Sains
31 Oktober, 2026 20:52 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

LOMBOK — Gunung Rinjani di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki pesona magis bagi para petualang. Bukan hanya buat para pendaki gunung, turunan setapak di kaki Gunung Rinjani juga menjadi magnet bagi penggemar sepeda gunung (MTB). Melalui jalan tanah dengan kontur menurun tajam, yang kadang berlubang dan banyak kotoran kerbau, adalah salah satu ciri khas trek sepeda di lereng Gunung Rinjani.
"Selama 4 tahun terakhir sudah 3 kali saya datang ke Lombok hanya untuk bermain (MTB) di Rinjani. Treknya penuh tantangan, variatif dan full adrenalin. Apalagi makanannya joss," ungkap Santoso Rais, seorang penghobi MTB dari Cikarang, Jawa Barat, usai melalui trek Rinjani dari jalur Bukit Tiga, Lombok, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Santoso Rais tak sendiri. Bersamanya datang puluhan penghobi sepeda gunung yang tergabung dalam komunitas Yeti Tribe Indonesia (YTI). Tribe (sebutan untuk anggota YTI) ini datang dari berbagai kota di Indonesia untuk menghadiri Gathering Nasional YTI tahun 2026 yang kali ini dipusatkan di Lombok, NTB pada 23-25 Oktober.
Kun Wahyu Winasis, Chief Yeti Tribe Indonesia (YTI) menjelaskan, Lombok dipilih sebagai lokasi Gathering National YTI 2026 karena memiliki beragam trek MTB dan tujuan wisatanya juga banyak. Seperti bermalam di Gili Trawangan, mengunjungi sirkuit balap Internasional Mandalika serta menikmati menu masakan lokal Ayam Taliwang bumbu plecing yang khas.
"Salah satu tujuan Gathering Nasional YTI ini adalah memperkuat silaturahmi anggota, sekaligus menikmati berbagai lokasi wisata di Lombok. Alhamdulillah semua berjalan lancar, para Tribe senang penuh kenangan. Tribe Lombok menyiapkan event ini dengan sempurna," jelas Kun Wahyu.
Sejak hari pertama, para Tribe sudah langsung disuguhi trek alam yang berkontur turunan dan cenderung cepat. Alam Lombok yang belum tersentuh hujan membuat sepanjang jalur trek Kumbi ini berdebu dan kadang menyulitkan pandangan. Tapi itulah nikmatnya bermain MTB. Walaupun ada risiko jatuh dan tabrakan, tetap saja sepeda dipacu penuh laju sambil teriak riang. Turunan, kelokan dan tanjakan menjadi cerita indah Trek Kumbi sepanjang 10 km sore itu.
"Trek Kumbi nyaman banget. Walaupun lebar jalan hanya setengah meter, tanahnya padat dan nggak ada bebatuan. Ajib pokoknya Lombok," ungkap Agni, Tribe asal Bogor yang baru 2 minggu pulih dari dislokasi bahu.
Memasuki hari kedua, para Tribe harus menikmati tanjakan terlebih dulu dari Bukit Tiga Sembalun menuju pos 1 jalur pendakian Rinjani. Start dari pos 1 menuju titik finish di Sembalun sepanjang 10km menghadirkan banyak cerita epik. Jalanan terjal, berdebu, turunan tajam, melewati hutan dengan jalur air yang penuh pohon dan kayu melapuk, menjadi kisah yang penuh arti bagi para Tribe.
"Pandangan tertutup debu jadi nggak bisa lihat kalau di depan ada lubang. Beberapa teman keliatannya jatuh, termasuk saya," cerita Mario asal Surabaya penuh tawa saat tiba di finish.
Tak kalah menarik adalah trek lumba-lumba sejauh 8km yang menghadirkan turunan dengan kontur berundak-undak. Dengan kecepatan 30-40km per jam, para tribe benar-benar harus fokus pegang kendali handlebar. Salah sedikit bisa berujung jatuh. Seperti yang dialami Hendro saat melalui sebuah tikungan dan terpeleset.
"Jatuh bangun main sepeda gunung itu biasa om. Yang penting jangan kabur saat diajak Gobar YTI, ha ha ha... kita gembira saja main sepedanya," ujar Hendro, salah satu senior di YTI.
Gathering Nasional YTI tahun ini juga disempurnakan dengan donasi ke beberapa lembaga sosial di lombok. Sepanjang periode 2025-2026, total donasi YTI ke berbagai lembaga amal dan sosial lebih dari Rp 100 juta.
Firadz Pariska, senior Tribe Lombok mengatakan, Lombok selalu terbuka untuk menyambut para penghobi MTB untuk menikmati tantangan beragam trek alam yang ada di daerah ini. Termasuk berbagai trek yang ada di lereng Gunung Rinjani. "Kami gembira bisa bersama-sama dengan teman-teman YTI memperkenalkan wisata MTB Lombok ke masyarakat. Harapan kami, Lombok akan selalu menjadi destinasi bagi semua penggila MTB, baik di Indonesia maupun dunia," ujar Firadz.
Sebagai moment penting bagi YTI, Gathering Nasional 2026 juga menjadi ajang pemberian penghargaan kepada sejumlah pihak yang telah berkontribusi dalam berbagai program YTI Diantaranya Lion Air Group, maskapai udara nasional yang memiliki jangkauan terluas di Indonesia ini telah menjadi patner YTI dalam berbagai event.
Lion Air Group juga menjadi sponsor utama YTI Racing Team, tim balap MTB, yang dibentuk oleh komunitas YTI. Bersama Lion Air Group dan sponsor lainnya, pembalap-pembalap YTIRT tahun ini sukses menjadi juara nasional di kelas men dan women youth serta runner up di kelas men elit pada ajang Indonesian Dowhill seri 2 di Pasuruan.
Selain Lion Air Group, penghargaan juga diberikan kepada Velo Cycle, Agung Podomoro Land, produsen kosmetik Eleende, Ginta Cargo, Fizz Hotel, Matchbook Supply Co dan Polaris. Sejumlah Tribe juga mendapatkan penghargaan berkat kontribusinya dalam berbagai event Gobar. Seperti Tribe Surabaya, Tribe Solo Jogja, Tribe Bandung, Tribe Pondok Cabe serta Tribe Lombok.
"Terima kasih kepada semua sponsor yang membuat event Gathering National YTI 2026 berjalan lancar. Kepada seluruh Tribe, semoga cerita baik di Lombok ini semakin menyatukan YTI sebagai komunitas yang solid, inklusif dan kelobaratif. Bersama YTI kita Tumbuh dan Bermanfaat," tutup Ical Hard, Sekjen YTI di malam puncak Gathering Nasional YTI 2026.
Tulisan ini telah tayang di halojatim.com oleh pada 31 Okt 2026
Bagikan