logo

Kampus

Dorong Hilirisasi Industri Sawit, Pekebun Swadaya Dilatih Teknik Pemetaan Lahan

Dorong Hilirisasi Industri Sawit, Pekebun Swadaya Dilatih Teknik Pemetaan Lahan
Sebanyak 62 pekebun kelapa sawit swadaya yang berasal dari Kabupaten Musi Rawas dan Ogan Komering Ilir mengikuti Pelatihan Teknik Pemetaan Lokasi Perkebunan Kelapa Sawit, di Emilia Hotel by Amazing Palembang, Selasa-Jumat (1-4/9/2026). Pelatihan ini diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) bersama Kementerian Pertanian melalui LPP Agro Nusantara. (EDUWARA/Dok. LPP Agro Nusantara)
Setyono, Kampus08 September, 2026 20:51 WIB

Eduwara.com, PALEMBANG - Pekebun kelapa sawit swadaya di Sumatera Selatan didorong meningkatkan kemampuan dalam melakukan pemetaan lokasi perkebunan. Keterampilan tersebut dinilai penting untuk mendukung penataan kebun, meningkatkan produktivitas, sekaligus memperbaiki tata kelola perkebunan kelapa sawit.

Upaya tersebut dilakukan melalui Pelatihan Teknik Pemetaan Lokasi Perkebunan Kelapa Sawit yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) bersama Kementerian Pertanian melalui LPP Agro Nusantara.

Pelatihan berlangsung pada Selasa-Jumat (1-4/9/2026) di Emilia Hotel by Amazing, Palembang. Kegiatan tersebut diikuti 62 pekebun swadaya yang berasal dari Kabupaten Musi Rawas dan Ogan Komering Ilir.

Kegiatan diawali dengan penampilan Tari Serumpun Sepayong. Pembukaan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Kepala Bidang Produksi Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Havizman.

Dalam sambutannya, Havizman menegaskan bahwa produktivitas masih menjadi salah satu isu strategis yang harus mendapat perhatian dalam pengembangan perkebunan sawit swadaya.

“Produktivitas masih menjadi isu strategis dalam memperkuat peran pekebun sawit swadaya dalam peta bisnis kelapa sawit nasional. Karena itu, peningkatan keterampilan dan pemerataan pemahaman mengenai praktik budidaya yang baik menjadi tanggung jawab bersama seluruh pelaku industri sawit di Indonesia,” kata Havisman dalam rilis, Selasa (8/9/2026).

Keberadaan pekebun swadaya, menurut Havisman, memiliki peran besar dalam industri kelapa sawit nasional. Data menunjukkan lahan yang dikelola pekebun swadaya mencapai sekitar 40 persen dari total lahan sawit nasional yang tersebar di 26 provinsi. Namun, kontribusi pekebun swadaya terhadap produksi crude palm oil (CPO) nasional baru berada pada kisaran 30–35 persen. 

“Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang yang cukup besar untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperbaiki tata kelola perkebunan swadaya,” katanya.

Field Trip

Pelatihan pemetaan diharapkan menjadi salah satu upaya membekali pekebun dengan keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung dalam pengelolaan kebun. Pemetaan lokasi juga menjadi bagian penting dalam penataan data dan kondisi perkebunan secara lebih akurat.

Sebagai bagian dari praktik lapangan, para peserta mengikuti field trip pada Jumat (4/9/2026) ke KPPS Tani Mulia Sejahtera, Kabupaten Muara Enim. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengimplementasikan pengetahuan mengenai teknik pemetaan yang diperoleh selama pelatihan.

Kegiatan kemudian ditutup oleh SME LPP Agro Nusantara, Fadhli Fauzi. Ia mengapresiasi antusiasme para peserta selama mengikuti pelatihan. Menurutnya, semangat peserta dalam mempelajari teknik pemetaan menjadi modal penting untuk mendorong penataan kebun yang lebih baik.

“Penguasaan keterampilan tersebut diharapkan dapat mendukung pekebun swadaya dalam mengelola perkebunan secara lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Penguatan sektor hulu menjadi bagian penting dalam mendorong hilirisasi industri kelapa sawit nasional. Produktivitas kebun, efisiensi penggunaan sumber daya, serta pengelolaan lingkungan menjadi fondasi untuk menghasilkan produk sawit bernilai tambah yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Rachmat Pambudy, Sabtu (5/9/2026), menegaskan pemerintah memberikan mandat kepada Bappenas untuk mendorong hilirisasi, termasuk hilirisasi komoditas kelapa sawit. Namun, hilirisasi ini tidak akan berjalan optimal tanpa pembenahan di tingkat hulu atau on-farm.

“Intinya Bappenas diminta mengurus hilirisasi. Hilirisasi sawit hanya bisa terjadi kalau on-farm (kebun) beres, hulunya beres,” tegasnya.

Karena itu, Rachmat menilai inovasi memiliki posisi penting dalam membangun ekosistem hilirisasi sawit. Teknologi pengolahan tidak hanya dituntut mampu menghasilkan produk bernilai tambah, tetapi juga meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan air serta menekan emisi karbon.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa agenda hilirisasi sawit ke depan tidak cukup hanya diukur dari kemampuan mengolah bahan baku menjadi produk bernilai tambah. Hilirisasi juga perlu dibangun melalui proses produksi yang efisien, hemat sumber daya, dan memiliki jejak lingkungan yang lebih rendah.

Dengan pendekatan tersebut, hilirisasi sawit diharapkan tidak berhenti pada peningkatan nilai tambah produk. Pembenahan dari sektor hulu, termasuk melalui pemetaan dan penataan kebun, menjadi bagian dari upaya membangun rantai industri sawit yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, penguatan tata kelola kebun diharapkan dapat mendukung produksi minyak sawit dengan karakteristik low water consumption, low energy consumption, dan low carbon emission, sehingga industri sawit nasional semakin kompetitif sekaligus mampu memenuhi tuntutan keberlanjutan.

Read Next