logo

Kampus

Bersama UAD, Desa Caturharjo Bantul Hadirkan Laboratorium Terpadu Penanganan Sampah

Bersama UAD, Desa Caturharjo Bantul Hadirkan Laboratorium Terpadu Penanganan Sampah
Sejumlah mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tengah melakukan proses pengambilan gambar video pengelolaan sampah di TPA Caturharjo, Pandak, Bantul. Usai meraih kemandirian sampah, Desa Caturharjo menghadirkan laboratorium terpadu penanganan bersama UAD. (EDUWARA/K. Setyono)
Setyono, Kampus05 Agustus, 2023 23:50 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Berhasil mewujudkan pengelolaan sampah mandiri, Pemerintah Desa Caturharjo, Pandak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta berencana menghadirkan laboratorium terpadu penanganan sampah.

Bersama tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, laboratorium ini akan menjadi sarana pembelajaran bagi siswa sekolah.

Kepala Desa Caturharjo, Wasdiyanto, menuturkan keberhasilan pihaknya meraih status mandiri pengelolaan sampah tidak lepas dari peran UAD dalam menyosialisasikan penanganan sampah di masyarakat.

"Langkah pertama kolaborasi ini membuat tempat pengelolaan sampah terpadu tingkat desa yang memanfaatkan bekas area SMP Muhammadiyah yang ditelah dihibahkan ke desa," kata Wasdiyanto, Sabtu (5/8/2023).

Dari sini, lanjut Wasdiyanto, proses edukasi mengenai pemilahan sampah ke masyarakat bergulir sejak setahun lalu dan mulai diintensifkan. Masyarakat oleh mahasiswa diajak untuk melakukan pemilahan mandiri.

Kemudian, dari sisi manajemen persampahan, mahasiswa UAD membentuk Rumah Kumpul Sampah (RKS) di masing-masing pedukuhan. RKS ini berfungsi untuk membeli dan menampung sampah daur ulang dari masyarakat. 

Sedangkan untuk sampah basah, pihak desa meminta masyarakat membuangnya di lubang galian di pekarangan rumah.

"Tahun ini, kami sudah menganggarkan pendanaan pembuatan 5.000 lubang sampah di halaman rumah warga. Kami yakin masyarakat akan memanfaatkannya untuk pembuangan sampah basah, karena hampir seluruh warga sudah memilah sampah," terang Wasdiyanto.

Liquid Smoke

Untuk sampah sisa atau residu di TPA Caturharjo akan dimusnahkan melalui proses pembakaran yang uapnya ditampung menjadi liquid smoke. Di pasaran liquid smoke ini memiliki harga jual tinggi. Seliternya bisa mencapai Rp 10 juta. Ini merupakan bahan untuk parfum.

"Masih bersama UAD, kami berencana menghadirkan laboratorium penanganan sampah di TPA Caturharjo. Nantinya, laboratorium ini bisa menjadi media pembelajaran bagi anak-anak sekolah," ungkapnya.

Dosen Program Studi Pendidikan dan Sastra Indonesia FKIP UAD, Dedi Wijayanti, yang menjadi pendamping di Caturharjo, menjelaskan UAD konsen pada permasalahan sampah untuk mendukung gerakan Bantul Bebas Sampah 2025.

"Sejak bergulirnya program, kami konsen membantu Pemerintah Kabupaten Bantul dalam pengelolaan sampah di tingkat desa," katanya 

Desa menjadi pilihan pertama edukasi soal sampah, karena selama ini masyarakat desa minim mendapatkan pelatihan tentang pengelolaan sampah.

Usai memandirikan penanganan sampah di tingkat warga, lanjut Dedi, tiba saatnya edukasi persampahan harus disebarluaskan. Salah satunya, melalui laboratorium terpadu penanganan sampah di Caturharjo.

Alur edukasi sampah ini akan bermula dari pengenalan jenis sampah yang bisa laku jual dan bisa didaur ulang, kemudian sampah organik dan residu.

"Lalu pengunjung akan diperkenalkan berbagai alat-alat yang digunakan. Selain mesin pemilah, Caturharjo juga telah mengoperasikan mesin pembakar sampah sumbangan warga Bantul," ujarnya.

Selain membantu dalam manajemen persampahan, mahasiswa UAD juga menyosialisasikan pengelolaan sampah lewat video yang menarik.

Read Next