
Bagikan:

Bagikan:
JOGJA, Eduwara.com - Berlangsung di kampus Gunungkidul, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kembali menggelar festival kuliner tahunan bertajuk ‘Leafestiva 2026’. Ajang ini merupakan bagian dari implementasi mata kuliah Festival Makanan pada Program Studi Sarjana Terapan Tata Boga Fakultas Vokasi UNY.
Bertema ‘Satu Daun Berjuta Rasa, Leafestiva Penuh Karya’, festival yang dirancang sebagai ruang pamer sekaligus ajang unjuk kreativitas mahasiswa dalam mengembangkan inovasi kuliner, menghadirkan berbagai inovasi produk pangan yang seluruhnya berbahan dasar sayuran.
Wakil Dekan Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sumber Daya Manusia Fakultas Vokasi UNY, Adeng Pustikaningsih, menegaskan Leafestiva merupakan bentuk nyata dari penerapan pembelajaran berbasis praktik (applied learning) dalam pendidikan vokasi.
“Festival Kuliner Leafestiva adalah bukti nyata dan representasi implementasi pembelajaran berbasis praktik. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diuji untuk keluar dari batas ruang kelas dan laboratorium,” ujarnya.
Menghadirkan 72 produk inovatif, mulai dari makanan hingga minuman, setiap karya tidak hanya mengedepankan cita rasa, tetapi juga memperhatikan aspek kualitas, keamanan pangan, serta daya tarik pasar. Produk-produk tersebut merupakan hasil karya mahasiswa Program Studi Terapan Tata Boga angkatan 2023.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengelola stan pameran secara kolaboratif. Sedangkan setiap produk yang ditampilkan, tetap dikembangkan secara individual.
“Konsep ini mendorong keseimbangan antara kerja tim dan eksplorasi kreativitas personal,” terang Ketua Penyelenggara Leafestiva 2026, Difaa Dwibudiutomo.
Laboratorium Nyata
Menariknya, seluruh olahan yang disajikan dalam Leafestiva 2026 merupakan inovasi makanan dan minuman modern dengan substitusi bahan baku utama menggunakan daun. Pendekatan ini tidak hanya menghadirkan diferensiasi produk, tetapi juga menekankan nilai kesehatan serta keberlanjutan pangan. Contohnya gyoza daun bayam merah, kue kukat dari daun katuk, pempek dari daun pakis dan sebagainya.
Leafestiva 2026 tidak hanya menjadi ajang pamer karya, tetapi juga sebagai laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk mengasah kompetensi kewirausahaan, inovasi produk, dan kesiapan memasuki dunia kerja.
Staf Ahli Bidang Perekonomian Pemkab Gunungkidul, Wibawanti Wulandari, yang secara resmi membuka Leafestiva 2026, mengapresiasi inisiatif akademik yang tidak hanya mendorong kreativitas mahasiswa, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan potensi pangan lokal daerah.
Dalam kegiatan tersebut, dosen Pendidikan Tata Boga Fakultas Teknik UNY, Andian Ari Anggraeni, menjelaskan bahwa sayuran merupakan sumber penting zat gizi seperti vitamin, mineral, serat, serta senyawa bioaktif yang berperan dalam menjaga kesehatan. Namun demikian, tingkat konsumsi sayur dan buah di Indonesia masih tergolong rendah dan belum memenuhi anjuran harian.
Kondisi tersebut, menurut Andian, berpotensi memicu berbagai permasalahan kesehatan, mulai dari kekurangan gizi hingga peningkatan risiko penyakit tidak menular. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan inovatif agar masyarakat lebih tertarik mengkonsumsi sayuran.
Kondisi tersebut juga berkaitan erat dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan menghapus kelaparan (SDG 2), kehidupan sehat dan sejahtera (SDG 3), serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (SDG 12).
“Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan inovasi produk pangan berbasis sayuran yang lebih menarik, praktis, dan memiliki daya simpan lebih lama,” pungkasnya.