Kampus
13 September, 2026 19:59 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta resmi menghadirkan Program Studi (Prodi) Sarjana Terapan Teknologi Produksi Halal (Diploma IV/Vokasi) yang bernaung di Fakultas Sains dan Teknologi (FST). Ini merupakan pendidikan vokasi untuk menyiapkan talenta, membuka ruang riset, dan memperluas inovasi sehingga menambah daya saing industri halal Indonesia.
“Prodi Sarjana Terapan Teknologi Produksi Halal merupakan program sarjana terapan pertama di lingkungan UIN Sunan Kalijaga, sekaligus dirancang untuk menjawab kebutuhan industri halal yang makin kompleks dan lintas sektor,” kata Rektor UIN Sunan Kalijaga, Noorhaidi Hasan, dikutip Minggu (13/9/2026).
Menurut Noorhaidi, pendidikan tinggi tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan teoritis, tetapi juga perlu memberikan kompetensi praktis yang dapat diterapkan secara langsung di tengah masyarakat dan dunia industri. Karena itu, UIN Sunan Kalijaga membuka peluang untuk terus mengembangkan pendidikan terapan pada bidang-bidang strategis lainnya.
“Ini bisa menjadi awal untuk pengembangan program-program studi terapan lainnya. Ke depan, bukan tidak mungkin kita mengembangkan Fakultas Vokasi,” tambahnya.
Dekan FST UIN Sunan Kalijaga, Khurul Wardati, mengatakan Prodi Teknologi Produksi Halal dirancang bukan sekadar untuk menghasilkan lulusan dengan pengetahuan tentang halal, tetapi untuk membangun kompetensi yang menghubungkan aspek sains, teknologi, produksi, sertifikasi, hingga kebutuhan industri.
Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pusat industri halal dunia. Selain didukung oleh populasi Muslim yang besar, Indonesia juga memiliki kerangka regulasi melalui Undang-Undang Jaminan Produk Halal serta ekosistem industri dan pendidikan yang terus berkembang.
“Program studi ini diharapkan menjadi wadah integrasi antara riset, sertifikasi, industri, dan pengembangan sumber daya manusia vokasi halal,” jelasnya.
Ekosistem Halal
Dari sisi hulu, mahasiswa akan diarahkan untuk memahami berbagai persoalan produksi halal, mulai dari riset bahan dan alternatif bahan yang memenuhi standar halal, proses pemeriksaan dan audit, hingga pengembangan serta inkubasi usaha mikro, kecil, dan menengah.
Sementara dari sisi hilir, kompetensi diarahkan pada pengembangan bisnis, business matching, akses pasar dan ekspor, serta penerapan teknologi untuk memastikan keterlacakan atau traceability produk halal.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan vokasi halal diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia yang tidak hanya memahami prinsip halal secara normatif, tetapi juga memiliki kemampuan teknis untuk mengimplementasikannya dalam proses produksi dan industri.
Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan, menekankan perkembangan industri halal membuka peluang yang jauh lebih luas daripada sekadar sektor makanan dan minuman. Menurut Haikal, sertifikasi halal kini berkembang ke berbagai sektor, termasuk barang gunaan, tekstil, fesyen, dan produk nonpangan lainnya.
Perkembangan tersebut menghadirkan peluang sekaligus kebutuhan terhadap tenaga profesional yang memahami proses pemeriksaan, sertifikasi, dan pengembangan produk halal. Haikal mendorong perguruan tinggi untuk memperkuat riset dan pengembangan halal secara lebih serius.
Keberadaan pusat halal di lingkungan kampus, menurut Haikal, dapat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem halal yang menghubungkan pendidikan, penelitian, sertifikasi, dan industri.
Dalam paparannya, Haikal juga mengingatkan agar pemahaman mengenai halalan tayyiban tidak dipersempit hanya pada persoalan ada atau tidaknya unsur babi, lemak babi, maupun alkohol. Prinsip tayyib juga berkaitan dengan aspek kebaikan, kesehatan, keamanan, transparansi, dan proses produksi yang bertanggung jawab.
“Perspektif tersebut menunjukkan bahwa industri halal merupakan bidang yang makin luas dan membutuhkan pendekatan multidisipliner, mulai dari sains dan teknologi, regulasi, manajemen, ekonomi, hingga pengembangan sumber daya manusia,” pungkasnya.
Bagikan