logo

Gagasan

Jejak Bantul Selatan Dua Dekade Silam dalam Novel ‘Owel’

07 Januari, 2026 01:30 WIB
Jejak Bantul Selatan Dua Dekade Silam dalam Novel ‘Owel’
Novelis R. Toto Sugiharto saat mengupas novel terbarunya, ‘’Ovel’’ dalam acara SelasaSastra-Harapan Baru dalam Bersastra, di Kelingan Garden Café, Bejen, Bantul, Selasa (6/1/2026) sore. Novel yang menyuguhkan potret mendalam kawasan pesisir selatan Bantul dua dekade silam ini dibedah oleh jurnalis Kukuh Setyono dan Redaktur Senior Senerai Ide Bangsa, Mariska Puspita Ningrum. (EDUWARA/Dok. Senerai Ide Bangsa)

Eduwara.com, JOGJA - Novelis R. Toto Sugiharto menyuguhkan potret mendalam kawasan pesisir selatan Bantul dari kacamata dua dekade silam melalui karya terbarunya berjudul ‘Owel’. Novel ini tidak hanya sekadar narasi fiksi, tetapi juga menyimpan refleksi tentang bagaimana masa depan kawasan selatan Yogyakarta terbentuk.

Bedah buku bertajuk "SelasaSastra-Harapan Baru dalam Bersastra" digelar untuk mengupas tuntas novel ini di Kelingan Garden Café, Bejen, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Selasa (6/1/2026) sore.

Acara ini menghadirkan sang penulis, jurnalis Kukuh Setyono sebagai pembedah, serta Redaktur Senior Senerai Ide Bangsa, Mariska Puspita Ningrum.

Dalam pemaparannya, R. Toto Sugiharto mengungkapkan Owel sejatinya ditulis pada tahun 2005 untuk mengikuti lomba bertema Bantul yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab Bantul), Dewan Kebudayaan, dan Institut Kebudayaan. Meski berhasil meraih juara ketiga dari enam pemenang, novel ini sempat mengalami nasib malang.

"Sayangnya, saat itu panitia hanya sempat mencetak karya juara pertama sebelum akhirnya bubar. Novel Owel sempat kehilangan jejak, dan satu-satunya manuskrip cetak yang tersisa disimpan oleh saudara saya," kenang Toto.

Takdir kemudian mempertemukan Toto dengan penerbit Senerai Ide Bangsa, yang berinisiatif menerbitkan naskah tersebut untuk pertama kalinya pada Desember 2025 lalu. 

"Saya merasa ikut menanggung utang atas kerja besar kepanitiaan masa lalu apabila Owel tidak sampai terbit," tambahnya.

Owel mengangkat kisah tokoh yang lahir dan tumbuh di pesisir selatan Bantul. Di dalamnya termuat proses pencarian jati diri, pergolakan terhadap tradisi, hingga pengalaman spiritual yang mengakar kuat di masyarakat setempat. Dalam proses kreatifnya, Toto melakukan riset lapangan dengan menyusuri garis pantai dari Pandansimo hingga Parangkusumo.

Tiga Perspektif

Jurnalis Kukuh Setyono memberikan catatan kritis bahwa Owel memiliki alur yang cepat, sebuah ciri khas yang juga ditemukan dalam karya Toto sebelumnya, Semar Mesem (2015).

Kukuh menyoroti tiga perspektif utama dalam novel ini. Pertama, budaya bahari yang masih dipengaruhi kepercayaan spiritual Laut Selatan. Kedua, perubahan lanskap yang digambarkan lewat perjalanan timur ke barat yang kini menjadi nyata dengan adanya Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS).

Prespektif terakhir adalah perkembangan teknologi informasi dan pertumbuhan ekonomi yang diramalkan kala itu akan memunculkan pusat ekonomi baru di wilayah Kretek, Sanden, hingga Srandakan.

"Toto berhasil meramalkan perkembangan pesisir selatan Bantul yang ternyata tidak jauh berbeda dengan realita saat ini. Ini sejalan dengan visi Gubernur DIY 'Among Tani, Dagang Layar'," ujar Kukuh.

Ia menilai Owel merupakan literasi penting yang mendokumentasikan wajah Bantul selatan 20 tahun lalu.

Sementara itu, Mariska Puspita Ningrum dari penerbit Senerai Ide Bangsa menyebutkan bahwa meskipun ditulis dua dekade lalu, novel ini tetap relevan bagi pembaca muda atau Gen Z.

"Owel menawarkan cerita tentang pencarian jati diri dan seni berpasrah diri terhadap hal-hal di luar kendali manusia. Selain itu, balutan cerita spiritual pasca-tragedi 1965 memberikan kedalaman sejarah yang menarik untuk disimak," paparnya.

Bagi para penikmat sastra dan sejarah lokal, novel Owel kini telah tersedia dan dapat menjadi referensi penting dalam melihat transformasi kawasan pesisir selatan Yogyakarta.

Read Next