logo

Kampus

Menag Ingatkan Pengembangan Riset di PTKIN Harus Berbasis Agama

Menag Ingatkan Pengembangan Riset di PTKIN Harus Berbasis Agama
Menteri Agama Nasaruddin Umar saat menghadiri pembukaan OASE III di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pada kesempatan tersebut, Nasaruddin mengingatkan pengembangan riset dan teknologi di berbagai PTKIN harus menjadikan agama sebagai basis dan pembimbing. (EDUWARA/Setyono)
Setyono, Kampus04 November, 2026 23:02 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan pengembangan riset dan teknologi di berbagai Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTKIN) harus menjadikan agama sebagai basis dan pembimbing. Pelaksanaan Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III menjadi momentum untuk memperluas cara pandang masyarakat terhadap PTKIN.

Pernyataan ini disampaikan Nasaruddin saat membuka ajang OASE III di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Berlangsung Rabu-Sabtu (4-7/11/2026), OASE III diikuti 497 finalis dari 54 PTKIN. Mereka akan berkompetisi dalam 18 cabang bidang agama, sains, dan riset.

Menurut Nasarudin, UIN Sunan Kalijaga yang menempati posisi kedua nasional setelah Universitas Indonesia (UI) dalam Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) 2027, sekaligus masuk kelompok peringkat 801-1.000 dunia, menjadi bukti PTKIN semakin diperhitungkan dalam persaingan pendidikan tinggi nasional. 

“Prestasi ini memperkuat pesan bahwa kampus Islam memiliki kapasitas akademik yang melampaui batas keilmuan keagamaan,” jelas Nasarudin, pada Rabu (4/11/2026) sore.

Ke depan, lanjut Nasarudin, PTKIN harus terus berkomitmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan, kekuatan riset, dan kontribusi keilmuannya. Capaian UIN Sunan Kalijaga memperlihatkan bahwa kampus Islam mampu berada di jajaran teratas, bahkan melampaui banyak perguruan tinggi umum dalam pemeringkatan internasional.

Keunggulan studi keislaman diharapkan menjadi fondasi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Mahasiswa PTKIN perlu memperoleh ruang yang sama kuat untuk menguasai teknologi, menghasilkan penelitian, dan menawarkan solusi atas persoalan masyarakat.

“Kalau kita ingin mengaktifkan kembali sains dan teknologi dalam peradaban Islam ke depan maka agama harus menjadi dasar dan pembimbing dalam pengembangan riset serta teknologi. Bekal keagamaan dapat memperkuat tanggung jawab mahasiswa ketika mengembangkan dan menggunakan ilmu pengetahuan,” tegasnya.

Sebagai evaluasi, ke depan ajang OASES akan melibatkan berbagai perguruan tinggin non agama Islam yang masih berada di naungan Kementerian Agama.

Kebutuhan Masyarakat

Dalam laporannya, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amien Suyitno, melaporkan OASE III menyediakan ruang kompetisi yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat sekarang.

“Cabang risetnya mencakup nanoteknologi dan kesehatan, teknologi produk halal dan ketahanan pangan, pengelolaan limbah dan lingkungan hidup, serta konservasi energi untuk kampus hijau,” paparnya.

Pengunjung akan mendapat gambaran tentang luasnya bidang yang dikembangkan mahasiswa PTKIN. Selain robotika dan kesehatan, rangkaian OASE mencakup teknologi produk halal, ketahanan pangan, pengelolaan limbah, serta konservasi energi.

Melalui karya-karya tersebut, mahasiswa kampus Islam membawa pertanyaan yang relevan bagi masa depan: bagaimana ilmu yang dipelajari dapat membantu manusia hidup lebih sehat, memenuhi kebutuhan pangan, dan menjaga lingkungan.

“Keunggulan kampus Islam harus terasa dalam mutu ilmu dan manfaatnya. Kita ingin mahasiswa mampu menghasilkan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan sekaligus peka terhadap kebutuhan masyarakat,” lanjutnya.

Sebagai tuan rumah, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi Hasan, menjelaskan bahwa persiapan OASE mencakup penyelarasan petunjuk teknis, mekanisme penjurian, dukungan teknologi informasi, dan fasilitas kegiatan.

“Kami menyiapkan penyelenggaraan yang memungkinkan peserta menunjukkan kemampuan terbaiknya. Kejelasan mekanisme lomba, dukungan fasilitas, dan koordinasi teknis menjadi perhatian agar kualitas karya memperoleh ruang penilaian yang layak,” ujar Noorhaidi.

Melalui pameran ini, Noorhaidi mengajak publik melihat apa yang dikerjakan mahasiswa PTKIN di laboratorium dan ruang riset. Ada robotika, nanoteknologi, kesehatan, serta teknologi pangan, di mana karya-karya tersebut harus berbicara tentang kemampuan kampus Islam.

Read Next