logo

Kampus

1.967 Mahasiswa Baru ISI Yogyakarta Diminta Jadi Insan Kreatif

1.967 Mahasiswa Baru ISI Yogyakarta Diminta Jadi Insan Kreatif
Sebanyak 1.967 mahasiswa baru Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Tahun Akademik 2026/2027 mengikuti kuliah perdana pada Rabu (19/8/2026). Pada kesempatan tersebut, Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi, meminta mahasiswa baru menjadi pribadi yang inovatif. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teknik atau menghasilkan karya, tetapi harus mampu mengubah gagasan menjadi karya, karya menjadi nilai, dan nilai menjadi peluang. (EDUWARA/ISI Yogyakarta)
Setyono, Kampus19 Agustus, 2026 19:45 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Sebanyak 1.967 mahasiswa baru Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Tahun Akademik 2026/2027 mengikuti kuliah perdana pada Rabu (19/8/2026). Mereka diharapkan tidak hanya menjadi mahasiswa yang menguasai teknik dan mampu menghasilkan karya, tetapi juga tumbuh sebagai insan kreatif, inovatif, kritis, dan kolaboratif.

Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi, mengatakan 1.967 mahasiswa baru tersebut merupakan mereka yang berhasil lolos dari persaingan ketat. Sebelumnya, sebanyak 12.737 putra-putri mengikuti seleksi untuk memperebutkan tempat di ruang kelas, studio, dan laboratorium seni ISI Yogyakarta.

"Saudara telah berkompetisi dengan 12.737 putra-putri terbaik untuk memperebutkan 1.967 tempat di ruang-ruang kelas, studio, dan laboratorium seni ISI Yogyakarta. Dan hari ini, saudara berdiri di sini sebagai bagian dari 1.967 orang yang terpilih," katanya.

Menurut Irwandi, kesempatan menjadi mahasiswa ISI Yogyakarta tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Para mahasiswa diminta menjadikan kesempatan tersebut sebagai amanah sekaligus tantangan untuk membuktikan bahwa pilihan menempuh pendidikan seni merupakan keputusan yang tepat.

Irwandi mengajak mahasiswa baru datang ke kampus bukan sekadar untuk belajar dan memperoleh nilai, tetapi juga untuk bertumbuh, menghasilkan karya, hingga menciptakan lapangan pekerjaan.

"Dari ruang-ruang kelas dan studio inilah, kami berharap lahir generasi seniman dan insan kreatif yang mampu membawa nama ISI Yogyakarta, Indonesia, dan kebudayaan kita ke panggung dunia," ujarnya.

Irwandi menegaskan, kuliah perdana bukan sekadar seremoni penerimaan mahasiswa baru, melainkan menjadi awal perjalanan untuk mengenali potensi diri, memperluas wawasan, mengasah keterampilan, membangun karakter, serta menemukan keberanian untuk menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.

Menurut Irwandi, mahasiswa baru memilih belajar seni di tengah perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan artifisial (AI), media sosial, industri kreatif, ekonomi digital, serta perubahan perilaku masyarakat telah membuka ruang baru bagi perkembangan seni.

Karena itu, Irwandi meminta mahasiswa baru menjadi pribadi yang inovatif. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teknik atau menghasilkan karya, tetapi harus mampu mengubah gagasan menjadi karya, karya menjadi nilai, dan nilai menjadi peluang.

"Dunia saat ini tidak hanya membutuhkan seniman yang mampu berkarya, tetapi juga membutuhkan seniman yang mampu membaca perubahan, memanfaatkan teknologi, membangun jejaring, mengembangkan pasar, dan menciptakan peluang karier," katanya.

Peluang

Irwandi menyebut perkembangan industri kreatif membuat pilihan profesi di bidang seni semakin luas. Selain pelukis, fotografer, sutradara, animator, musisi, perupa, desainer, dan pekerja seni lainnya, lulusan seni kini dapat berkiprah sebagai creative entrepreneur, art director, content creator, creative producer, kurator, art manager, visual storyteller, game artist, animator, fotografer komersial, filmmaker, digital artist, creative technologist, hingga art researcher.

"Jangan hanya menjadi mahasiswa yang mampu menguasai teknik. Jangan hanya menjadi mahasiswa yang mampu menghasilkan karya. Jadilah mahasiswa yang mampu mengubah gagasan menjadi karya, karya menjadi nilai, dan nilai menjadi peluang," tegasnya.

Irwandi juga meminta mahasiswa tidak takut memanfaatkan perkembangan teknologi. Menurutnya, kecerdasan artifisial, teknologi digital, realitas virtual, augmented reality, multimedia, dan berbagai teknologi baru bukanlah musuh bagi seni, melainkan alat yang dapat memperluas kemungkinan kreativitas manusia.

Meski demikian, Irwandi mengingatkan agar kemajuan teknologi tetap ditempatkan sebagai alat dan tidak menghilangkan kreativitas, karakter, etika, kepekaan, serta nilai kemanusiaan.

"Gunakan teknologi untuk memperkuat gagasan, memperluas jangkauan karya, dan menciptakan inovasi. Namun jangan sampai teknologi membuat kita kehilangan identitas, budaya, nilai, dan kepekaan sebagai manusia," ujarnya.

Sebagai mahasiswa ISI Yogyakarta, mereka dinilai memiliki keistimewaan karena belajar di lingkungan dengan tradisi seni yang kuat sekaligus berada di tengah perkembangan kreativitas dan teknologi. Karena itu, mahasiswa didorong mampu mempertemukan tradisi dengan inovasi.

Tradisi, lanjut Irwandi, tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang hanya berada di masa lalu. Tradisi dapat menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan masa depan, antara lain dengan mengembangkan seni tradisi melalui teknologi baru, mengolah budaya lokal menjadi karya berdaya saing global, serta menjadikan identitas Indonesia sebagai kekuatan dalam industri kreatif dunia.

Irwandi juga mengingatkan mahasiswa agar tidak takut mengalami kegagalan dalam proses kreatif. Kegagalan merupakan bagian dari proses untuk menemukan sesuatu yang baru.

"Inovasi tidak lahir dari kenyamanan. Inovasi lahir dari keberanian untuk mencoba, keberanian untuk bertanya, keberanian untuk berbeda, dan keberanian untuk memperbaiki kesalahan," katanya.

Di akhir paparannya, Irwandi menegaskan kampus tidak hanya bertugas mencetak lulusan. Kampus harus menjadi ekosistem yang menumbuhkan kreativitas, inovasi, kewirausahaan, jejaring, dan keberanian untuk menciptakan masa depan.

Read Next