logo

Kampus

Akademisi UKDW Sepakat Bantu Pemkot Yogyakarta Mengkonservasi Sungai

Akademisi UKDW Sepakat Bantu Pemkot Yogyakarta Mengkonservasi Sungai
Forum diskusi yang diprakarsai UKDW dan menghadirkan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, sebagai salah satu narasumber. (EDUWARA/Dok. Humas Pemkot Yogyakarta)
Setyono, Kampus14 Oktober, 2026 20:47 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) mendorong penguatan konservasi Sungai Code, Winongo, dan Gajah Wong yang melintasi area Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), melalui riset dan kolaborasi lintas sektor.

Mengusung tema, ‘Rooted in Faith, Sprouting in Innovation and Sustainability’, sebuah diskusi digelar UKDW dengan mempertemukan akademisi, pemerintah, komunitas, dan dunia usaha untuk menghubungkan hasil penelitian dengan kebijakan serta aksi nyata di masyarakat.

Rektor UKDW, Wiyatiningsih, mengatakan persoalan sungai perlu dipahami secara menyeluruh karena berkaitan erat dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat di sekitarnya. Konservasi sungai tidak hanya menyangkut pemulihan lingkungan, tetapi juga keberlanjutan kehidupan masyarakat.

“Ketika kita berbicara tentang sungai, tidak hanya bicara tentang aliran air, tetapi juga bicara tentang kehidupan masyarakat, sosial, dan budaya di sekitarnya. Bagaimana UKDW, khususnya perguruan tinggi, bisa berpartisipasi dan berkontribusi dalam melakukan konservasi sungai, ini yang akan kita bahas,” ujar Wiyatiningsih, dikutip Rabu (14/10/2026).

Wiyatiningsih menegaskan perguruan tinggi dapat berperan melalui pengembangan pengetahuan dan inovasi yang menjawab persoalan lingkungan. Karena itu, kerja sama antara UKDW, Pemkot Yogyakarta, komunitas, dan berbagai pihak, diperlukan agar hasil penelitian dapat mendukung upaya konservasi yang berkelanjutan.

Dosen Fakultas Bioteknologi UKDW, Djoko Rahardjo, memaparkan persoalan pencemaran Sungai Code, Winongo, dan Gajah Wong berdasarkan penelitian selama lima tahun. Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa pencemaran masih terjadi secara konsisten di ketiga sungai, dengan limbah rumah tangga sebagai salah satu sumber utamanya.

Menurut Djoko, pemulihan sungai tidak cukup dilakukan melalui pembersihan fisik. Upaya tersebut perlu disertai perubahan perilaku masyarakat dan peningkatan pemahaman mengenai dampak aktivitas sehari-hari terhadap kualitas ekosistem sungai.

Djoko mengusulkan sejumlah langkah, antara lain edukasi berbasis komunitas dan sekolah di bantaran sungai, pemantauan kualitas air yang melibatkan warga, pemulihan vegetasi di tepian sungai, serta pengelolaan air limbah dan sampah.

“Langkah-langkah ini diharapkan dapat menghubungkan hasil penelitian dengan tindakan nyata di lingkungan masyarakat,” tegasnya.

Kolaborasi

Perspektif kolaborasi disampaikan oleh Chairman of Water Stewardship Indonesia, Fany Wedahuditama, yang menekankan pentingnya tata kelola bersama dalam pengelolaan sungai karena persoalan di satu bagian dapat berdampak pada bagian lainnya, dari hulu hingga hilir.

Dalam upaya tersebut, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui penelitian dan pemantauan kualitas air, sementara pemerintah berperan dalam penyusunan kebijakan dan integrasi program ke dalam perencanaan pembangunan. Dunia usaha dan komunitas juga dapat mendukung konservasi melalui praktik penggunaan air yang bertanggung jawab serta pemantauan kondisi sungai.

Sementara itu, Kepala Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Profesi Arsitektur UKDW sekaligus Koordinator Konsorsium PTN-PTS Klaster Ruang Publik Kota Yogyakarta, Henry Feriadi, mendorong agar sungai dipandang sebagai bagian dari ekosistem perkotaan yang terhubung dengan kawasan hunian, ruang publik, dan kehidupan masyarakat.

Henry juga mengusulkan pemanfaatan sungai sebagai living laboratory atau laboratorium hidup untuk penelitian, pendidikan, inovasi, dan aksi nyata. Pendekatan ini memungkinkan kegiatan akademik terhubung langsung dengan kebutuhan masyarakat sekaligus membuka ruang kerja sama antara mahasiswa, dosen, pemerintah, komunitas, dan dunia usaha.

Hadir sebagai narasumber, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, yang menekankan pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya untuk menjaga kebersihan sungai. Pemkot Yogyakarta telah mengembangkan sejumlah program, antara lain gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS), pembuatan biopori jumbo, pengelolaan sampah organik melalui emberisasi, serta layanan Tim Reaksi Cepat Mas JOS untuk menangani sampah berukuran besar agar tidak dibuang ke sungai.

Pemkot Yogya juga memasang trash barrier atau penghalang sampah dan melibatkan satuan tugas sungai untuk memantau serta menangani persoalan di lapangan.

“Sungai betul-betul menjadi focus of interest kita, karena menyelesaikan sungai itu lebih sulit daripada di darat. Maka kalau kita sukses membersihkan sungai, maka ini menjadi goal. Nanti saya berharap perguruan tinggi turun ke sungai, turun ke warga untuk masalah sampah dan kebersihan sungai. Saya berharap betul itu bahwa remaja akan tergerak,” pungkasnya.

Read Next