
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Pengurus Nasional Karang Taruna (PNKT) mengajak generasi muda mengubah paradigma dalam memandang lingkungan hidup melalui aksi nyata pelestarian alam. Upaya tersebut diwujudkan melalui konservasi sumber mata air dan pengelolaan sampah berkelanjutan di Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Ketua Umum PNKT, Budisatrio Djiwandono, didampingi Ketua Karang Taruna DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, mengunjungi Sumber Mata Air Santen dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Go-Sari, Sabtu (24/10/2026). Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian puncak Peringatan Bulan Bakti Nasional Karang Taruna (BBNKT) 2026 yang berlangsung pada Jumat-Sabtu (23-24/10/2026).
Mengusung tema “Bersatu, Bergerak, Berdampak”, kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi pengurus Karang Taruna dari seluruh Indonesia untuk memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan kapasitas kelembagaan, dan memperluas kontribusi nyata bagi masyarakat.
Budisatrio menegaskan, restorasi sumber mata air perlu menjadi salah satu fokus perjuangan Karang Taruna ke depan. Menurutnya, keberadaan sumber air memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat sekaligus mendukung upaya penanggulangan bencana.
“Ini mengangkat isu restorasi sumber air. Saya rasa ini menjadi salah satu pesan dan pokok perjuangan Karang Taruna ke depan untuk mencari titik-titik sumber air, mengonservasi dan merestorasi bila memang memungkinkan,” katanya.
BudiSatrio menjelaskan, ketersediaan air berkaitan erat dengan berbagai persoalan lingkungan dan kebencanaan, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah daerah. Karena itu, ia mendorong anggota Karang Taruna di setiap desa untuk mulai memetakan keberadaan sumber-sumber air di wilayah masing-masing.
Langkah selanjutnya, menurut Budisatrio, adalah menjaga, mengonservasi, dan merestorasi sumber air agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
“Kita hidup bersama alam, kita hidup menghargai alam, menghargai apa yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita, apa yang telah dituahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kita patut menjaganya dan menggunakannya demi kebaikan kita bersama,” tegasnya.
Perubahan Perilaku
Budisatrio juga mengajak kader Karang Taruna meningkatkan kepedulian terhadap isu lingkungan hidup, pelestarian alam, dan keberlanjutan. Gerakan tersebut dapat dimulai dari desa melalui berbagai inisiatif yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Upaya pelestarian lingkungan, lanjut Budisatrio, juga perlu berjalan beriringan dengan pemanfaatan teknologi. Dengan demikian, generasi muda dapat menghadirkan solusi yang relevan terhadap kebutuhan masa depan tanpa mengabaikan kelestarian alam.
Hal ini dinilai penting karena alam menyediakan berbagai kebutuhan dasar manusia, mulai dari pangan hingga energi. Karena itu, pembangunan dan pemanfaatan sumber daya perlu memperhatikan keseimbangan lingkungan.
Sementara itu, Ketua Karang Taruna DIY GKR Hayu mengatakan, kepengurusan Karang Taruna DIY mengusung visi keberlanjutan (sustainability) dan ramah lingkungan (environmentally friendly).
Menurut GKR Hayu, generasi muda memiliki peran penting dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat, termasuk membangun kebiasaan menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan.
“Perubahan itu biasanya yang muda-muda. Kadang kami lebih aware untuk tidak membuang sampah sembarangan. Tapi kadang urusannya justru sama yang lebih tua. Nah, tugasnya kami Karang Taruna itu menjembatani itu juga,” ujarnya.
GKR Hayu mencontohkan, keterlibatan Karang Taruna dalam pengelolaan desa wisata dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk menerapkan prinsip pariwisata berkelanjutan. Selain itu, keterlibatan pemuda dalam program restorasi mata air juga diperlukan untuk memastikan upaya pelestarian berlangsung secara konsisten.
GKR Hayu menilai, keberadaan anggota Karang Taruna yang tinggal dan beraktivitas di lingkungan setempat menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan program. Keterlibatan langsung membuat pemuda memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekaligus mendorong tumbuhnya rasa memiliki di tengah masyarakat.
“Dengan keberadaan Karang Taruna yang jelas tinggalnya di sini, keberlangsungan kebersihan dan keterjagaan yang direstorasi itu bisa diawasi. Karena mereka terlibat, mereka merasa memiliki,” pungkasnya.