Kampus
28 Juli, 2026 19:53 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mengajak kalangan arsitek untuk terlibat dalam penataan kawasan permukiman melalui program ‘Satu Kampung Satu Arsitek’. Ajakan ini didukung kalangan perguruan tinggi dengan mengajak pelajar SMA berpartisipasi dalam pengembangan kawasan hijau bersama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Gagasan yang disampaikan Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, tersebut merupakan upaya untuk mewujudkan kampung sebagai ruang kehidupan masyarakat, yang bukan sekadar kawasan hunian, melainkan tempat tumbuhnya nilai sosial, budaya, kreativitas, dan kemandirian warga.
"Kampung bukan hanya ruang hunian, tetapi ruang kehidupan. Kalau kampungnya baik, maka kotanya juga akan berkembang dengan baik," kata Hasto Wardoyo, Senin (27/7/2026).
Kota Yogyakarta memiliki identitas budaya yang kuat sehingga penataan lingkungan harus tetap mempertahankan karakter lokal. Program Satu Kampung Satu Arsitek diharapkan mampu menghadirkan kawasan permukiman yang tidak hanya bersih dan sehat, tetapi juga indah serta memiliki nilai estetika.
Hasto berharap kolaborasi lintas sektor dapat menjadikan Kota Yogyakarta sebagai contoh nasional dalam penataan kampung berbasis budaya, keberlanjutan, dan partisipasi masyarakat.
Sementara itu, dukungan diberikan Program Studi Arsitektur, Departemen Arsitektur Fakultas Teknik (FT) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang mengajak pelajar SMA Negeri 6 Yogyakarta mewujudkan Green Eco School Assistance. Sebuah program yang bertujuan mendorong generasi muda untuk mengembangkan gagasan desain yang kreatif dan partisipatif dalam mewujudkan ruang terbuka hijau di Kampung Terban (RW 06), Yogyakarta.
Program ini diselenggarakan di SMA Negeri 6 Yogyakarta dalam tiga tahap, yaitu tahap pertama pada Rabu (15/7/2026), tahap kedua pada Jumat (17/7/2026), dan tahap ketiga pada Jumat (24/7/2026).
Kepala SMAN 6 Yogyakarta, Sri Moerni, mengapresiasi kolaborasi tersebut karena bukan hanya mampu memperkaya pengalaman belajar siswa di luar kelas, tetapi juga menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab terhadap pengelolaan lingkungan.
"Melalui kegiatan ini, kami meyakinkan pada anak-anak bahwa kamu bisa, kamu punya potensi, kamu hebat," katanya.
Soko Sekar
Sri Moerni menambahkan pendampingan dari UAJY menjadi pengalaman yang membanggakan sekaligus memotivasi siswa untuk terus berkontribusi dalam menjaga, melestarikan, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Pada tahap pertama program ini, dilakukan pertemuan daring yang berisi pembukaan program, pemaparan rangkaian kegiatan, serta pengenalan metode Knowledge Junction (KJ) sebagai bekal pelaksanaan survei lapangan. Pada tahap kedua, dilakukan kegiatan survei lapangan di Kampung Terban, dilanjutkan lokakarya analisis hasil survei, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pengolahan data visual, serta penyusunan konsep dan draft poster.
Pada tahap ketiga, dilakukan presentasi hasil rancangan menggunakan format Pecha Kucha, yang dilanjutkan dengan sesi penilaian oleh dewan juri, diskusi, serta pengumuman pemenang sebagai penutup rangkaian program.
Ketua IAI DIY, Erlangga Winoto, mengatakan IAI DIY siap mendukung penuh program Pemerintah Kota Yogyakarta. Menurutnya, arsitek memiliki tanggung jawab tidak hanya sebagai profesi, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang ikut membangun kualitas lingkungan.
Erlangga menjelaskan konsep Satu Kampung Satu Arsitek diibaratkan sebagai ‘Soko Sekar’. Dalam filosofi Jawa, soko berarti tiang penyangga yang menjadi struktur utama bangunan, sedangkan sekar melambangkan keindahan. Filosofi tersebut menggambarkan peran arsitek yang tidak hanya menghadirkan estetika, tetapi juga memastikan bangunan dan kawasan memiliki fungsi, keamanan, serta keberlanjutan.
"Arsitek harus hadir sebagai penyangga sekaligus memperindah. Tugas kami bukan sekadar membuat bangunan yang cantik, tetapi juga memastikan bangunan memiliki keandalan dan memberi manfaat bagi masyarakat," pungkasnya.
Bagikan