Fadkhera ini bukan tanpa halang rintang yang menyita energi dan waktu. Sedari awal, Wildan bertekad untuk menjadi sosok mandiri bermental tangguh.

“Saya ini lulusan Teknik Mesin Fakultas Teknik UGM, tahun 2010. Saya tak kenal fashion, tak pernah belajar jahit, juga tak pernah pegang mesin jahit. Tapi saya suka desain grafis. Sejak kuliah, saya kerja freelance di bidang ini, bikin desain undangan, logo atau ornamen-ornamen yang njelimet,” kata Wildan.

Rampung kuliah, Wildan memutuskan tidak bekerja di bidang ilmunya. Ia lepas kesempatan berkarir di sebuah BUMN. Wildan memilih bergabung dengan teman-temannya untuk membangun usaha bersama. Jatuh bangun dilaluinya. Sejak awal, ia memang ingin melatih mentalnya.

“Saya yakin, dengan terjun ke dunia bisnis, entrepreneur, mental saya bisa dilatih. Meskipun itu butuh waktu,” paparnya.

Tahun 2014, ketika putera pertamanya lahir dengan kondisi down syndrome, ia tergugah untuk membangun bisnis yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Semesta mendukungnya. Perjumpaannya dengan seorang kawan membulatkan tekadnya untuk membangun bisnis fashion pria muslim modern.

“Tahun 2015, saya lalui dengan keluar masuk toko kain di Solo untuk pegang-pegang bahan, cari yang nyaman dipakai. Saya minta tolong saudara untuk menjahitnya menjadi busana pria,” kenangnya.

Produk perdana fashion pria muslim modern tersebut dirilis Wildan di fanpage Facebook. Jumlahnya hanya 86 pieces. Setiap tipe ia buat delapan pieces dan setiap tipe hanya ada dua ukuran. Tak disangka, 85 pieces busana laku terjual.

“Itu cuma feeling di awal. Jadi belum terlalu lancar. Kalau ada baju yang laku, saya kasih tulisan ‘SOLD’ di fotonya. Euforia banget rasanya,” kenangnya.

Wildan juga memanfaatkan circle pertemanan untuk mengenalkan Fadkhera ke khalayak yang lebih luas. Ia menyebutnya semacam influencer untuk zaman sekarang.

Menjajal Peruntungan Pameran

Tak hanya itu, Wildan juga menjajal peruntungan di pameran Ramadan yang digelar di JEC pada tahun 2016. Sederhana saja alasannya, karena produk fashion pria muslim modern masih sangat sedikit dan jarang dilirik. Ia jadi satu-satunya tenant fashion pria di pameran itu.

“Tiga hari pameran, saya bawa 200 pieces baju cowok dan alhamdulillah semua laku terjual. Saya masih ingat jumlah uang yang bisa saya pulang, Rp 22 juta. Sampai akhir Juni, Fadkhera saya ikutkan di tiga pameran, di JEC, Hartono Mall dan di JEC lagi. Semuanya di kota Yogya,” paparnya.

Wildan juga membawa Fadkhera ke Instagram ketika tren belanja beralih ke ‘melihat-lihat foto’. Namun, ia tak mau hanya terpaku di pasar online. Ia putuskan merambah pasar offline. Sungguh bukan kerja yang mudah. Ia butuh waktu cukup lama hingga Fadkhera mampu mencuri perhatian pasar.

“Usaha ini saya mulai dari garasi rumah kontrakan di Nitikan, di belakang Kantor Pusat JNE Yogyakarta. Sedangkan untuk jahit-menjahitnya, saya bermitra dengan penjahit di Jawa Barat. Selama dua tahun, pemasaran Fadkhera dilakukan dengan sistem dropship dan reseller. Saya wira-wiri ke kantor JNE untuk kirim-kirim produk,” katanya.

Berselang dua tahun, Wildan memutuskan untuk membangun branding. Ia tutup layanan reseller dan mulai membangun sistem keagenan Fadkhera, dengan cara deposit. Hingga 2023, tercatat ada 100 agen menjadi mitra Fadkhera, yang terbagi menjadi agen premium dan agen reguler. Dengan sistem ini terbuka peluang bagi agen untuk ‘naik kelas’ dan menggarap reseller.

Pandemi Covid-19 menjadi kisah tersendiri bagi Wildan. Apalagi pada 2021, ia terpapar Covid-19 dan berkelanjutan menjadi long Covid. Kekhawatiran yang berlebihan sempat menghinggapi dirinya.

“Selama ini, saya sendiri yang mendesain Fadkhera. Ketika akhirnya harus beristirahat selama empat bulan, teman-teman mulai ikut mendesain sebelum akhirnya Fadkhera dapat fashion designer secara freelance dari Jakarta. Urusan supplier bahan dan tenaga penjahit di luar kota juga teratasi oleh tim Fadkhera yang berjumlah 10 orang sehingga produksi bisa tetap berjalan,” paparnya .

Roni, dari Divisi Warehouse Fadkhera, menyebut permasalahan mulai muncul ketika pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) selama pandemi Covid-19. Kebijakan ini sempat merepotkan karyawan Fadkhera dalam pengiriman produk ke agen, baik di pulau Jawa maupun di luar pulau Jawa.

“Saat pandemi, penjualan produk mengalami kenaikan karena konsumsi masyarakat beralih ke belanja online. Di sisi lain, kita dihadapkan pada masalah pengiriman produk. Bersyukur, ada layanan pengiriman yang mampu menembus dan menjangkau daerah-daerah yang sulit, seperti yang dilakukan JNE. Sehingga di tengah situasi yang sulit itu, seluruh agen Fadkhera tetap terkondisikan,” terangnya.

Produk layanan JNE seperti JNE Trucking (JTR) untuk layanan pengiriman bervolume besar, layanan instan kurir ROKET untuk lingkup dalam kota dan layanan pick up 24 jam menjadi solusi, titik terang dan sekaligus kunci bagi Fadkhera sehingga produk fashionnya bisa tersampaikan ke agen dan para penggemarnya meski pandemi Covid-19 belum berakhir.

“Kita selalu merekomendasikan JNE ke agen dan buyer saat menentukan ekspedisi yang akan dipakai meskipun keputusan akhir tetap ada pada mereka, prefer yang mana,” katanya.

Karyawan di divisi warehouse melakukan pengecekan produk Fadkhera sebelum dikirim ke agen mitra yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. (EDUWARA/CM Ida Tungga Gautama)

Pada akhirnya, pandemi berubah menjadi berkah bagi Fadkhera, dan tentu saja Wildan. Target Ramadan 2021 yang telah ditetapkan, akhirnya ‘pecah’. Stok Fadkhera di pusat maupun di semua agen habis terjual. Wildan pun tak lagi gamang melangkah. Ia terus berbenah.

Menurut Wildan, sudah banyak brand muslim, tapi belum ada yang benar-benar produknya ke arah fashion pria muslim modern. Karena itu, positioning brand menjadi penting untuk Fadkhera, apakah essential modern moslem wear, produk daily, tertuju ke arah pria muslim/urban atau produk apparel?

“Fadkhera harus bisa menjangkau kebutuhan muslim yang lebih luas. Selain itu, channel marketing juga harus saling terkoneksi, terintegrasi. Kemitraan dengan agen yang pasca pandemi berkembang menjadi offline dan online, juga harus mulai ditata lagi,” kata Wildan.

Jangan sampai tumbang

PR Regional Jawa Tengah-JTBNN JNE Express, Widiana, menjelaskan, saat pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia pada Maret 2020, JNE mengambil langkah strategis untuk membantu UMKM melalui berbagai program. Tujuannya, agar UMKM terus produktif saat pandemi.

Program-program tersebut, di antaranya layanan COD (Cash on Delivery) yang dapat dimanfaatkan baik seller maupun buyer, layanan JTR (JNE Trucking) khusus untuk kiriman dengan volume besar di atas 10 kg, dan layanan pick up 24 jam.  

Ada pula Fulfillment Center yang mencakup serangkaian proses pemenuhan pesanan produk dari para pelanggan. Proses fulfillment ini bisa dimulai dari penerimaan pemesanan hingga pengiriman produk sampai ke alamat penerima.  

Kemudian, layanan instan kurir ROKET dengan estimasi waktu pengantaran poin to poin maksimal satu jam. Sistem live tracking untuk melacak posisi paket dan multidrop untuk satu kali order ke lima titik pengantaran.   

“Pada saat awal pandemi, JNE juga memberikan diskon ongkos kirim hingga 50 persen untuk masker dan APD sebagai bentuk support kepada UMKM yang banyak bermanuver dari bisnis lama menjadi bisnis masker dan APD,” paparnya.  

Dukungan JNE juga diberikan dalam bentuk program-program menarik, seperti promo diskon ongkir, cashback, dan sebagainya. Harapannya, hal tersebut dapat mendorong minat masyarakat untuk berbelanja online sehingga meningkatkan penjualan UMKM.

Bagi JNE, kata Widiana, UMKM merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan JNE hingga menuju tahun ke-33. Terlebih sejak tahun 2010, bisnis online mulai berkembang melalui berbagai platform, hingga saat ini.

“Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 justru mengalami peningkatan. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,31 persen di tahun 2022 dan justru menjadi kenaikan tertinggi sejak tahun 2014. Salah satu sektor yang memberikan kontribusi adalah perdagangan,” papar Widiana.

Berkaca dari data tersebut, lanjut Widiana, sebagai perusahaan logistik yang tumbuh dan besar karena UMKM, JNE ingin terus memberikan dukungan, keberpihakan dan bersinergi kepada UMKM agar bersama-sama dapat menjadi penggerak ekonomi nasional.

Karena itu, ketika pemerintah menerapkan kebijakan PPKM selama pandemic Covid-19, JNE menjawab tantangan tersebut dengan melakukan improvisasi terhadap jalur distribusi maupun moda transportasi. Pembatasan wilayah tersebut mengakibatkan beberapa rute distribusi yang biasanya menggunakan moda transportasi udara dialihkan ke jalur darat atau laut agar tetap sampai di tujuan.

Kebijakan PPKM di beberapa wilayah saat pandemi juga mengharuskan JNE menghubungi para penerima kiriman untuk memastikan kebijakan penerimaan paket selama PPKM di wilayah masing-masing.

“JNE merupakan perusahaan logistik dengan bisnis model jaringan, sehingga dapat menjangkau hingga tingkat kelurahan bahkan pulau terluar di Indonesia. Ini jadi nilai tambah bagi JNE di tengah menjamurnya bisnis logistik karena tantangan bisnis logistik di Indonesia salah satunya adalah kondisi geografis Indonesia,” paparnya.

JNE juga memiliki pengalaman yang cukup dalam membangun jaringan di seluruh Indonesia, sehingga jalur distribusi di seluruh nusantara dapat dijangkau. Dalam rentang waktu 32 tahun lebih, JNE berhasil membangun jalur distribusi dengan armada sendiri sehingga tidak seluruhnya bergantung pada pihak ketiga.

“Estimasi waktu penyampaian kiriman dapat diperkirakan dan perjalanan setiap paket dapat dilacak dengan sistem yang sudah ada,” katanya.  

Kolaborasi dengan berbagai pihak, menurut Widiana, akan terus dilakukan oleh JNE. Tentu saja tujuannya agar JNE menjadi perusahaan terdepan di Indonesia dan berdaya saing global. Lebih dari itu, kolaborasi juga bertujuan untuk memberikan pengalaman terbaik bagi para pelanggan.

“Mengawali tahun 2023, JNE melakukan berbagai langkah kerja sama di antaranya, menggandeng salah satu lembaga survei untuk melakukan ‘Survey Brand Health‘ sehingga bisa menentukan langkah dan strategi yang tepat di tengah persaingan yang semakin ketat. Tujuannya, supaya JNE tetap bisa dan dapat bersaing menjadi perusahaan pengiriman dan logistik terdepan di Indonesia,” paparnya.

Tak hanya itu, JNE juga terus melakukan pengembangan maupun inovasi di internal bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta infrastuktur atau jaringan seperti Gateway, Gedung Operasional maupun titik layanan (counter/outlet).

JNE juga mengembangkan TIK melalui pengembangan website jne.co.id dan aplikasi MY JNE yang tersedia di google play store dan app store sehingga pelanggan dapat dengan mudah mendapatkan pengalaman terbaik, seperti mengecek status kiriman dan estimasi waktu, cek tarif pengiriman, mengetahui lokasi titik layanan JNE terdekat.

“Pelanggan juga dapat melakukan transaksi pembelian pulsa/data, token listrik, top up dompet digital dan transaksi pembayaran listrik, PDAM, BPJS Kesehatan, hingga TV kabel. Semua itu dapat dilakukan dengan mudah di dalam satu aplikasi MY JNE,” jelasnya. 

Wildan Salim dengan Fadkhera-nya juga berharap JNE akan selalu relevan dengan perubahan zaman, terutama terkait dengan perkembangan bisnis dan TIK yang berubah pesat. JNE harus bisa menggali kebutuhan masyarakat yang selalu berubah, dengan cara terus berinovasi dan relevan dengan zaman.

“JNE adalah karya anak bangsa. Saya pengin, jangan sampai karya anak bangsa ini tumbang atau mati. Bagaimanapun JNE harus tetap menjadi milik Indonesia. Kuncinya, JNE harus bisa melayani dengan memuaskan. Apalagi saat ini, persaingan di bawah diramaikan dengan brand-brand muda yang lebih inovatif. JNE harus bisa mengenali kelas UMKM dengan baik dan membuat layanan yang sesuai dan pas dengan kemampuan UMKM,” kata Wildan menutup perbincangan. (CM Ida Tungga Gautama).