
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA – Sebagai barometer pendidikan nasional, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meneguhkan komitmennya untuk mewujudkan kualitas pendidikan yang merata dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Langkah ini diperkuat dengan capaian gemilang DIY yang berhasil menduduki peringkat pertama nasional dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 untuk indikator literasi dan numerasi. Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), DIY memimpin pada mata pelajaran krusial.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Suhirman, mengungkapkan bahwa rata-rata nilai Bahasa Indonesia siswa di Yogyakarta mencapai skor 65,89. Angka ini merupakan yang tertinggi di Indonesia, mengungguli DKI Jakarta (63,39), Jawa Tengah (61,56), dan Jawa Timur (59,84).
Dominasi DIY juga terlihat kuat pada indikator numerasi. Melalui mata pelajaran Matematika, DIY meraih skor rerata 43,09, memimpin di atas DKI Jakarta (40,18) dan Jawa Tengah (39,16). Sementara untuk Bahasa Inggris, DIY mencatatkan nilai kompetitif sebesar 30,00.
“Capaian ini adalah hasil penguatan proses pembelajaran di satuan pendidikan. Namun, kami mencatat adanya ruang perbaikan pada Bahasa Inggris untuk mengejar ketertinggalan tipis dari DKI Jakarta. Ini akan menjadi prioritas dalam program peningkatan kompetensi di tahun ajaran mendatang agar kualitas tetap merata dan adaptif,” terang Suhirman pada Selasa (6/1/2026).
Inklusif
Senada dengan level provinsi, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menetapkan pendidikan dan kesehatan sebagai prioritas utama dalam visi pembangunan 2026.
Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM) di tengah capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Yogyakarta yang mencapai angka 89, tertinggi secara nasional.
Hasto mengingatkan tantangan mengenai etos kerja dan produktivitas agar masyarakat tidak terjebak dalam kondisi "menua sebelum sejahtera" (growing old before growing rich).
“Pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mencegah itu,” tegas Hasto.
Dalam implementasinya, Pemkot Yogyakarta menjamin akses pendidikan yang gratis, adil, dan tanpa diskriminasi. Hasto memastikan bahwa kebijakan pendidikan inklusif berlaku menyeluruh.
"Semua difabel gratis, baik di sekolah negeri maupun swasta. Ini sudah kita jalankan," tambahnya.
Kepala Disdikpora Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori, menambahkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan Kota Yogyakarta saat ini berada di peringkat keempat nasional dari 514 kota. Meski telah meraih penghargaan dari pemerintah pusat atas peningkatan akses pendidikan, Budi menegaskan pihaknya tetap memacu peningkatan indikator agar posisi Yogyakarta terus naik.
Ke depan, seluruh sekolah negeri di Kota Yogyakarta didorong untuk memiliki spesialisasi keunggulan, mulai dari bidang riset, olahraga, seni budaya, hingga penguasaan bahasa. Transformasi ini diharapkan menjadikan sekolah-sekolah di Yogyakarta sebagai pusat keunggulan yang mampu menjawab tantangan global di masa depan.