Sekolah Kita
06 Mei, 2026 06:02 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Banyak orang tua menganggap komunikasi lewat group pesan dengan guru, terkait materi pembelajaran dan informasi pendidikan, sudah melibatkan mereka dalam proses pendidikan anak. Padahal, komunikasi melalui saluran pesan tersebut tidak mampu menangkap perkembangan dan permasalahan anak yang muncul dalam proses pengajaran lebih awal.
“Keyakinan itu salah besar dan ada bukti ilmiah internasional yang membuktikannya. Aplikasi pesan seperti WhatsApp itu tidak dirancang untuk pendidikan. Kita yang memaksanya jadi alat komunikasi sekolah-orang tua karena tidak ada yang lain,” kata pakar SEVIMA sekaligus Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Imas Maesaroh, dikutip Selasa (5/5/2026).
Menurut Imas, penggunaan saluran pesan tersebut bukan soal niat baik orang tua maupun sekolah. Masalahnya, justru terletak pada sistem komunikasi tersebut yang tidak pernah dirancang untuk menangkap masalah lebih awal.
Menukil penelitian Peter Bergman yang dipublikasikan di Journal of Political Economy tahun 2021. Peter membagi orang tua menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, mendapat informasi perkembangan anak dari guru secara rutin setiap dua minggu sekali, sedangkan kelompok kedua tidak mendapat informasi apapun.
“Hasilnya mencolok. Anak dari kelompok pertama mengalami kenaikan kompetensi akademik yang signifikan, dari peringkat 30 di kelas bisa naik ke peringkat 10 atau 15. Kelompok kedua tidak menunjukkan kenaikan apapun, baik dari sisi akademik, karakter, maupun skill,” terangnya.
Penelitian lanjutan yang dilakukan Bergman dan Chan pada tahun 2021 di West Virginia memperkuat temuan tersebut. Sekolah yang mengirimkan pesan kepada orang tua setiap kali anak tidak masuk kelas, tidak mengerjakan tugas, atau mendapat nilai rendah, mencatat penurunan angka kegagalan mata pelajaran sebesar 27 persen, sementara tingkat kehadiran siswa naik 12 persen.
Hasil serupa juga ditemukan di Chile oleh tim Berlinski pada tahun 2024, yang menyebutkan nilai matematika naik dan kehadiran membaik, membuktikan pola ini berlaku di negara berkembang seperti Indonesia.
‘’Komunikasi guru-orang tua yang rutin dan akurat secara langsung menggerakkan karakter, kompetensi, dan skill anak,’’ katanya.
Broadcast Generik
Menurut Imas, ada beberapa hal yang sebenarnya tidak bisa disampaikan langsung melalui aplikasi pesan. Pertama, informasi di grup WhatsApp bersifat broadcast generik untuk seluruh orang tua, bukan laporan spesifik per anak.
Kedua, pesan penting dari guru kerap tenggelam di antara stiker, ucapan ulang tahun, dan obrolan yang tidak relevan. Ketiga, informasi sensitif seperti penurunan nilai atau pelanggaran disiplin tidak seharusnya diekspos di forum terbuka yang dapat diakses puluhan keluarga sekaligus.
Keempat, aplikasi pesan tidak terhubung dengan data akademik sekolah. Orang tua tidak dapat melihat nilai harian, rekap kehadiran, maupun status pengumpulan tugas secara langsung dari platform tersebut. Kelima, ratusan notifikasi yang masuk setiap hari justru menjadi beban kognitif bagi orang tua bekerja, bukan sumber informasi yang berguna.
"Orang tua merasa sudah terhubung dengan sekolah karena ada di grup. Padahal yang mereka dapat hanya kebisingan, bukan informasi yang benar-benar dibutuhkan tentang kondisi spesifik anak mereka," ujarnya.
Imas juga menyoroti sisi guru. Menurutnya, sangat tidak realistis mengharapkan seorang guru mengirim pesan personal ke puluhan orang tua, per anak, setiap hari di tengah beban administratif dan mengajar yang sudah sangat tinggi. Sistem komunikasi pendidikan yang baik harus bekerja secara otomatis, bukan mengandalkan tenaga manual guru yang sudah terbatas.
Imas menetapkan empat informasi minimum yang berhak diterima orang tua secara rutin dari sekolah, yaitu kehadiran anak secara real-time, perkembangan nilai akademik per mata pelajaran, jadwal dan kehadiran dalam kegiatan ekstrakurikuler, serta identitas dan kontak pendamping saat anak mengikuti kegiatan di luar lingkungan sekolah.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Imas mendorong penggunaan platform terintegrasi yang mampu menyampaikan data kehadiran dan nilai secara real-time langsung kepada orang tua, tanpa menambah beban operasional guru.
Bagikan