logo

Kampus

Mahasiswa Baru UIN Sunan Kalijaga Diminta tak Pisahkan Agama dan Ilmu

Mahasiswa Baru UIN Sunan Kalijaga Diminta tak Pisahkan Agama dan Ilmu
Sebanyak 5.711 mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia hingga mancanegara mengikuti pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), di Gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga, Rabu (19/8/2026). Pada kesempatan tersebut, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Noorhaidi Hasan, mengajak para Kalijaga Muda memaknai hari pertama di kampus sebagai awal dari perjalanan hidup yang baru. (EDUWARA/Dok. UIN Sunan Kalijaga)
Setyono, Kampus19 Agustus, 2026 19:15 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Sebanyak 5.711 mahasiswa baru dari berbagai wilayah Indonesia hingga mancanegara mengawali perjalanan akademiknya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), Rabu (19/8/2026), di Gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga.

Pada kesempatan tersebut, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Noorhaidi Hasan, mengajak para Kalijaga Muda memaknai hari pertama di kampus sebagai awal dari perjalanan hidup yang baru.

“Hari pertama mengenakan jaket almamater bukan sekadar momentum seremonial, melainkan awal perjalanan untuk bertransformasi dari pelajar menjadi pembelajar, serta dari penerima menjadi produsen ilmu pengetahuan. Di kampus ini, Anda akan bertransformasi menjadi orang-orang terpelajar sekaligus manusia-manusia beradab yang siap menyongsong masa depan dengan gemilang,” katanya.

Selama menjalani perkuliahan, lanjut Noorhaidi, mahasiswa akan dibimbing untuk berpikir logis, kritis, dan kreatif. Para Kalijaga Muda juga dilatih berkomunikasi dengan baik serta ditempa agar memiliki karakter yang kuat. Proses tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk sarjana yang mampu berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat.

“Di UIN Sunan Kalijaga, agama dan ilmu pengetahuan tidak ditempatkan secara terpisah. Keduanya dipadukan melalui paradigma integrasi-interkoneksi yang menjadi ruh pendidikan di kampus ini. Dengan pendekatan tersebut, Anda diharapkan tumbuh menjadi ‘sarjana plus’ yang memiliki kompetensi keilmuan, kematangan karakter, serta kepekaan terhadap berbagai persoalan kemanusiaan,” katanya.

Tradisi Akademik

Menurut Noorhaidi, kegiatan PBAK seperti ini bukan sekadar kegiatan untuk memperkenalkan sistem pembelajaran dan fasilitas kampus. Kegiatan ini merupakan pintu masuk bagi mahasiswa untuk mengenal tradisi akademik UIN Sunan Kalijaga, mulai dari berdiskusi secara terbuka, menyampaikan pemikiran kritis, melahirkan gagasan orisinal, hingga membangun kemandirian dalam belajar. Bekal tersebut diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk terlibat aktif dalam menghadapi berbagai perubahan.

“Semangat Empowering Knowledge, Shaping the Future mengajak Anda untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi turut mengambil peran dan memberikan arah bagi perubahan. Dalam perjalanan tersebut, UIN Sunan Kalijaga berkomitmen membersamai proses transformasi Anda hingga tumbuh menjadi sarjana yang andal, mampu berkontribusi bagi masyarakat, serta membanggakan bangsa dan negara,” jelasnya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Sunan Kalijaga, Abdur Rozaki, menegaskan kampus memiliki tradisi panjang dalam merawat keberagaman. Hal itu tercermin dari mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang berasal dari hampir seluruh provinsi di Indonesia. Kemajemukan tersebut semakin kaya dengan hadirnya sekitar 30 mahasiswa internasional dari sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, Asia, dan Afrika pada tahun ini.

“Salah satu kekuatan bangsa ini adalah keberagaman. Karena itu, kita harus mengedepankan sikap moderat dan toleran. Keberagaman telah menjadikan Indonesia sebagai laboratorium kemanusiaan yang dikagumi para intelektual dunia. Karena itu, di kampus ini kita membangun cita-cita bersama dengan menumbuhkan toleransi dan merangkul semua dalam semangat kesetaraan, yakni satu bangsa, satu sivitas akademika,” ujarnya.

Ketua Panitia Mahasiswa PBAK, Akhmad Abdillah, mengajak para Kalijaga Muda untuk tidak merasa gentar memasuki lingkungan perguruan tinggi. Perbedaan daerah asal, fakultas, dan latar belakang, menurutnya, justru menjadi kekuatan yang mempertemukan mereka sebagai satu keluarga besar.

“Kita berangkat dari warna, tempat, dan fakultas yang berbeda. Namun, kita adalah Kalijaga Muda yang sama-sama sedang memperjuangkan mimpi,” ujarnya.

Read Next