
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Para akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta terus mendorong pendidikan seni menjadi medium kritik sosial dan pembentukan karakter sehingga mampu mendekatkan diri dengan kehidupan masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengimplementasikannya dalam program Kampus Berdampak, yang menjadi ruang terbuka interaksi langsung antara dosen, mahasiswa, siswa, guru, dan komunitas seni di masyarakat.
Hal ini seperti dilakukan Program Studi S1 Seni Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta yang menyelenggarakan kegiatan bertajuk Gelar Karya Dosen di Arena Terbuka SMK Negeri 1 Kasihan atau SMKI Yogyakarta pada Senin (11/5/2026).
Mengusung pendekatan pakeliran kontemporer, gelar karya tersebut menghadirkan dua karya dosen ISI Yogyakarta, yakni “Dendam Kesumat Jara” karya Hariyanto, serta “Iman Suwongso Takon Bapa” karya Aneng Kiswantoro.
“Melalui kegiatan ini, ISI Yogyakarta menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi seni yang aktif mendorong diseminasi karya, pengembangan ekosistem pedalangan, serta regenerasi seniman muda,” kata Hariyanto pada rilis, Selasa (12/5/2026).
Kepada kalangan pelajar, kedua dosen ini memperkenalkan format pakeliran padat yang mengusung konsep struktur cerita, iringan, dan pola garap, pesan moral tetap dapat tersampaikan tanpa kehilangan kekuatan estetiknya. Pendekatan ini sekaligus menunjukkan bahwa pedalangan mampu beradaptasi dengan perubahan pola apresiasi penonton hari ini.

Konservasi Seni
Sementara itu, pada Selasa-Rabu (12-13/5/2026), Program Studi (Prodi) Konservasi Seni, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta menyelenggarakan pameran bertajuk “Revive: Art Conservation Exhibition & Open House - Merawat Masa Lalu, Menyelamatkan Masa Depan”, di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta. Pameran di bidang konservasi seni ini menjadi ruang pamer akademik sekaligus sarana pengenalan kepada masyarakat luas, khususnya siswa SMA, SMK, dan MA.
Koordinator Program Studi Konservasi Seni, Prima Dona Hapsari, mengatakan pameran ini merupakan salah satu upaya untuk memperkenalan program studi Konservasi Seni, yang pertama dan merupakan satu-satunya di Indonesia yang resmi beroperasi pada 29 September 2022.
“Bidang ini bersifat interdisiplin karena menggabungkan seni, sains, dan teknologi untuk menjawab kebutuhan sumber daya manusia yang ahli dalam konservasi dan restorasi seni rupa, terutama benda seni dan warisan budaya di wilayah tropis,” katanya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa memamerkan hasil pembelajaran dari berbagai mata kuliah dan peminatan, antara lain konservasi lukisan, kertas dan arsip, batu dan keramik, tekstil, kayu, Teknik Repro, Kimia Organik, Pelestarian Warisan Budaya, serta Nirmana.
Prima menambahkan, keberadaan Prodi Konservasi Seni ISI Yogyakarta memiliki nilai strategis karena menjadi program studi konservasi seni pertama dan satu-satunya di Indonesia yang mendukung perawatan serta pelestarian benda-benda seni rupa dan warisan budaya di iklim tropis.
“Harapannya, dengan kegiatan ini akan semakin banyak informasi, pengetahuan, dan cara pandang masyarakat luas tentang bagaimana kita merawat dan melestarikan aset-aset seni budaya yang dimiliki bangsa Indonesia,” jelasnya.
Melalui pendekatan akademik yang memadukan seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi, Prodi Konservasi Seni diharapkan dapat melahirkan konservator, restorator, pengelola koleksi seni, praktisi restorasi, serta tenaga profesional yang berperan dalam menjaga keberlanjutan aset seni budaya Indonesia.