Gagasan
18 Oktober, 2026 19:25 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Pada usia yang genap 41 tahun, hubungan bilateral sister province antara Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Prefektur Kyoto, Jepang, akan ditingkatkan dengan memperluas kerja sama melalui keterlibatan masyarakat (people-to-people contact/P-to-P), termasuk pelajar, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas budaya.
Dalam kunjungan ke Ritsumeikan University di Kyoto, awal Oktober 2026, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mendorong penguatan kerja sama yang melibatkan masyarakat, pelajar, perguruan tinggi, hingga pelaku usaha.
“Salah satu peluang adalah pertukaran pelajar SMA antara Yogyakarta dan Kyoto. Program tersebut perlu dirancang agar peserta memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang bermakna,” kata Sri Sultan Hamengku Buwono X, dikutip Minggu (18/10/2026).
Sri Sultan juga mengusulkan pembentukan lembaga kebudayaan Jepang di Yogyakarta. Lembaga ini diharapkan menjadi sumber informasi tentang sejarah, kebudayaan, dan pendidikan tinggi di Jepang. Masyarakat tidak hanya belajar bahasa Jepang, tetapi juga mengenal kebudayaan serta memperoleh informasi mengenai peluang pendidikan.
Keberadaan lembaga kebudayaan Jepang, menurut Sultan, tidak sekadar mengenal budaya dan sebagainya, tapi juga menyangkut potensi perguruan tinggi atau lembaga pendidikan yang lain yang setingkat itu, ada kemudahan untuk bisa lewat lembaga itu sebagai informasi.
Di bidang kebudayaan, Sri Sultan melihat peluang pertukaran pengetahuan untuk memperkuat pelestarian warisan budaya kedua wilayah. Kerja sama dapat mencakup upaya mempertahankan bangunan bersejarah dan tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat.
Kunjungan ke Nijo Castle dan Kyoto Museum of Crafts and Design menjadi bagian dari pembelajaran delegasi DIY mengenai pelestarian dan pengelolaan warisan budaya. Pengalaman Kyoto dinilai relevan dengan upaya menjaga Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO, sekaligus mengembangkan pemanfaatan warisan budaya secara berkelanjutan.
Koordinasi Teknis
Direktur Jenderal Urusan Kebudayaan Jepang, Koko Kawamura, menjelaskan Kementerian Kebudayaan Jepang bekerja sama dengan Prefektur Kyoto dan Kota Kyoto untuk mempromosikan kebudayaan tradisional Jepang. Upaya ini juga mencakup industri konten baru dan kebudayaan sehari-hari, termasuk kuliner khas Kyoto.
Kementerian Kebudayaan Jepang siap mendukung penyusunan program apabila rencana kerja sama memasuki tahap implementasi.
“Kementerian Kebudayaan Jepang tentu akan siap mendukung penuh dan bekerja sama, misalnya berkolaborasi dalam proyek pemugaran bangunan bersejarah, pelestarian cagar budaya, atau pengembangan industri konten kreatif baru. Ada banyak aspek kebudayaan yang bisa kita kerjasamakan,” ujarnya.
Gagasan pembentukan pusat kebudayaan Jepang di Yogyakarta juga dibahas bersama Agency for Cultural Affairs Jepang yang berkedudukan di Kyoto. Pengajuan resmi perlu ditempuh melalui Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, sementara Agency for Cultural Affairs dapat membantu koordinasi dan penyediaan materi yang relevan.
Peluang kerja sama pendidikan juga dapat dikembangkan melalui Ritsumeikan University. Perguruan tinggi di Kyoto tersebut memiliki pengalaman panjang dalam mempelajari tradisi musik Indonesia.
Ritsumeikan University juga memiliki jejaring internasional yang dapat mendukung pengembangan pendidikan. Universitas yang berdiri pada tahun 1900 tersebut memiliki lebih dari 36.000 mahasiswa, termasuk sekitar 3.300 mahasiswa internasional. Ritsumeikan menjalin kemitraan dengan 471 universitas dan lembaga di 69 negara dan wilayah, dengan 150 di antaranya menjadi mitra program pertukaran mahasiswa.
Tindak lanjut kunjungan akan diarahkan pada koordinasi teknis dengan Prefektur Kyoto dan lembaga terkait, termasuk juga pengembangan kerja sama pendidikan dan kebudayaan serta gagasan pusat kebudayaan Jepang.
Bagikan