59,9 Persen Mata Kuliah di UMY Berkaitan dengan Isu Keberlanjutan dan Lingkungan

29 Oktober, 2026 19:30 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

29102026-UMY Suistainibility Report.jpg
Jajaran petinggi UMY memaparkan UMY Sustainability Report 2025. (EDUWARA/Dok. UMY)

Eduwara.com. JOGJA - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memastikan pendidikan menjadi pintu utama untuk memastikan nilai-nilai pembangunan berkelanjutan hadir dalam proses pembentukan lulusan. Dalam laporan capaian Sustainable Development Goals (SDGs), sebanyak 59,9 persen mata kuliah di UMY berkaitan langsung dengan isu keberlanjutan dan lingkungan.

Dalam UMY Sustainability Report 2025, Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan UMY, Slamet Riyadi, mengatakan UMY telah berkontribusi terhadap 17 SDGs, kinerja Tridharma, pengelolaan kampus, kemitraan, serta capaian global.

“UMY menjalankan 886 penelitian dan 735 program pengabdian kepada masyarakat terkait SDGs, dengan jejaring penelitian internasional yang menjangkau 37 negara. Portofolio ini menunjukkan bahwa implementasi SDGs di UMY telah berkembang menjadi agenda lintas-disiplin dan lintas-sektor,” terang Slamet Riyadi kepada wartawan, Rabu (28/10/2026).

Dipaparkannya pula, selama 2025, sebanyak 1.083 dari 1.808 atau 59,9 persen mata kuliah di UMY berkaitan langsung dengan keberlanjutan. Keseluruhan mata kuliah ini memiliki keterkaitan dengan agenda pembangunan berkelanjutan, seperti sustainable cities, politik lingkungan, sociopreneurship, pengelolaan desa, kewirausahaan, Corporate Social Responsibility, pemasaran sosial, etika profesi, hingga pengelolaan bencana dan sumber daya.  

Education for Sustainable Development (ESD) yang diterapkan di UMY dipaparkan Slamet tidak ditempatkan sebagai satu mata kuliah khusus, tetapi diintegrasikan ke berbagai disiplin melalui pembelajaran yang membahas kesehatan, kemiskinan dan kesejahteraan, kewirausahaan, tata kelola, lingkungan, perubahan iklim, teknologi, hak asasi manusia, serta pembangunan masyarakat.

Pendekatan ini semakin diperkuat melalui penerapan Outcome Based Education (OBE) dan orientasi Kampus Berdampak, sehingga pembelajaran tidak berhenti pada penyampaian pengetahuan.

“Mahasiswa diarahkan untuk memahami persoalan keberlanjutan, mengembangkan kemampuan problem solving, bekerja bersama masyarakat, dan menghubungkan keahlian bidang studinya dengan tantangan nyata,” paparnya.

Kontribusi

Secara keseluruhan, Slamet menjelaskan bagaimana penelitian dan riset riset-riset dosen maupun mahasiswa tidak hanya menjadi publikasi saja yang ditampilkan di dalam berbagai macam jurnal, tetapi betul-betul bisa menyelesaikan permasalahan masyarakat, digunakan oleh masyarakat, bangsa dan negara.

Terkait dengan bakal berakhirnya program SDGs pada 2030, Slamet menegaskan bahwa UMY tetap berkomitmen fokus pada bagaimana penyediaan pendidikan yang berkelanjutan bagi semuanya.

“Meskipun setelah 2030 nanti, konsep pembangunan berkelanjutan yang ditetapkan United Nations berubah indikatornya. Kami meyakinan ke depan, dampak maupun pengaruh dari kecerdasan buatan (AI) menjadi kriteria dan UMY siap untuk itu,” tegasnya.

Sedangkan Wakil Rektor Bidang Pengembangan, Kemahasiswaan, dan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) UMY, Faris Al-Fadhat, mengatakan ke depan, perhatian UMY pada keberlanjutan di bidang pendidikan tidak hanya mempersiapkan masa depan mahasiswa tetapi juga bagaimana mahasiswa itu punya kontribusi kepada masyarakat.

“Ada dua hal yang sangat mendasar. Yang pertama, UMY memberi akses pendidikan dengan kualitas baik tapi juga punya sasaran yang juga membantu untuk keberlanjutan. Misalnya kita menyiapkan 40 skema beasiswa kita di tahun 2025,” ucapnya.

Dari total 5000 mahasiswa baru yang diterima tahun ini, Faris menyebutkan sebanyak 19,4 persen berasal dari keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi. Saat ini, sebanyak 1.500 mahasiswa telah mendapatkan beasiswa sehingga punya masa depan panjang. Mereka akan berkontribusi bagi peningkatan kualitas hidup di keluarganya.