logo

Kampus

Pamerkan Manuskrip Abad 19-20, UII Bangkitkan Semangat Literasi Masyarakat

Pamerkan Manuskrip Abad 19-20, UII Bangkitkan Semangat Literasi Masyarakat
Rektor UII Fathul Wahid mengatakan pameran manuskrip Islam abad 19-20 pada 12-31 Juli 2023 di UII Yogyakarta sebagai bagian upaya penghormatan terhadap masa lalu. Sebab, dari zaman lampau, manusia bisa membentuk masa kini dengan berkaca dari dependensi jejak. (EDUWARA/Dok. UII)
Setyono, Kampus12 Juli, 2023 17:50 WIB

Eduwara.com, JOGJA – Lembaga Kebudayaan Embun Kalimasada Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menggelar pameran bertajuk 'Khazanah Literasi Islam Indonesia' di Gedung Moh Hatta. Di sela-sela pameran ini juga dipamerkan berbagai karya seni kaligrafi.

Berlangsung sejak Rabu (12/7/2023) sampai 31 Juli 2023, pameran menghadirkan berbagai naskah lawas abad 19 sampai 20 yang dulu menjadi koleksi eks perpustakaan yang dimiliki Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI), yang kemudian berganti menjadi Masyumi.

"Perpustakaan UII dulunya menjadi bagian perpustakaan Islam yang didirikan MIAI. Kegiatan ini menjadi rangkaian acara pendukung peringatan Milad ke-80 UII dan upaya membangkitkan kembali minat baca serta literasi masyarakat," kata Direktur Eksekutif Lembaga Embun Kalimasada, Hadza Min Fadhli Robby.

Fadhli mengatakan tujuan pameran ini sebagai upaya menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga budaya literasi. Melalui pameran ini, masyarakat diingatkan tentang masyarakat masa lampau yang dahulu menjunjung tingga budaya literasi yang disampaikan dalam bentuk prasasti, babad, dan lontar.

"Di sini banyak koleksi berharga tapi sayangnya banyak yang belum tahu. Salah satu karya menarik adalah manuskrip tulisan Habib Usman bin Yahya Mutfi Betawi yang ditulis dalam tiga bahasa dengan aksara Pegon. Ini bahkan bisa menjadi project baru dalam kajian manuskrip,” lanjut Fadhli terkait beberapa karya menarik yang dipamerkan.

Karya apik lainnya adalah Injil berbahasa Batak Toba terbitan tahun 1859, yang merupakan koleksi tertua. Harapan kami, pameran ini bisa menjadi langkah awal civitas akademik UII untuk mengulik makna penting khazanah manuskrip.

Orientasi Temporal

Rektor UII Fathul Wahid memandang penyelenggaraan pameran ini sebagai bagian dari upaya orientasi temporal berupa penghormatan terhadap masa lalu. Sebab dari zaman lampau, manusia bisa membentuk masa kini dengan berkaca dari dependensi jejak.

Melalui orasi kebudayaan berjudul 'Mengulik Khazanah Manuskrip di Era TikTok', budayawan Dias Nawaksara membicarakan pentingnya keberadaan aksara dalam membentuk budaya maupun peradaban manusia.

Menurutnya, peradaban bangsa Indonesia memiliki kebudayaan, tradisi, dan keilmuan yang tidak kalah gemilang dari bangsa lain. Hanya saja, mungkin masyarakat sekarang tidak tahu bagaimana cara menggali nilai-nilai tersebut.

"Bukan karena tuna, tapi kita memang si pungguk yang buta (dibutakan), nilai-nilai dan kautaman itu tercatat di dalam prasasti, kakawin, kidung, babad, serat, primbon, piwulang, dan turots para ulama, yang semuanya ditulis menggunakan aksara yang hari ini kita sudah tidak bisa lagi membacanya," jelasnya.

Penguasaan akan aksara, menurut Diaz, adalah kunci untuk membuka dan menemukan nilai-nilai luhur peradaban bangsa, yang tercatat di dalam literatur yang telah diwariskan berupa prasasti, sastra, turots, dan lain sebagainya. 

Read Next