logo

Kampus

‘Muhammadiyah United’, Upaya PTMA Tingkatkan Jejaring Guru Besar Lintas Kampus

‘Muhammadiyah United’, Upaya PTMA Tingkatkan Jejaring Guru Besar Lintas Kampus
Ketua Panitia Forkom GB-PTMA 2026, Sidik Jatmika, menyampaikan gagasannya tentang "Muhammadiyah United" di hadapan lebih dari 100 guru besar PTMA. (EDUWARA/Dok. UMY)
Setyono, Kampus09 Oktober, 2026 21:35 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Sebanyak 117 dari 162 perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) tercatat belum memiliki guru besar. Kesenjangan tersebut hendak dijawab lewat gagasan “Muhammadiyah United”, yakni jejaring guru besar lintas kampus.

Gagasan tersebut mengemuka dalam agenda Forum Komunikasi Guru Besar PTMA (Forkom GB-PTMA) 2026 yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (9/10/2026).

Ketua Panitia, Sidik Jatmika, memaparkan hasil temuan dan gagasannya tersebut di hadapan lebih dari 100 guru besar yang hadir. Ia menyebut sekitar 480 guru besar memiliki homebase di PTMA, tetapi baru 45 kampus yang memilikinya. Sebaran tersebut dinilai belum merata dan menjadi pekerjaan besar bila kualitas para guru besar ingin dilakukan pemerataan.

“Bila setiap tahun 10 kampus terbantu, pemerataan butuh waktu panjang. Itu artinya, setidaknya butuh 12 tahun untuk memastikan semua kampus memiliki guru besar. Tentu bukan pekerjaan yang mudah,” katanya.

Karena itu, Sidik merasa forum ini dapat merangkul kampus yang belum memiliki guru besar. Menurutnya, mereka dapat hadir untuk benchmarking guna membangun ekosistem yang mempercepat lahirnya guru besar.

Sidik membeberkan bahwa jalan keluarnya adalah dengan menyatukan potensi guru besar yang ada. Ia menamai gagasan tersebut ‘Muhammadiyah United’.

“Dalam forum ini, salah satu tujuannya, kita ingin membentuk apa yang disebut Muhammadiyah United. Ini dimaksudkan sebagai wadah profesor Muhammadiyah bagi seluruh PTMA,” imbuhnya lagi.

Dengan begitu, Sidik optimis bahwa sekitar 500 guru besar di lingkungan PTMA dapat dioptimalkan bersama.

Pemetaan

Langkah pertama Sidik, memetakan keahlian guru besar yang selama ini belum teridentifikasi. Pemetaan mengelompokkan mereka berdasarkan rumpun ilmu, seperti Al-Islam, kependidikan, humaniora, ilmu alam, dan ilmu sosial.

Dari pemetaan tersebut, Sidik mengusulkan guru besar yang berkunjung ke kampus tidak sebatas mengajar sebagai dosen tamu. Ia mencontohkan, sekali guru besar datang bisa melaksanakan 5 sampai 6 fungsi.

Guru besar dapat menjadi dosen kedua yang mendampingi dosen lokal sebagai dosen utama. Menurut Sidik, skema tersebut juga dapat meningkatkan reputasi kampus. Mereka juga dapat terlibat dalam penelitian, pengabdian, dan publikasi.

“Peran lainnya adalah konsultan akademik bagi 162 PTMA,” jelasnya.

Forum menargetkan Pernyataan Bersama, Rekomendasi Strategis, Matriks Rencana Tindak Lanjut 2026-2027, dan kepengurusan Forkom GB-PTMA periode 2026-2030. Program lintas PTMA dapat dikembangkan melalui konsorsium atau kelompok kerja khusus.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, saat sambutan menyampaikan konstruksi pendidikan Indonesiaan perlu dibenahi dari hulunya, bukan sekadar menambal persoalan di hilir.

Menurut Haedar, cara berpikir konstruksi ke-Indonesiaan harus dimiliki oleh para guru besar. Ia mencontohkan guru besar ilmu politik yang perlu memahami bangunan politik Indonesia sebelum menyelesaikan masalah politik sehingga jangan melompat ke masalah. 

‘’Saya rasa, bangsa ini sering kurang kesabaran termasuk dalam cara membangun sistem. Ketika ada bagian yang gagal, seluruh bangunan dirombak dan diganti yang baru. Ini menghasilkan demokrasi, HAM, dan pluralisme berkembang secara liberal,” katanya.

Pola serupa juga terlihat dalam pengelolaan sumber daya alam. Haedar menilai, segala pro dan kontra soal tambang ramai di hilir, sementara hulunya adalah bumi beserta kekayaannya yang dipergunakan untuk hajat hidup.

Read Next