
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Kabupaten Bantul dan Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terus mendorong perluasan akses pendidikan anak usia dini melalui implementasi wajib belajar satu tahun pendidikan prasekolah. Program wajib belajar satu tahun pendidikan prasekolah ini dikemas dalam bentuk kegiatan Sambang Prasekolah.
Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dikpora) Bantul, Edy Sutrisno, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan pemerintah pusat kepada daerah untuk mengawal implementasi wajib belajar 13 tahun, termasuk satu tahun pendidikan prasekolah.
“Kami dari Dinas Dikpora mendapat kepercayaan dari pemerintah pusat untuk melakukan advokasi sekaligus sosialisasi implementasi dari wajib belajar 13 tahun, satu tahun prasekolah yang secara masif kami laksanakan di 17 kapanewon,” kata Edy, dikutip Jumat (9/10/2026).
Menurut Edy, implementasi kebijakan tersebut tidak hanya berbicara mengenai kewajiban anak mengikuti pendidikan prasekolah, tetapi juga bagaimana memastikan layanan PAUD dapat diakses sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak.
“Harapan kami bahwa kegiatan ini bagaimana kita bisa melakukan perluasan tentang akses terhadap layanan prasekolah sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak,” katanya.
Karena itu, sosialisasi dan advokasi melibatkan berbagai unsur yang memiliki peran dalam mendukung pendidikan anak usia dini. Mulai dari panewu, lurah, Bunda PAUD kalurahan, dukuh, organisasi mitra, PP-PAUD, hingga unsur dunia usaha dan dunia industry, turut dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
Bunda PAUD Bantul, Emi Masruroh, mengatakan, saat ini Bantul memiliki 551 TK/sederajat, 502 Kelompok Bermain (KB)/sederajat, 63 Taman Penitipan Anak (TPA), dan 225 Satuan PAUD Sejenis (SPS). “
Dengan jumlah tersebut, Bantul memiliki lebih dari 1.000 satuan PAUD dan menjadi kabupaten dengan jumlah satuan PAUD terbanyak kedua di DIY setelah Sleman yang memiliki satuan PAUD terbanyak,” paparnya.
Asta Cita
Emi menjelaskan kebijakan wajib belajar satu tahun prasekolah merupakan bagian dari upaya menerjemahkan Asta Cita melalui berbagai program prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Kebijakan tersebut diarahkan untuk memastikan setiap anak usia 5–6 tahun mendapatkan akses dan berpartisipasi dalam satuan PAUD yang berkualitas.
“Implementasinya tidak dapat dilepaskan dari dukungan keluarga, masyarakat, dan anak itu sendiri,” katanya.
Menurut Emi, terdapat sejumlah alasan penting mengapa pendidikan prasekolah menjadi perhatian dalam kebijakan wajib belajar. Di antaranya, memusatkan perhatian pada usia kritis anak dalam masa transisi menuju sekolah dasar (SD), mengoptimalkan fleksibilitas serta peran orang tua, berlandaskan kebijakan yang telah disepakati secara nasional, dan sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Emi juga menegaskan pentingnya pendidikan anak usia dini dalam mempersiapkan anak memasuki jenjang pendidikan dasar. “Anak yang mengikuti PAUD memiliki kompetensi literasi numerasi dasar serta kesiapan psikologis yang lebih baik daripada anak yang tidak mengikuti PAUD,” ungkapnya.
Emi memaparkan, berdasarkan hasil riset dan kajian Kemendikdasmen terkait pentingnya pendidikan anak usia dini, sebanyak 78 persen anak PAUD disebut memiliki kesiapan kognitif dan sosial yang lebih tinggi dibandingkan 45 persen anak yang tidak mengikuti PAUD.
Bupati Gunungkidul sekaligus Bunda PAUD Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, memastikan pihaknya menaruh perhatian besar pada pembangunan sumber daya manusia melalui program prioritas “Bocah Pinter”. Ini sebuah program untuk memastikan pemerataan kualitas pendidikan dan menjamin tidak ada anak di Gunungkidul yang tertinggal dalam mendapatkan layanan PAUD yang layak.
Selain itu, Endah juga mengingatkan pentingnya peran ibu dan keluarga sebagai tempat pendidikan karakter yang paling utama, merujuk pada pesan Bung Karno bahwa perempuan adalah tiang negara. Kepada anak-anak PAUD, ia berpesan agar tidak takut bermimpi dan terus semangat belajar.
“Prioritas ‘Bocah Pinter’ bertujuan memanfaatkan masa keemasan (golden age) usia 1-6 tahun di mana 80 persen otak anak berkembang serta menanamkan nilai kemandirian, karakter, dan rasa cinta tanah air sejak dini. Apa yang kita tanamkan pada jiwa anak-anak hari ini akan menjadi fondasi nilai, pembentukan kepribadian, dan karakter mereka sepanjang hayat,” tegasnya.