logo

Kampus

ISI Yogyakarta Terus Perkuat Soft Skill Talenta Muda

ISI Yogyakarta Terus Perkuat Soft Skill Talenta Muda
Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi, membuka ‘Laga Fotografi Kawula Muda 2026’ yang melibatkan 600 fotografer muda berusia di bawah 25 tahun pada Minggu (8/2/2026), di Kampus ISI Yogyakarta. Sebagai satu rangkaian Indonesia International Youth Photography Festival (IIYPF), ‘Laga Fotografi Kawula Muda 2026’ menjadi tonggak awal regenerasi fotografer muda yang terstruktur dan berkelanjutan. (EDUWARA/K. Setyono)
Setyono, Kampus10 Februari, 2026 02:48 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tak ingin berperan hanya sebagai penyelenggara Tridharma Perguruan Tinggi dan kampus berdampak, namun terus berupaya menjadi wadah peleburan (meltingpot) bagi talenta muda dalam bidang seni. Karena itulah, berbagai ajang seni yang digelar akan menjadi modal soft skill bagi mahasiswa dalam menghadapi era disrupsi, termasuk di antaranya ‘Laga Fotografi Kawula Muda 2026’.

Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi, menyebut ‘Laga Fotografi Kawula Muda 2026’ yang melibatkan 600 fotografer muda berusia di bawah 25 tahun pada Minggu (8/2/2026) pagi menjadi tonggak awal regenerasi fotografer muda yang terstruktur dan berkelanjutan. ‘Laga Fotografi Kawula Muda 2026’ merupakan satu rangkaian Indonesia International Youth Photography Festival (IIYPF) yang digelar sejak Kamis (5/2/2026) dan berakhir pada Sabtu (14/2/2026).

“IIYPF ini merupakan ajang internasional yang pertama kali digelar di ISI Yogyakarta. Gelaran ini hasil kolaborasi Federasi Perkumpulan Seni Foto Indonesia (FPSI) bersama jejaring organisasi fotografi dan komunitas mahasiswa,” kata Irwandi.

Di IIYPF peserta diajak mengenal dunia rekam visual melalui pameran, workshop intensif selama tiga hingga empat hari, hingga laga fotografi. Peserta didorong mengasah kompetensi sekaligus kesiapan karier sejak dini.

ISI Yogyakarta bersama FPSI berharap ajang ini dapat memenuhi target melahirkan ekosistem yang mampu menjadi meltingpot talenta muda fotografi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Tak hanya itu, panitia penyelenggara yang terdiri atas mahasiswa dapat belajar cara berorganisasi yang baik sehingga memiliki soft skill yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Sedangkan tantangan disrupsi teknologi, termasuk kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), justru diposisikan sebagai momentum untuk memperkuat kreativitas, kepemimpinan, dan soft skill generasi muda.

“Lewat kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memotret, tetapi juga belajar berorganisasi, berkolaborasi, dan mengelola perhelatan besar. Ini bekal penting menghadapi masa depan dunia fotografi,” katanya.

Ke depan, Irwandi berharap IIYPF akan terus menjadi agenda tahunan. Baginya, evaluasi berbagai kesalahan dan apa yang perlu dipertahankan tetap akan dilakukan agar ajang serupa pada masa mendatang memiliki penyelenggaraan yang lebih baik.

Salah satu peserta langsung beraksi usai pembukaan Laga Fotografi Kawula Muda 2026 di Kampus ISI Yogyakarta. (EDUWARA/K.Setyono)

Regenerasi

Ketua Umum FPSI, Agatha Anne Bunanta, menegaskan bahwa regenerasi menjadi fokus utama organisasinya dalam beberapa tahun terakhir. Organisasi yang berdiri sejak 1973 ini menggandeng perguruan tinggi untuk memastikan estafet fotografer muda terus berjalan.

“IIYPF yang pertama ini kami gelar di ISI Jogja sebagai bentuk nyata pembinaan generasi muda,” ujar Anne.

Festival ini mencakup pameran internasional, workshop, dan lomba foto on the spot. Pameran internasional diikuti fotografer muda dari 13 negara dan telah mengantongi FIAP Auspices, sebuah pengakuan internasional di bawah naungan UNESCO.

Secara keseluruhan, pameran internasional menerima 1.018 karya dari 380 fotografer muda asal 13 negara. Di dalam negeri, peserta tersebar dari 19 kota, melibatkan 78 universitas dan 11 sekolah. Sementara itu, untuk laga fotografi, tercatat sekitar 580 peserta terdaftar, dengan potensi menembus 600 peserta yang berasal dari 30 universitas, 38 SMA/SMK, dan tiga SMP di 26 kota.

“Tujuannya jelas, mempercepat peningkatan kreativitas, memperluas wawasan, dan membangun jejaring sejak usia muda,” kata Anne.

Terkait pameran internasional bertema 'Visual Symphony: Melodies of the World in a Frame' yang diikuti peserta dari 13 negara, Anne mengatakan pameran ini menghadirkan beragam perspektif visual serta isu global dari sudut pandang generasi muda.

“Dalam pameran fotografi internasional ini, kami menerima 1.018 karya dari 380 fotografer muda yang berasal dari 13 negara. Namun, setelah melalui seleksi ketat, hanya ada 220 karya dari 214 mahasiswa dan 6 pelajar dari 13 negara yang terpilih untuk dipamerkan," katanya.

Mengenai alasan membatasi umur peserta, Anne mengatakan hal itu bertujuan untuk menggenjot kepercayaan diri fotografer muda. Selain itu, dalam pameran tersebut FPSI ingin mengenalkan Indonesia ke kancah internasional.

"Jadi kami ingin mengajak para generasi muda ini agar tidak takut menampilkan foto-fotonya. Karena terkadang mereka takut, dan itu harus dimulai dari dalam negeri agar mereka percaya diri jika nantinya ikut pameran di luar negeri," tutupnya.

Read Next