Fikomm UMBY Bahas Perkembangan Musik di Timor Leste Pasca-Soeharto

29 Oktober, 2026 16:59 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

27102026-UMBY musik Timor Leste.jpg
Tangkapan layar Webminar Fikomm UMBY yang membahas Perkembangan Musik Kritis Pasca-Soeharto dan Pasca-Kemerdekaan Timor Leste. (EDUWARA/Dok. UMBY)

Eduwara.com, JOGJA - Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia (Fikomm Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) memperluas jejaring kolaborasi internasional melalui gelaran Webinar Internasional dan Literasi Budaya bekerja sama dengan Universidade Nacional Timor Lorosa’e (UNTL), Sabtu (10/10/206) secara daring. 

Program yang diinisiasi oleh Tim Pengabdian Fikomm UMBY ini mengangkat tajuk "Perkembangan Musik Kritis Pasca-Soeharto dan Pasca-Kemerdekaan Timor Leste". Inisiatif internasional ini berawal dari pandangan Fikomm UMBY bahwa budaya musik tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan, melainkan instrumen strategis dalam mempererat hubungan budaya antarnegara serta merekam jejak perjalanan sejarah suatu bangsa.

Dekan Fikomm UMBY, Didik Haryadi Santoso, menegaskan komitmen institusinya dalam menggarap ruang-ruang kajian budaya yang masih jarang tersentuh di tingkat lintas negara.

"Musik tak hanya soal hiburan, namun juga bisa merekam memori kolektif sebuah bangsa sekaligus membaca beragam relasi kuasa. Model kemitraan semacam ini akan terus kami tingkatkan dalam tema-tema strategis lainnya," ujar Didik Haryadi Santoso, dilansir pada Selasa (27/10/2026).

Narasumber lainnya yang berasal dari Fikomm UMBY, Tri Guntur Narwaya, menyoroti dinamika musik bertema protes dan kritik sosial yang mengiringi setiap fase transisi politik di Indonesia, khususnya era pasca-Orde Baru.

"Pasca-Orde Baru, perkembangan musik-musik protes mengalami perubahan dengan diksi dan pesan yang kian beragam. Secara kuantitas kelompok musik memang berkembang, namun energi kritik sosial mengalami perubahan yang signifikan," paparnya.

Media Refleksi

Dosen Ilmu Komunikasi UMBY tersebut juga menekankan bahwa tantangan ekosistem musik kritis saat ini tidak hanya berhadapan dengan kekuasaan negara, tetapi juga harus merespons cengkeraman logika algoritmik platform digital global.

Diskusi interaktif ini turut diperkaya oleh sudut pandang praktisi dan pengamat dari Timor Leste. Musisi sekaligus pengajar di Timor Leste, Jovi Batista, membagikan pengalamannya mengenai realitas industri musik di negaranya pasca-kemerdekaan yang masih didominasi tema-tema personal dan melankolis, sementara ruang bagi musik kritis masih sangat terbatas.

Melengkapi perspektif tersebut, Joao Dos Santos selaku pengamat musik dan konsultan pembangunan Lembaga Yesuit Timor Leste, menggarisbawahi pentingnya peran anak muda dalam memanfaatkan musik sebagai media refleksi atas isu kemiskinan dan keadilan sosial di era pasca-kemerdekaan.

Ketiga narasumber diskusi ini menyepakati bahwa ada relasi erat antara transformasi sosial politik sebuah bangsa dengan evolusi perubahan pada dinamika ekosistem musik kritis. Hubungannya tidak linier dan mekanis, namun juga menciptakan ruang-ruang perubahan ekosistem musik yang beragam, baik dalam jenis musik hingga artikulasi pesan yang dibangun.

Melalui keberhasilan penyelenggaraan acara ini, Fikomm UMBY kembali membuktikan peran aktifnya dalam membangun iklim akademik yang inklusif, responsif terhadap dinamika sosial-politik kawasan, serta konsisten menghadirkan ruang literasi budaya berdaya jangkau internasional.