Kampus
30 Januari, 2026 05:45 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli memprediksi akan lahir 170 juta lapangan kerja baru berbasis ekonomi digital dan kreatif pada tahun 2030. Menurutnya, kunci sukses dalam dua bidang ini adalah kreativitas dan kolaborasi.
Hal ini disampaikan Yassierli saat memberikan Kuliah Umum bertajuk "Program Pemagangan untuk Penguatan Daya Saing SDM Seni dan Ekonomi Kreatif" di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Kamis (29/1/2026).
Meski peluang terbuka lebar, Yassierli memberikan catatan kritis mengenai disrupsi teknologi. Sekitar 92 juta pekerja skala teknis diprediksi akan hilang atau tergantikan oleh otomatisasi. Hal ini memaksa 59 persen tenaga kerja untuk segera melakukan pembaruan keterampilan (reskilling).
“AI (Artificial Intelligence) idealnya digunakan untuk memperkuat kreativitas manusia, bukan menggantikannya," tegas Yassierli di hadapan sivitas akademika ISI Yogyakarta.
Yassierli menekankan bahwa di masa depan, pekerja tidak bisa hanya mengandalkan satu keahlian teknis, melainkan harus mengedepankan kreativitas dan kolaborasi.
Basis ekonomi digital nantinya akan berimplikasi pada berbagai sektor, seperti ekonomi berbasis AI dan teknologi, ekonomi digital, kreatif, ekonomi hijau, biru, sirkular, dan berkelanjutan, serta ekonomi perawatan yang berpusat pada manusia. Selain itu, terdapat disrupsi AI, digitalisasi, transisi hijau dan keberlanjutan, pergeseran demografi, serta ekonomi perawatan.
Dengan kondisi ekonomi digital dan kreatif di Indonesia yang didominasi pekerja informal berpendidikan maksimal SMA/SMK, Yassierli melihat calon lulusan perguruan tinggi, terutama dari ISI Yogyakarta, akan memiliki latar belakang akademis yang lebih kompetitif dibandingkan yang lain.
"Sekali lagi, ini menjadi peluang. Namun harus tetap diperhatikan, untuk bisa sukses dalam berbagai sektor tersebut, pelaku ekonomi digital dan kreatif tidak bisa hanya mengandalkan keterampilan (skill). Namun, harus didukung penuh kreativitas dan kolaborasi," paparnya.
Multiketrampilan
Kehadiran AI bagi pekerja seni juga disebut Yassierli menjadi tantangan dan kompetitor, tidak hanya bagi pekerja seni tetapi juga pada semua pekerjaan. Namun, ia mengingatkan bahwa AI selayaknya digunakan sebagai alat, bukan sebagai kompetitor.
"AI idealnya untuk memperkuat kreativitas manusia, bukan menggantikannya," tegasnya.
Sebagai upaya menyiapkan 154 juta angkatan kerja di Indonesia, Yassierli mengatakan saat ini Kementerian Ketenagakerjaan, melalui program magang enam bulan, mensyaratkan setiap pemagang tidak hanya memiliki satu keterampilan. Mereka harus menguasai satu keterampilan khusus dan dua keterampilan umum (general), atau dua keterampilan khusus dan dua keterampilan umum. Bahkan kalau bisa, pemagang yang nantinya lulus memiliki multiketerampilan (multitalented).
Dalam sambutannya, Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi, menjelaskan bahwa kuliah umum hari ini juga menjadi wujud komitmen pihaknya untuk terus membangun kolaborasi lintas sektor antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia industri, dan masyarakat.
"Semuanya demi menciptakan ekosistem pengembangan SDM seni dan kreatif yang berkelanjutan sehingga para mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih utuh tentang arah kebijakan nasional ketenagakerjaan, peluang pemagangan, serta strategi mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional," katanya.
Menurut Irwandi, ISI Yogyakarta memandang pemagangan bukan sekadar program tambahan, tetapi merupakan bagian penting dari strategi pembelajaran berbasis pengalaman nyata (experiential learning). Melalui program seperti Magang Berdampak dan berbagai skema pemagangan nasional, mahasiswa seni diharapkan tidak hanya menjadi pencipta karya, tetapi juga menjadi profesional kreatif yang tangguh dan berdaya saing.
Bagikan