logo

Sekolah Kita

Pembelajaran Deep Learning Butuh Kreativitas Pengajar

Pembelajaran Deep Learning Butuh Kreativitas Pengajar
Sebanyak 35 guru dari lima di Gunungkidul, yaitu SDN Mentel 1, SDN Mentel 2, SDN Kemadang, SDN Kemiri 2 dan SDN Ngestiharjo, tengah mengikuti pelatihan pembelajaran mendalam (deep learning) dalam program OREO Berbagi Seru, yang dipusatkan di SDN Mentel 1, Rabu (22/7/2026). Konsep pembelajaran mendalam yang diselaraskan dengan kurikulum nasional ini membutuhkan kreatifivas guru dalam penerapannya ke anak didik agar optimal. (EDUWARA/Dok. OREO Berbagi Seru)
Setyono, Sekolah Kita22 Juli, 2026 22:25 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Konsep pembelajaran mendalam (deep learning) yang diselaraskan dengan kurikulum nasional membutuhkan kreatifivas guru dalam penerapannya ke anak didik agar optimal. Dirancang menggunakan metode belajar sambil bermain, konsep ini menekankan pada prinsip pembelajaran yang meaningful, mindful, dan joyful.

Hal ini disampaikan Project Direktur Indonesia Mengajar, Ilham Fathur Rahman, saat pendampingan pelatihan 35 guru dari lima SDN di Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang mendapatkan program ‘OREO Berbagi Seru’ pada Rabu (22/7/2026).

Deep learning adalah konsep pembelajaran mendalam saja pendekatannya ditekankan pada prinsip meaningful, mindful dan juga joyful dalam proses pembelajaran di kelas. Untuk joyful menjadi keutamaan karena proses menggembirakan tidak mengharuskan pembelajaran berlangsung monoton,” jelasnya.

Dibantu oleh berbagai alat peraga yang terdiri dari 15 unit, konsep pembelajaran mendalam yang diusung program ini meliputi empat bidang yaitu Literasi, Numerasi, Sains, dan Bahasa Inggris. Semuanya dibungkus dalam petualangan seru sebagai tambahan.

Dengan pembelajaraan yang menggembirakan, yang dibantu dengan berbagai alat peraga permainan, proses pembelajaran sambil bermain menyenangkan menjadi efektif.

“Pada dasarnya kamia membagi pembelajaran mendalam ini dalam tiga fase, pertama Fase A untuk anak didik yang berada di kelas 1-2 SD, fase B untuk anak kelas 3-4 dan fase C untuk anak didik yang duduk di kelas 5-6,” papar Ilham.

Namun Ilham memastikan, dalam praktiknya para pengajar diharapkan mampu menambahkan atau mangisi materi dengan hal-hal yang memuat nilai-nilai lokal satu daerah. Diharapkan, dengan penambahan muatan lokal, yang sepenuhnya tergantung dari kreativitas guru, pembelajaran yang diberikan bisa memberikan pemahaman tentang budaya, isu lingkungan maupun masyarakat di mana anak didik bersosialisasi.

“Seperti di Pangandaran, Jawa Barat, para guru di sana mengembagkan template terkait literasi dengan memasukkan dongeng rakyat yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang positif,” katanya.

Demikian juga yang terjadi di Tulang Bawang, Lampung, para guru berhasil memasukkan berbagai unsur terkait isu lingkungan, pelestarian alam dan dinamikan kependudukan yang terjadi di sekitarnya kepada anak didik.  Sebagai catatan, tahun ini, program ‘OREO Berbagai Seru’ menyasar tujuh kabupaten di tujuh provinsi dengan sasaran anak didik mencapai 1.000 orang.

“Jadi pengembangan pembelajaran mendalam ini akan sangat optimal ketika para guru mampu mengkreativitaskan berbagai pembelajaran bermuatan nilai lokal,” paparnya.

Belajar Seru

Dipaparkan pula oleh Ilham, usai mendapatkan pelatihan selama sehari, nantinya dalam waktu seminggu, para guru akan dievaluasi untuk melihat bagaimana konsep pembelajaran mendalam ini diterapkan. Kemudian, ada pendampingan secara online yang akan diberikan selama sebulan untuk memperkuat konsep pembelajaran.

“Pada pendampingan online, di sekolah-sekolah yang sudah kami datangi, akan ditanyakan bagaimana berlanjut atau tidak programnya, terus ada kendala atau tidak. Lalu, ada tidak ide muncul dari medianya, apakah sudah disempurnakan atau sudah diduplikasi di sekolah lainnya,“ paparnya.

Senior Marketing Manager Biscuit Mondelēz Indonesia, Kevin Stefano, menceritakan konsep pembelajaraan mendalam yang diusung program OREO Berbagi Seru sepenuhnya melibatkan guru, orang tua dan komunitas.

“Kegiatan Training of Trainers untuk memperkenalkan filosofi belajar seru dan alat-alat pembelajaran yang diberikan, hingga simulasi penerapannya pada rencana pembelajaran di kelas,” ujarnya.

Kemudian, orang tua dilibatkan untuk memahami pertumbuhan otak anak, mendalami bakat dan minat anak, dan mengetahui teknik pengajaran interaktif yang mudah dilakukan di rumah melalui permainan sehari-hari.

Sedangkan komunitas dilibatkan dalam sesi interaktif yang dirancang untuk memberdayakan ibu-ibu PKK, kader desa, penggiat pendidikan, ataupun komunitas lainnya di masing-masing wilayah guna membantu menciptakan ekosistem belajar berkelanjutan yang dipimpin oleh masyarakat

Pelatihan pembelajaran mendalam yang dipusatkan di SDN 1 Mentel, Desa Hargosari, Kecamatan menyasar 35 guru dari lima sekolah yang mendapatkan pelatihan pada Rabu (22/7/2026). Mencakup 709 murid, para guru yang dilibatkan berasal dari SDN Mentel 1, SDN Mentel 2, SDN Kemadang, SDN Kemiri 2 dan SDN Ngestiharjo.

Read Next