logo

Gagasan

Buku 'Tahta, Darma, dan Karsa' Abadikan Pemikiran dan Keteladanan Sultan HB IX

16 Agustus, 2026 12:20 WIB
Buku 'Tahta, Darma, dan Karsa' Abadikan Pemikiran dan Keteladanan Sultan HB IX
Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyerahkan buku berjudul 'Tahta, Darma, dan Karsa': Pemikiran, Karya, dan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX’ pada peringatan Hari Pramuka 2026, di Auditorium Sukarman Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026). Peluncuran buku 'Tahta, Darma, dan Karsa', yang ditulis Harto Juwono dan Anis Ilahi Wahdati, ini menjadi momentum untuk membangun kembali semangat kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, dengan Pramuka sebagai sarananya. (EDUWARA/Dok. Kemdikdasmen)

Eduwara.com, JOGJA - Peringatan Hari Pramuka 2026 menjadi momentum tepat membangun semangat integrasi bangsa, khususnya dengan realitas tantangan pada generasi saat ini yang mengalami degenerasi nilai-nilai kehidupan.

Kehadiran buku 'Tahta, Darma, dan Karsa', karya yang menceritakan biografi ‘Bapak Pramuka Indonesia’ Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dianggap sebagai sarana membangun kembali semangat kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, dengan Pramuka sebagai sarananya.

Benang merah inilah yang terangkum dalam acara peluncuran buku 'Tahta, Darma, dan Karsa': Pemikiran, Karya, dan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX’, yang ditulis Harto Juwono dan Anis Ilahi Wahdati pada peringatan Hari Pramuka 2026, di Auditorium Sukarman Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengungkapkan rasa syukur atas diluncurkan buku ini. Menurutnya, sudah menjadi kegelisahan di kementerian atas realitas tantangan pada generasi saat ini yang mengalami degenerasi nilai-nilai kehidupan.

"Ajaran-ajaran mulia dari para tokoh pendiri bangsa, tidak lagi tumbuh di kalangan anak-anak kita. Karena itulah, melalui buku ini, saya antusias untuk kita semua bersama-sama membangunkan kembali semangat kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, dengan Pramuka sebagai sarananya," ungkapnya.

Abdul Mu'ti menjelaskan, Kemendikdasmen telah mengambil kebijakan Pramuka menjadi ekstrakurikuler wajib di seluruh jenjang pendidikan di tanah air. Hal ini karena Dasa Darma Pramuka, yang berdasarkan pada Pancasila, perlu ditanamkan pada generasi muda Indonesia.

"Kehadiran buku ini menjadi sangat penting untuk mengingatkan kita kembali akan semangat untuk membangun integrasi bangsa. Maka dengan semangat Hari Pramuka, peluncuran buku ini menjadi sangat tepat dan menjadi sangat bermakna demi kedaulatan bangsa Indonesia," imbuhnya.

Buku 'Tahta, Darma, dan Karsa' hadir bukan sebagai buku biografi, melainkan buku sejarah pemikiran Sri Sultan Hamengku Buwono IX selama dua dekade (1941-1961) perjuangan Gerakan Pramuka Indonesia.

Watak Pemimpin

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono, menyebut Sri Sultan Hamengku Buwono IX pernah menegaskan bahwa kepanduan Indonesia dibangun di atas semangat pengabdian tanpa pamrih. Hal ini disampaikan beliau ketika berpidato di hadapan Kongres Kepanduan Dunia di Tokyo, Jepang tahun 1971 silam.

"Dengan judul 'The Trend in Scouting', pernyataan itu bukan sekadar retorika diplomatik. Namun manifestasi dari watak seorang pemimpin yang oleh masyarakat Jawa disebut memiliki sifat Janma Limpad Seprapat Tamat," ungkapnya.

Sri Sultan menjelaskan, watak pemimpin tersebut dapat diartikan bahwa seorang yang benar-benar arif. Meski baru menangkap sepotong kecil persoalan, ia telah mampu memahami maksud, arah, dan tujuan dari apa yang sedang dibicarakan orang lain.

"Bukan karena ia tahu segalanya, melainkan karena ketajaman batinnya mampu menangkap keseluruhan dari yang sebagian. Sifat itulah yang tampak dalam rekam jejak beliau (HB IX, red). Semuanya bertumpu pada kemampuan membaca situasi secara utuh sebelum bertindak," imbuhnya.

Hal itulah, yang menurut Sri Sultan, memiliki relevansi dengan Gerakan Pramuka hari ini. Sebab dengan kepekaan batin dalam membaca situasi dan kondisi yang tersirat seperti itulah, seseorang mampu bertindak cepat dan tepat. Namun demikian bukan berarti gegabah, bertindak tanpa pertimbangan.

"Justru sebaliknya, kepekaan sejati selalu disertai kehati-hatian, disertai analisis yang jernih, disertai kesediaan untuk berhenti sejenak sebelum melangkah. Inilah pelajaran kepemimpinan yang saya kira, terlalu sering dilupakan zaman kita, bahwa kecepatan tanpa kejernihan adalah kecerobohan yang dipercepat," paparnya.

Dikatakan Sri Sultan, yang juga sebagai Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) Gerakan Pramuka DIY, buku 'Tahta, Darma, dan Karsa' adalah upaya menerjemahkan sebuah kehidupan menjadi kurikulum moral, agar generasi yang tak sempat bertemu langsung dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, tetap dapat mewarisi cara berpikir dan cara berlaku beliau.

"Saya berharap, buku ini menjadi jangkar bagi anggota Gerakan Pramuka di seluruh Indonesia. Bukan untuk mengagumi masa lalu, melainkan untuk menghidupkan nilainya di masa kini. Sebab, keteladanan yang tidak diteruskan hanya akan menjadi kenangan, sedangkan keteladanan yang dihayati akan menjadi peradaban," tutup Sri Sultan. 

Read Next