
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Untuk kedua kalinya, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) bersama Kementerian Kebudayaan meluncurkan program kreatif Turun Tumurun 2026. Ajang dua tahunan ini bertujuan mendokumentasikan foklor-folklor geomitologi tentang mitos atau legenda lokal dengan fenomena bentang alam geologis yang tersebar di Yogyakarta.
Turun Tumurun 2026 bertajuk ‘Sayembara Penulisan Cerpen Geomitologi’ ini diperuntukkan bagi penulis dengan rentang usia 17-35 tahun dalam bentuk cerpen, yang kemudian dibukukan.
Kepala TBY, Purwiati, menegaskan Tutur Tumurun merupakan agenda bermisi strategis dengan memberi ruang kreatif bagi cerpenis lokal untuk mengangkat narasi folklor yang belum banyak terdokumentasikan. Lewat tema ‘’Geomitologi’’, peserta ditantang mengaktualisasikan mitos dan cerita tutur masyarakat Yogyakarta ke dalam cerpen yang kontekstual dengan fenomena alam setempat.
"Tradisi lisan bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan wahana penting bagi perekaman memori kolektif suatu bangsa. Di dalamnya tersimpan pengetahuan dan sejarah yang menjadi bagian dari identitas kita. Program Tutur Tumurun hadir sebagai ruang perjumpaan lintas disiplin yang memadukan sains kebumian dengan khazanah kearifan lokal DIY lewat sudut pandang geomitologi," kata Purwiati, Rabu (7/10/2026).
Purwiati menambahkan, cerita-cerita rakyat yang terekam secara turun-temurun di tengah masyarakat kini mendapatkan ruang khusus untuk didokumentasikan kembali melalui pendekatan ilmiah dan kreatif. Peserta diharapkan tidak sekadar mendengarkan dongeng, melainkan aktif mencatat dan menceritakan kembali sejarah tutur tersebut agar tidak punah.
Dari total 75 naskah cerpen karya penulis muda DIY berusia 17-35 tahun, terpilih 10 karya nomine yang kemudian disaring menjadi 5 karya terbaik. Mewakili dewan juri, Hasta Indriyana mengungkapkan bahwa membaca puluhan naskah sayembara ini bagai menyusuri Yogyakarta dalam peta mitologisnya.
Penganugerahan Sayembara Penulisan Cerpen Geomitologi dan Peluncuran Antologi Jilid II akan diselenggarakan pada puncak perayaan sastra bertajuk Pesta Cerita pada Jumat malam (9/10/2026). Ini menjadi puncak rangkaian Kegiatan Selebrasi Sastra Seni Budaya Tahun Anggaran 2026 yang didukung oleh Dana Alokasi Khusus Nonfisik-BOP Museum dan Taman Budaya.
Narasi Tutur
Direktur Program Tutur Tumurun, Latief S Nugraha, menjelaskan bentang alam Yogyakarta kaya akan warisan budaya yang bertaut langsung dengan situs-situs kebumian dan landasan filosofis berdirinya Nagari Ngayogyakarta.
"Geomitologi mengkaji bagaimana budaya masa lalu mencatat lanskap dan fitur geologi. Di balik mitos fenomena alam, tersimpan pengetahuan serta alat komunikasi masyarakat lampau. Sastra dalam konteks ini hadir sebagai sains yang dituturkan dengan bahasa yang lain," jelasnya.
Latief menambahkan menulis cerpen berbasis geomitologi bukan sekadar mereka-reka dongeng, melainkan mengulik keterkaitan narasi tutur seperti toponimi desa, keberadaan sendang, hingga mitos Gunung Merapi dan Laut Selatan dengan realitas geologis.
“Geomitologi bukan semata-mata tentang ingatan bencana seperti gempa atau gunung meletus, melainkan mencakup cerita rakyat, toponimi tempat, hingga situs budaya yang tersebar di DIY,” ungkapnya.
Pesta Cerita menjadi ajang pertanggungjawaban karya sekaligus penganugerahan bagi peserta yang telah berproses sejak Juli 2026. Rangkaian ini diawali dengan lokakarya bersama Paksi Raras Alit, Raudal Tanjung Banua, dan Herlina Tiens, lalu dilanjutkan dengan sayembara yang dinilai oleh dewan juri Ramayda Akmal, Mahfud Ikhwan, dan Hasta Indriyana.
"Tempat-tempat yang selama ini kita hafal dalam rute geografis seperti mendapatkan jiwa melalui cerita di balik batu, gunung, jalanan, tanah, air, dan roh-roh yang bertutur. Beberapa naskah menunjukkan kecakapan tak hanya dalam bercerita, tetapi juga menafsir tema ke pokok persoalan yang lebih beragam seperti identitas, kesenian, sejarah, gender, hingga kekerasan," papar Hasta.
Pada malam puncak, TBY akan menyerahkan penghargaan kepada para pemenang (Juara 1-3 dan Juara Harapan 1-2) sekaligus meluncurkan buku antologi Tutur Tumurun Jilid II yang merangkum 5 karya pemenang beserta 15 cerita pendek karya pilihan juri.
Semua karya ini nantinya bisa dibaca masyarakat umum dengan menggunduh buku antologi Tutur Tumurun Jilid II di laman milik TBY mulai pekan depan. Rangkaian program Tutur Tumurun 2026 dimulai dengan sesi lokakarya bagi peserta pada Juli 2026, lalu ke tahap sayembara penulisan cerpen yang akan dibuka mulai 8 Juli 2026-16 Agustus 2026.