Sekolah Kita
29 Oktober, 2026 17:25 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Pengurus Yayasan De Britto memastikan penyusunan Kurikulum De Britto berfokus pada pembentukan karakter akademis siswa yang seimbang antara kedalaman moral, spiritual, dan sosial. Hal ini bertujuan agar ilmu pengetahuan diwujudkan secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
Rektor SMA Kolese De Britto, Agustinus Sugiyo Pitoyo SJ, menerangkan kurikulum yang bakal diterapkan kepada siswa khusus cowok ini terus memadukan kekhasan daerah Yogyakarta dengan nilai-nilai Serikat Jesus (SJ).
Sebelumnya, pengurus Yayasan De Britto telah beraudensi dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, untuk memperkuat sinergi antara Pemerintah Daerah (Pemda) DIY dengan lembaga pendidikan dalam mendampingi tumbuh kembang para siswa.
“Ngarsa Dalem sangat konsen dengan pendidikan karakter, 'pintar ora cukup'. Beliau tidak hanya memiliki kecintaan, tetapi juga kedalaman. De Britto juga ingin mendidik karakter akademis para siswa. Jika ada kurikulum yang khas, baik khas Jogja, khas nasional, maupun khas Romo-Romo SJ, Ngarsa Dalem mengajarkan bahwa ilmu itu tidak hanya dipikirkan, melainkan benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan nyata,” katan Agustinus, dikutip Selasa (27/10/2026).
Audiensi ini membahas penguatan kurikulum pendidikan karakter yang relevan dengan perkembangan teknologi, serta pola komunikasi anak muda masa kini. Dalam wejangannya, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengingatkan pentingnya peran orang tua dan pendidik untuk mau mengambil inisiatif membangun komunikasi dua arah dengan generasi muda melalui filosofi padi.
“Membangun komunikasi dengan generasi muda ini menjadi penting agar generasi pendahulu tidak ditinggalkan oleh mereka. Sekarang kita sebagai orang tua, bisa tidak mendidik dan berbicara dengan anak muda yang pemahamannya sudah berbeda karena jarak generasi?,” tanyanya.
Menyamakan Persepsi
Menurut Agustinus, jika yang tua-tua ini tidak mengambil inisiatif sendiri seperti filosofi padi untuk mau tetap berdialog dengan anak muda, apalagi dalam dunia pendidikan, itu artinya para orang tua bukan ingin menjadi pemuda, melainkan bagaimana kalangan orang tua mampu membangun dialog dengan anak muda.
Sri Sultan Hamengku Buwono X juga memberi perhatian pada pesatnya perkembangan gawai dan kecerdasan buatan (AI) yang telah mengubah cara berinteraksi di lingkungan keluarga maupun sekolah, sehingga para pendidik perlu ikut belajar memahami pergeseran tersebut. Namun, kondisi tersebut bukan untuk menumbuhkan konflik, melainkan bagaimana agar tetap bisa menyamakan persepsi.
“Cara berpikir anak muda sekarang sudah jauh berbeda. Menghadapi fenomena seperti ini, apakah orang tua harus marah atau justru perlu belajar? Ini adalah tantangan yang memang terjadi dan kita perlu belajar bersama,” tutur Sri Sultan.
Sri Sultan ingin memastikan proses belajar merupakan hal mendasar yang tidak pernah berhenti dan dapat terus diperkaya melalui perjumpaan serta pengalaman hidup bersama.
“Kalau saya, yang namanya belajar itu sesuatu yang penting. Ilmu itu tidak pernah akan habis. Jadi saya pun juga belajar. Karena dengan sama-sama belajar, itu bisa menambah ilmu dari pengalaman saat kita bergaul dengan orang lain. Jadi tidak mesti harus selalu membaca buku, dari pergaulan itu sendiri juga bisa menambah ilmu, yang penting ada kemauan untuk belajar,” pungkasnya.
Bagikan