logo

Kampus

Dosen Unisa Yogyakarta Kenalkan MySADARI untuk Deteksi Kanker Payudara Mandiri

Dosen Unisa Yogyakarta Kenalkan MySADARI untuk Deteksi Kanker Payudara Mandiri
Dosen Program Studi Kebidanan Unisa Yogyakarta, Intan Mutiara Putri (kanan) saat memperkenalkan aplikasi MySADARI. Aplikasi ini dirancang agar perempuan sebagai penggunanya dapat mengenali faktor risiko kanker payudara, mempelajari langkah pemeriksaan mandiri, hingga mendapatkan pengingat jadwal pemeriksaan setiap bulan, secara rutin dan mandiri. (EDUWARA/Setyono)
Setyono, Kampus05 November, 2026 00:59 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Kesadaran akan risiko kanker payudara terus dilakukan melalui berbagai inovasi. Melalui aplikasi MySADARI, dosen Program Studi Kebidanan Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Intan Mutiara Putri, mengajak perempuan melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) secara rutin.

Dikembangkan bersama tim lintas keilmuan, aplikasi MySADARI dirancang agar pengguna dapat mengenali faktor risiko kanker payudara, mempelajari langkah pemeriksaan mandiri, hingga mendapatkan pengingat jadwal pemeriksaan setiap bulan.

Intan mengatakan, gagasan tersebut muncul saat timnya melakukan kegiatan pengabdian masyarakat bersama Puskesmas Kasihan I pada 2022 dengan sasaran kader kesehatan. 

“Kami berangkat dari kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan media edukasi yang praktis dan mudah diakses,” kata Intan pada jumpa pers, Rabu (4/11/2026).

Menggunakan hibah dari Kemendiktisaintek pada 2022 untuk kegiatan pengabdian masyarakat, bersama kader kesehatan di Puskesmas Kasihan I, Bantul, tim menemukan fakta ternyata banyak perempuan yang menggunakan leaflet untuk pemeriksaan sendiri, sering lupa ketika di rumah.

“Dari kebutuhan untuk mengingat kembali kapan melakukan Sadari itulah kami menghadirkan aplikasi MySADARI," jelasnya.

MySADARI dikembangkan bersama tim lintas keilmuan dari Program Studi Kebidanan dan Teknologi Informasi Unisa Yogyakarta. Aplikasi ini memiliki empat fitur utama yang dapat dimanfaatkan pengguna.

Fitur pertama adalah skrining faktor risiko kanker payudara. Pengguna diminta menjawab sejumlah pertanyaan sesuai kondisi masing-masing, mulai dari riwayat keluarga dengan kanker payudara, usia menstruasi pertama di bawah 12 tahun, belum pernah melahirkan, hingga belum pernah menyusui atau memiliki riwayat menyusui kurang dari enam bulan.

Fitur kedua adalah panduan melakukan Sadari. Pengguna mendapatkan instruksi langkah demi langkah yang dilengkapi ilustrasi visual mengenai cara memeriksa payudara, mulai dari gerakan tangan hingga bagian yang perlu diperhatikan ketika melakukan perabaan.

“Dengan panduan tersebut, perempuan diharapkan dapat mempelajari cara melakukan pemeriksaan secara mandiri di rumah serta mengenali perubahan atau ketidaknormalan pada payudara,” jelasnya.

Fitur ketiga adalah pengingat jadwal pemeriksaan. Pengguna dapat memasukkan tanggal pertama menstruasi untuk mendapatkan pengingat otomatis kapan waktu yang tepat melakukan Sadari. 

Menurut Intan, idealnya pemeriksaan dilakukan pada hari ketujuh hingga kesepuluh sejak hari pertama menstruasi. Sebab, kondisi payudara menjelang menstruasi umumnya lebih sensitif, tegang, atau terasa nyeri sehingga dapat menyulitkan pengguna membedakan perubahan normal dan gejala yang perlu diperhatikan.

"Secara teori, Sadari dilakukan pada hari ketujuh sampai hari kesepuluh menstruasi. Kalau dilakukan sebelum menstruasi, payudara terkadang terasa tegang dan nyeri. Kondisi itu bisa mengaburkan penilaian terhadap rasa nyeri yang tidak normal," paparnya.

Fitur keempat menyediakan informasi seputar kanker payudara. Fitur ini menjadi sarana edukasi tambahan agar pengguna memiliki pemahaman lebih baik mengenai penyakit tersebut dan pentingnya deteksi dini.

Uji Ilmiah

Setelah dikembangkan melalui kegiatan pengabdian masyarakat, MySADARI kembali diuji melalui penelitian pada 2025. Tim mengajukan hibah penelitian melalui program RisetMu untuk menguji efektivitas penggunaan aplikasi terhadap pengetahuan dan sikap deteksi dini kanker payudara. Pengujian dilakukan kepada mahasiswa nonkesehatan dengan durasi penggunaan aplikasi sekitar dua minggu.

"Pada 2025, kami mengajukan penelitian hibah dari RisetMu. Aplikasi MySADARI kami ujikan secara ilmiah kepada mahasiswa nonkesehatan selama kurang lebih dua minggu untuk melihat peningkatan pengetahuan dan sikap mereka terhadap deteksi dini kanker payudara," jelasnya.

Saat ini, aplikasi MySADARI sudah dapat diunduh secara gratis melalui Google Play Store. Pengguna cukup melakukan registrasi menggunakan alamat email dan kata sandi yang dibuat sendiri.

Terkait keamanan data, Intan menjelaskan bahwa informasi pengguna disimpan di server Unisa Yogyakarta dan tidak dapat diakses secara umum. Sistem aplikasi juga dilengkapi mekanisme login menggunakan username dan password.

Pengguna MySADARI tidak terbatas pada perempuan yang masih mengalami menstruasi. Perempuan yang sudah menopause juga dapat memanfaatkan aplikasi tersebut dengan mengatur jadwal pemeriksaan pada tanggal yang sama setiap bulan.

Intan menyebutkan, sasaran edukasi Sadari juga dapat dimulai sejak usia 18 tahun. Ke depan, pengembangan aplikasi masih terbuka untuk diperluas, termasuk pemanfaatannya dalam kegiatan edukasi kesehatan di masyarakat melalui kader PKK maupun Posyandu.

Kepala Biro Humas dan Protokol Unisa Yogyakarta, Sinta Maharani, mengatakan pengenalan MySADARI merupakan bagian dari rangkaian kampanye inovasi bertajuk Riset Tepat Masyarakat Sehat. Selain MySADARI, Unisa Yogyakarta juga memperkenalkan sejumlah inovasi lain yang berfokus pada kesehatan perempuan dan anak sepanjang daur kehidupan.

Inovasi tersebut di antaranya Kursi Oksitosin Ibu Menyusui (KursiMu), yang dirancang untuk membantu memperlancar produksi ASI bagi ibu menyusui. Ada pula Smart Sensor Bracelet (SErBet) berbasis Internet of Medical Things (IoMT) untuk mendukung deteksi dini risiko stunting.

"Yang sedang kami kampanyekan kali ini berkaitan dengan kesehatan perempuan sepanjang daur hidupnya, mulai dari deteksi dini kanker payudara, pencegahan stunting, bagaimana mengelola anak-anak ketika masih bayi dengan gendongan oksitosin, hingga KursiMu untuk ibu menyusui," paparnya.

Read Next