Kampus
29 Oktober, 2026 18:59 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Berupaya membangun ruang bagi pemuda untuk berkembang, berorganisasi, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat, mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Angga Yudha, mengajak pemuda di kampungnya membentuk ‘Mitra Semesta’. Pada awalnya, Mitra Semesta bergerak di pengelolaan sampah, kemudian merambah aktivitas olahraga dan pendidikan.
Bermula pada 2022, Angga mengajak anak-anak muda di lingkungan Dusun Barongan, Desa Banyurejo, Kecamatan Tempel, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membahas dan peduli lingkungan, dengan lingkup persoalan bukan sekadar urusan memilah dan mengolah sampah.
“Saya kemudian menginisiasi organisasi sederhana bernama Mitra Semesta. Kami ingin melihat sampah dari sudut pandang berbeda. Bukan hanya sesuatu yang harus disingkirkan, sampah juga memiliki nilai ekonomi yang bisa menjadi sumber pemasukan bagi organisasi,” kata Angga Yudha dikutip Kamis (29/10/2026).
Berawal dari obrolan di tingkat Rukun Tetangga (RT), Angga bersama lima orang rekannya bersama memilih pengelolaan sampah. Setahun pertama menjadi masa belajar sekaligus uji coba untuk mengetahui bagaimana pengelolaan sampah bisa dilakukan oleh anak-anak muda di tengah kesibukan masing-masing.
Respons masyarakat yang cukup baik membuat mereka semakin yakin untuk melanjutkan kegiatan. Pada 2023, mereka mulai menata kepengurusan dan administrasi organisasi agar memiliki landasan yang lebih kuat.
Bagi Angga, keberadaan organisasi bukan hanya tentang nama atau susunan pengurus. Ada tujuan lebih besar yang ingin dicapai, yakni mengembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki para anggotanya.
Olahraga
Menjalankan kegiatan lingkungan bukan perkara mudah ketika para anggotanya memiliki kesibukan berbeda. Ada yang masih duduk di bangku SMA, kuliah, hingga bekerja. Karena itu, Mitra Semesta menyesuaikan waktu kegiatan dengan kesempatan yang dimiliki para anggota.
Pengambilan sampah biasanya dilakukan pada sore hari. Setelah itu, mereka melakukan pemilahan pada malam hari, terutama setelah waktu Isya, ketika sebagian besar anggota sudah menyelesaikan aktivitas masing-masing.
Kegiatan tersebut dilakukan secara mandiri. Mereka belajar mengelola sampah secara otodidak, mulai dari mengumpulkan hingga memilah sampah yang memiliki nilai jual.
Dari hasil penjualan sampah, Mitra Semesta memperoleh pemasukan sekitar Rp 300 ribu per bulan. Pemasukan tersebut menjadi salah satu alasan untuk menjaga kegiatan tetap berjalan. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai ternyata dapat menghasilkan uang dan membantu mengisi kas organisasi.
Namun, motivasi Angga tidak semata-mata soal ekonomi. Ia melihat pengelolaan sampah sebagai kegiatan yang bisa dilakukan secara berkelanjutan, sekaligus menjadi pintu masuk untuk membangun kepedulian lingkungan di kalangan pemuda.
“Walaupun berbentuk sampah, ternyata sampah ini bisa menghasilkan uang. Salah satunya bisa menjadi pemasukan rutin untuk kas organisasi,” tuturnya.
Hal yang menarik dari Mitra Semesta adalah aktivitasnya tidak berhenti pada pengelolaan sampah. Angga ingin organisasi tersebut menjadi wadah untuk mengembangkan kemampuan para anggota sesuai dengan bidang yang mereka kuasai.
Di antara para anggota, terdapat anak muda yang memiliki ketertarikan dan kemampuan di bidang olahraga maupun pendidikan. Potensi itulah yang ingin dikembangkan agar organisasi tidak hanya berfokus pada satu kegiatan.
Dari bidang olahraga, mereka mulai menyelenggarakan turnamen sepak bola untuk kelompok usia muda. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendukung perkembangan bibit-bibit pesepak bola sekaligus membangun karakter anak-anak melalui olahraga.
Angga menyebut turnamen itu telah digelar dua kali. Pada penyelenggaraan pertama, kompetisi diikuti sekitar 64 tim. Sementara pada penyelenggaraan kedua, jumlah pesertanya sekitar 50 tim.
Penyelenggaraan turnamen juga membutuhkan persiapan yang tidak sebentar. Mereka harus mengurus administrasi, surat-menyurat, perizinan, hingga menyesuaikan jadwal dengan agenda kompetisi lain.
Angga mengatakan, turnamen yang mereka selenggarakan telah melibatkan mekanisme resmi melalui Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI, termasuk sertifikat bagi para juara yang dilengkapi pengesahan dari asosiasi tersebut.
Pendidikan
Bagi Angga, penyelenggaraan turnamen menjadi pengalaman penting bagi para anggota untuk belajar mengelola kegiatan secara lebih tertata dan profesional. Mereka tidak hanya belajar mengorganisasi acara, tetapi juga membangun komunikasi dengan berbagai pihak.
“Di ajang ini, di depan perwakilan pemerintah dan asosiasi sepak bola. Saya resmi memperkenalkan Mitra Semesta sebagai organisasi yang berangkat dari pengelolaan sampah, tetapi kemudian mengembangkan kegiatan di bidang olahraga,” ujarnya.
“Misalnya ada anggota yang mampu di bidang olahraga, kita kembangkan. Selain itu, kita juga ingin mengembangkan bibit-bibit unggul sepak bola di Indonesia. Menurut saya, hubungan antara sampah dan sepak bola mungkin terdengar tidak biasa. Tapi keduanya memiliki benang merah: pengembangan manusia,” jelasnya.
Selain olahraga, pendidikan menjadi bidang lain yang mulai mereka jajaki. Pada 2024, Mitra Semesta pernah menyelenggarakan lomba menggambar dan mewarnai bagi anak-anak usia dini, mulai dari PAUD hingga sekolah dasar (SD).
Kegiatan itu berangkat dari potensi anggota yang memiliki latar belakang dan ketertarikan di bidang pendidikan. Angga melihat peluang untuk memperluas kegiatan serupa karena pendidikan anak usia dini memiliki ruang pengembangan yang cukup besar.
Baginya, keberagaman kemampuan anggota merupakan modal yang bisa dimanfaatkan untuk memperluas manfaat organisasi. Mitra Semesta tidak harus terpaku pada satu jenis kegiatan selama masih memiliki sumber daya manusia yang mampu menjalankannya.
Meski begitu, Angga menyadari bahwa memperluas kegiatan membutuhkan perencanaan dan tenaga yang memadai. Keinginan untuk mengembangkan organisasi hingga tingkat kelurahan belum sepenuhnya mudah diwujudkan karena keterbatasan waktu para anggota.
Dukungan pemerintah terhadap kegiatan Mitra Semesta, terutama dalam hal perizinan, juga menjadi salah satu modal bagi mereka untuk melanjutkan program. Angga berharap dukungan tersebut dapat membantu kegiatan organisasi berjalan lebih baik pada masa mendatang.
Untuk 2027, mereka merencanakan dua kegiatan di bidang olahraga. Salah satunya adalah Athletic Kids, program yang dirancang untuk anak-anak dan didukung oleh anggota yang memiliki pengalaman sebagai pelatih di Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI).
Bagikan