
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Melalui dua program yang digelar, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menampilkan berbagai proses kreativitas dari mahasiswa sampai dosen. Dua program tersebut adalah Pameran Karya Tugas Akhir di Pekan Fotografi Sewon (PFS) #19 dan Penguatan Kapasitas Komunitas dalam Desain Produk Avta Kebaya.
Bertajuk Prime Time, di antara 32 karya tugas akhir yang dipamerkan mulai Kamis-Minggu (11-14/6/2026) di Galeri Pandeng dan Gedung Program Studi Fotografi Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) ISI Yogyakarta, karya mahasiswa Program Studi (Prodi) Fotografi FSMR ISI Yogyakarta, Mahadika Muhammad Akbar, tampil menonjol.
Mahardika menampilkan perpaduan teknik ukir khas Jepara dengan instrumen musik modern. Karya ini memvisualisasikan gitar listrik dan bas yang dihiasi teknik ukiran khas Jepara sebagai upaya menghadirkan identitas budaya lokal ke dalam produk yang dekat dengan generasi muda.
"Yang menarik bagi saya adalah penggunaan teknik ukir Jepara pada media yang dekat dengan anak muda seperti gitar listrik dan bas. Selama ini, teknik ukir Jepara lebih identik dengan perabot rumah tangga, sementara di sini diterapkan pada media instrumen musik modern," kata Mahadika dalam rilis, Senin (15/6/2026).
Menurut Mahardika, penerapan teknik ukir pada instrumen musik menunjukkan bahwa warisan budaya lokal dapat berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan identitasnya.
“Ini menunjukkan bahwa ukiran tidak hanya dapat diterapkan pada benda-benda tradisional, tetapi juga pada produk yang dekat dengan generasi sekarang," ujarnya.
Melalui pendekatan fotografi komersial, Mahadika berupaya menampilkan detail ukiran, tekstur, dan karakter visual produk secara komunikatif sekaligus membangun citra profesional bagi Guitar Carving Indonesia.
Sekretaris Jurusan Fotografi FSMR ISI Yogyakarta, Kusrini, yang mewakili Ketua Jurusan Fotografi FSMR ISI Yogyakarta, mengatakan Prime Time diharapkan menjadi titik strategis bagi mahasiswa sebelum memasuki dunia profesional.
"Prime Time menjadi titik strategis dan juga menjadi waktu yang paling menentukan sekaligus menjadi pembuka bagi kesuksesan teman-teman ke depannya," katanya.

Instrumen Pemberdayaan
Secara terpisah, tim dosen Fakutas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta menghadirkan kegiatan bertajuk "Pemberdayaan Komunitas Perempuan Disabilitas Avta Kebaya Melalui Eksplorasi Desain Kreatif dan Media Souvenir Inklusif Berbasis Wisata” untuk komunitas perempuan disabilitas Avta Kebaya melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN).
Disosialisasikan Sabtu (6/6/2026), program ini sebagai langkah awal penguatan kapasitas komunitas dalam desain produk, produksi souvenir inklusif, dan pemasaran berbasis konten digital.
Tim dosen FSRD ISI Yogyakarta ini berasal dari lintas disiplin, yaitu Amar Leina Chindany (Prodi Desain Komunikasi Visual), Septianti (Prodi Desain Mode Kriya Batik), serta Amanda Amalia Faustine Gittawati (Prodi Desain Media).
Ketua tim, Amar Leina mengatakan, program ini diarahkan agar ilmu desain yang dikembangkan di lingkungan ISI Yogyakarta hadir sebagai solusi nyata bagi masyarakat. Menurutnya, seni dan desain tidak hanya berperan sebagai ekspresi estetik, tetapi juga dapat menjadi instrumen pemberdayaan yang memperluas kesempatan ekonomi bagi kelompok rentan.
"Kami ingin proses kreatif yang tumbuh di ISI Yogyakarta tidak berhenti di ruang akademik. Melalui program ini, desain menjadi alat pemberdayaan, anggota komunitas dapat membaca kebutuhan pasar wisata, mengembangkan souvenir inklusif, membuat konten digital, dan memperkuat peluang ekonomi secara lebih mandiri," ujarnya.
Amar menambahkan, capaian penting dari kegiatan ini terlihat dari meningkatnya partisipasi dan kemampuan anggota Avta Kebaya dalam mengikuti praktik pembuatan konten. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi mulai menghasilkan foto, video, dan rancangan publikasi produk yang layak ditampilkan di media sosial.
Materi pelatihan dirancang berbasis praktik langsung. Peserta diajak memahami konsep visual, teknik pengambilan gambar, penyuntingan singkat, optimasi caption, serta pemilihan hashtag yang relevan.
Pendekatan ini ditujukan agar anggota Avta Kebaya mampu mempublikasikan dan memasarkan produk secara mandiri melalui platform digital dengan tampilan yang menarik, komunikatif, dan sesuai tren pasar.
Sumrah Ekowati, Ketua Avta Kebaya, menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terus berlanjut dengan ISI Yogyakarta. Ia menilai manfaat program dirasakan langsung oleh komunitas karena mendorong anggota untuk semakin percaya diri, meningkatkan kualitas produk, dan memperluas peluang pemasaran.