Kampus
28 Juli, 2026 21:09 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA – Di tengah derasnya arus globalisasi, menguatnya eksklusivisme, dan berbagai tantangan kebangsaan, Pancasila tidak cukup diajarkan secara legalistik maupun indoktrinatif. Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta bertekad pendidikan Pancasila harus dihadirkan melalui perspektif integratif, interkonektif dan transformatif sehingga benar-benar hidup dalam seluruh proses pembelajaran.
Melalui Simposium Nasional Pendidikan Pancasila yang berlangsung Senin (27/7/2026), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berkomitmen terus memperkuat pendidikan Pancasila. Bertema 'Melalui Integrasi Ilmu, Spiritualitas, dan Kebangsaan: Penguatan Ideologi Pancasila dalam Perspektif Integratif, Interkonektif, dan Transformatif', simposium ini diselenggarakan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui Centre for Integrative, Interconnected, and Transformative Studies (CIINTRA) bekerja sama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
Direktur CIINTRA UIN Sunan Kalijaga sekaligus Ketua Panitia, Eva Latipah, menyampaikan nilai-nilai Pancasila harus dihidupkan sebagai landasan etik yang membentuk cara berpikir, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta menyelesaikan persoalan masyarakat.
“Tantangan terbesar Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi bukan lagi pada kemampuan mahasiswa menghafal lima sila, melainkan bagaimana nilai-nilai tersebut mampu diinternalisasikan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari maupun praktik profesional," jelas Eva, Selasa (28/7/2026).
Menurut Eva, Pendidikan Pancasila harus bergeser dari pendekatan normatif menuju pembelajaran yang mampu menghubungkan nilai-nilai Pancasila dengan persoalan nyata di berbagai bidang, mulai dari kesehatan, teknologi, ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan.
“Mahasiswa tidak cukup hanya menghafal Pancasila. Nilai-nilai Pancasila harus menjadi cara berpikir, cara mengambil keputusan, sekaligus menjadi landasan etis dalam setiap disiplin ilmu,” ujarnya.
Eva menjelaskan, kehadiran CIINTRA merupakan bagian dari ikhtiar UIN Sunan Kalijaga untuk mengembangkan paradigma integratif, interkonektif, dan transformatif, yaitu mempertemukan ilmu pengetahuan, spiritualitas, kemanusiaan, dan kebudayaan dalam satu kerangka keilmuan yang utuh. Dalam paradigma tersebut, Pancasila ditempatkan sebagai horizon of ethics yang membimbing pengembangan ilmu sekaligus transformasi sosial.
“Ilmu tidak boleh berhenti pada gagasan. Ilmu harus mentransformasikan cara berpikir, cara bertindak, dan cara menyelesaikan persoalan masyarakat. Melalui simposium ini kami berharap lahir model Pendidikan Pancasila yang integratif sehingga nilai-nilainya hadir dalam seluruh bidang keilmuan,” tambahnya.
Identitas Kampus
Rektor UIN Sunan Kalijaga, Noorhaidi Hasan, menegaskan penyelenggaraan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen UIN Sunan Kalijaga dalam memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pengembangan ideologi Pancasila melalui pendekatan keilmuan yang menjadi identitas kampus.
Noorhaidi memberikan penghormatan kepada dua tokoh yang memiliki peran besar dalam perjalanan UIN Sunan Kalijaga, yakni M Amin Abdullah (Rektor UIN Sunan Kalijaga periode 2001-2010) dan Yudian Wahyudi (Rektor periode 2016-2024).
Kedua tokoh tersebut dinilai telah meletakkan fondasi kuat bagi perkembangan UIN Sunan Kalijaga melalui kepemimpinan yang visioner pada masanya. Amin Abdullah dikenal sebagai penggagas paradigma integrasi-interkoneksi keilmuan yang menjadi identitas akademik UIN Sunan Kalijaga. Sementara Yudian Wahyudi memperkuat transformasi kelembagaan, internasionalisasi, dan peningkatan daya saing kampus.
“Berkat kontribusi keduanya, UIN Sunan Kalijaga terus berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi Islam terbaik di Indonesia,” katanya.
Noorhaidi juga menyinggung capaian terbaru UIN Sunan Kalijaga yang berhasil menempati posisi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) terbaik di Indonesia berdasarkan Webometrics serta memperoleh pengakuan internasional melalui Times Higher Education (THE) Impact Rankings. Capaian tersebut merupakan buah dari konsistensi UIN Sunan Kalijaga dalam mengembangkan paradigma integrasi ilmu yang kini memperoleh pengakuan di tingkat global.
"Pancasila bukan sekadar ideologi negara, melainkan filosofi dasar kehidupan berbangsa sekaligus kompas moral yang telah menjaga keutuhan Indonesia selama puluhan tahun sebagai bangsa yang majemuk," ucapnya.
Noorhaidi menambahkan, UIN Sunan Kalijaga ingin memberikan kontribusi yang lebih nyata dengan menghadirkan nilai-nilai Pancasila dalam seluruh proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, Pancasila tidak hanya dipelajari dalam satu mata kuliah, tetapi menjadi perspektif yang mewarnai seluruh disiplin ilmu.
Kepala BPIP, Yudian Wahyudi, mengajak perguruan tinggi belajar dari sejarah peradaban dunia. Menurutnya, kemunduran suatu bangsa terjadi ketika ilmu pengetahuan dan teknologi dipisahkan dari nilai-nilai agama. Sebaliknya, kemajuan hanya dapat dicapai melalui integrasi antara penguasaan sains, riset, dan moralitas.
Yudian mengulas sejarah peradaban Islam di Andalusia yang mengalami kemunduran ketika tradisi keilmuan eksperimental dan teknologi ditinggalkan. Dari pengalaman sejarah tersebut, Indonesia harus memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa melepaskan fondasi nilai-nilai Pancasila dan agama.
“Ilmu, agama, dan riset harus berjalan bersama. Bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi bangsa yang memimpin peradaban,” katanya.
Menurut Yudian, PTKIN, khususnya UIN Sunan Kalijaga, memiliki posisi strategis dalam melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga menguasai sains, teknologi, dan memiliki karakter kebangsaan yang kuat. Paradigma integrasi keilmuan yang dikembangkan UIN Sunan Kalijaga dinilainya menjadi fondasi penting dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai bangsa maju pada masa depan.
Bagikan