JMMK #18, Upaya Perkuat Ekosistem Kreatif di Yogyakarta

25 Oktober, 2026 19:01 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

25102026-ISI Wagub nonton pameran.jpg
Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X saat pembukaan pameran JMMK #18 yang diselenggarakan FSMR ISI Yogyakarta, di PAS Bantul, Jumat (23/10/2026). JMMK #18 menjadi komitmen ISI memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi seni yang aktif mengembangkan kreativitas, inovasi, dan praktik seni berbasis teknologi yang berdampak langsung ke masyarakat. (EDUWARA/Setyono)

Eduwara.com, JOGJA - Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menggelar pameran dan penayangan seni media rekam internasional bertajuk ‘Jalan Menuju Media Kreatif (JMMK) #18’. Pameran diselenggarakan di Pendhapa Art Space (PAS), Sewon, Bantul dan berlangsung Jumat-Kamis (23-29/10/2026).

Pertama kali dihadirkan di ruang publik, JMMK #18 menjadi komitmen ISI memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi seni yang aktif mengembangkan kreativitas, inovasi, dan praktik seni berbasis teknologi yang berdampak langsung ke masyarakat.

Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi mengatakan penyelenggaraan JMMK ke-18 yang mengusung tema “Re; Definition • Re; Interpretation • Re; Application”, menjadi salah satu upaya memperluas jejaring internasional.

“Tema tersebut mengajak seniman, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat untuk mendefinisikan kembali, menafsirkan ulang, serta mengeksplorasi penerapan seni dalam merespons perkembangan teknologi dan dinamika kehidupan kontemporer,” kata Irwandi saat pembukaan JMMK #18, Jumat (23/10/2026).

Sebagai ajang tahunan, JMMK konsisten menjadi wadah presentasi karya seni media rekam dari lingkungan akademik serta jejaring perguruan tinggi dan praktisi seni. Berbagai karya kreatif yang ditampilkan mendapatkan kesempatan diapresiasi oleh publik yang lebih luas, sekaligus membuka ruang dialog mengenai perkembangan estetika, teknologi, dan masa depan seni media rekam.

“Ajang ini bagian dari upaya memperkuat keterhubungan antara pendidikan tinggi seni, praktik penciptaan, perkembangan teknologi, dan kebutuhan industri kreatif,” lanjutnya.

Tak hanya itu, JMMK #18 juga memberikan peluang bagi mahasiswa dan dosen untuk memperluas wawasan artistik, membangun jejaring profesional, serta memperkenalkan praktik kreatif yang berkembang di lingkungan kampus kepada masyarakat nasional maupun internasional.

Ekosistem Kreatif

Penanggung Jawab Kegiatan Pameran dan Penayangan JMMK#18, Arif Sulistiyono, mengatakan kehadiran pameran internasional ini diharapkan turut memperluas akses publik terhadap karya seni media rekam, mendorong pertukaran pengetahuan, dan memperkuat ekosistem kreatif di Yogyakarta.

“Ada sebanyak 161 karya dari seniman yang berasal dari 12 negara yang meliputi berbagai disiplin seni media rekam, fotografi, film, televisi, seni video (video art), animasi, gim, dan konten digital,” katanya.

Menurut Arif, keberagaman medium tersebut mencerminkan perkembangan praktik seni kontemporer yang semakin terhubung dengan teknologi digital, komunikasi visual, dan industri kreatif. Pameran ini juga mendefinisikan ulang gagasan seni gagasan setelah adanya disrupsi teknologi yaitu Kecerdasan Buatan (AI).

Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, KGPAA Paku Alam X, yang hadir saat pameran, mendorong ISI Yogyakarta untuk terus menghadirkan kegiatan akademik, seni, dan budaya yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Setiap zaman memiliki cara tersendiri untuk merekam dunia. Namun, di tengah kecanggihan teknologi, terdapat pertanyaan mendasar yang patut kita renungkan. Apakah kemajuan cara merekam kehidupan telah berjalan seiring dengan kedalaman kita memahami kemanusiaan?” tanyanya.

Menurut Paku Alam X, tema "Re;Definition, Re;Interpretation, Re;Application" mengajak manusia meninjau kembali hakikat penciptaan seni, mendefinisikan ulang kemungkinan artistik, menafsirkan perubahan sosial melalui kepekaan estetis, serta menghadirkan karya yang memilliki kebermanfaatan nyata bagi kehidupan.

Bagi Paku Alam X, saat ini teknologi memperluas kemampuan manusia, sementara kebudayaan memberikan arah bagi penggunaannya. Kecanggihan dapat menghasilkan gambar yang semakin sempurna, tetapi kepekaan manusialah yang menjadikannya bermakna.

“Saya berharap Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta terus mengembangkan ekosistem penciptaan yang terbuka, kolaboratif, dan berakar pada kehidupan masyarakat. Perguruan tinggi seni hendaknya menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan, kreativitas, dan kebutuhan sosial,” tutupnya.