logo

Kampus

AI Bisa Munculkan Ketidakpastian dalam Penilaian Berbahasa

AI Bisa Munculkan Ketidakpastian dalam Penilaian Berbahasa
Dosen Moray House School of Education and Sport, University of Edinburgh, Farah Akbar, usai menjadi pembicara seminar “AI dan Masa Depan Penilaian Bahasa: Peluang, Tantangan, dan Contoh Praktis”, berfoto bersama dengan para peserta seminar. Farah mendorong pendidik untuk mengalihkan fokus dari deteksi penggunaan AI ke perancangan ulang metode penilaian. Ia menekankan pentingnya menilai proses berpikir mahasiswa, bukan sekadar hasil akhir. (EDUWARA/Dok. UKDW)
Setyono, Kampus20 April, 2026 06:22 WIB

JOGJA, Eduwara.com - Kalangan akademisi mengajak para pengajar untuk mengubah metode penilaian di tengah masifnya penggunaan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) oleh mahasiswa. Dalam seminar “AI dan Masa Depan Penilaian Bahasa: Peluang, Tantangan, dan Contoh Praktis”, kehadiran teknologi ini disebut menimbulkan tantangan baru dalam menilai kemampuan bahasa mahasiswa.

Dosen Moray House School of Education and Sport, University of Edinburgh, Farah Akbar, yang menjadi pembicara dalam seminar tersebut memaparkan bagaimana AI telah mengubah cara mahasiswa menyelesaikan tugas serta menantang metode penilaian yang selama ini digunakan oleh pendidik.

“AI generatif seperti GPT dan Gemini mampu menghasilkan teks yang terstruktur dan meyakinkan, namun tidak melalui proses pemahaman seperti manusia. Hal ini menimbulkan tantangan baru dalam menilai kemampuan bahasa mahasiswa,” kata Farah Akbar, dikutip pada Rabu (15/4/2026).

AI, menurut Farah, bisa menghasilkan teks yang sangat rapi dan meyakinkan, tetapi itu tidak berarti AI benar-benar memahami apa yang ditulisnya. Farah bahkan menyebut AI bisa memunculkan ketidakpastian dalam proses evaluasi.

“Pendidik, sering kali hanya melihat hasil akhir tanpa mengetahui proses berpikir di baliknya. Guru melihat hasilnya, tetapi mereka tidak melihat pemikiran di baliknya,” ujarnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Farah mendorong pendidik untuk mengalihkan fokus dari deteksi penggunaan AI ke perancangan ulang metode penilaian. Ia menekankan pentingnya menilai proses berpikir mahasiswa, bukan sekadar hasil akhir. 

“Seringkali kita menilai hasilnya, bukan pemikirannya. Kita menilai apa yang dihasilkan, bukan bagaimana hal itu dihasilkan,” tegasnya.

Potensi dan Dampak

Sebagai solusi, Farah menawarkan pendekatan penilaian yang lebih menekankan pada kualitas analisis, kekuatan argumen, serta kemampuan mahasiswa dalam menjelaskan dan mempertanggungjawabkan ide. Pendekatan ini dinilai lebih relevan untuk mengukur kompetensi pada era AI.

Dengan mengajak anak didik melalui sesi interaktif, mahasiswa diajak membedakan antara teks yang dihasilkan AI dan tulisan manusia. Aktivitas ini menunjukkan bahwa hasil AI kerap sulit dibedakan, meskipun belum tentu mencerminkan kedalaman pemahaman.

Sementara, dalam Bali AI Summit 2026 yang diselenggarakan Indonesia Artificial Intelligence Society (IAIS) pada Kamis-Jumat (9-10/4/2026, dosen Informatika UKDW, Lucia Dwi Krisnawati, menyoroti kesenjangan antara potensi AI dan dampaknya di dunia nyata, terutama dari aspek penggunaan, keterbatasan biaya, dan ketersediaan data.

“Memang, sekadar menghasilkan pengetahuan sudah tidak cukup dalam ekosistem AI yang bergerak cepat dan aplikatif. Jika akademisi ingin tetap relevan, pergeseran peran ini sangat diperlukan. Ini bukan sekadar soal output, tetapi juga cara berpikir, cara bekerja, dan cara mengukur keberhasilan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Lucia mendorong redefinisi tujuan riset, dari yang semula berfokus pada kebaruan (novelty) menjadi lebih menekankan relevansi dan utilisasi. Menurutnya, akademisi perlu berani merancang penelitian yang berangkat dari permasalahan nyata di masyarakat tanpa mengabaikan kualitas ilmiah.

“Selama insentif masih bertumpu pada jumlah publikasi dan sitasi, sulit mendorong dampak nyata. Perlu perluasan indikator seperti adopsi teknologi di industri atau masyarakat, kontribusi pada kebijakan publik, startup berbasis riset, maupun dampak sosial lainnya yang terukur,” pungkasnya.

Read Next