Berperan Penting dalam Pendidikan Karakter, Kapasitas Guru Harus Ditingkatkan

01 Oktober, 2026 21:10 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

01102026-UMY Nurwanto.jpg
Dekan Fakultas Studi Islam dan Peradaban (FSIP) UMY, Nurwanto. (EDUWARA/Dok. UMY)

Eduwara.com, JOGJA - Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Nurwanto, meminta pemerintah saat ini untuk menyelesaikan tantangan utama pendidikan. Ia menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas guru, penguatan layanan bimbingan konseling, serta optimalisasi berbagai program pembinaan siswa sebelum menambah program baru.

Pernyataan Nurwanto ini menyikapi peluncuran Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler pilihan pada jenjang pendidikan menengah tahun ajaran 2026/2027.

Nurwanto menilai tantangan utama pendidikan saat ini bukan hanya menghadirkan program baru, melainkan memastikan sistem pendidikan yang telah ada berjalan secara optimal.

“Kalau guru-guru dilatih, kemudian bimbingan konseling diberdayakan lagi, itu saja yang difokuskan. Penguatan pendidikan karakter perlu berangkat dari kebutuhan nyata sekolah, bukan sekadar menambah struktur atau program baru,” kata Nurwanto, Kamis (1/10/2026).

Nurwanto berpandangan berbagai organisasi dan kegiatan siswa yang telah berjalan sebenarnya memiliki potensi besar dalam membangun karakter generasi muda. Karena itu, ia mendorong agar program yang sudah ada diperkuat melalui dukungan pembina, fasilitas, dan pengelolaan yang lebih baik.

Menurut Nurwanto, guru memiliki posisi sentral karena pendidikan karakter tidak hanya terjadi melalui program formal, tetapi juga melalui keteladanan dan proses pembelajaran di sekolah. Tujuan akhir pendidikan karakter bukan hanya menciptakan siswa yang disiplin secara fisik, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki kepedulian terhadap bangsa sekaligus mampu berpikir secara dewasa.

Nilai Kebangsaan

Dekan Fakultas Studi Islam dan Peradaban (FSIP) UMY ini juga menilai penguatan karakter cinta tanah air dan bela negara merupakan bagian penting dalam pendidikan. Namun, penanaman nilai kebangsaan perlu ditempatkan dalam perspektif pendidikan yang lebih luas, bukan hanya melalui pendekatan kedisiplinan tertentu.

“Sekolah merupakan ruang pendidikan yang harus tetap memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir, berekspresi, dan mengembangkan kesadaran kritis,” tegasnya.

Nurwanto menjelaskan sekolah sebenarnya telah memiliki berbagai instrumen untuk membangun nilai kebangsaan peserta didik. Selain melalui pembelajaran di kelas, pendidikan karakter juga berkembang melalui kegiatan organisasi dan ekstrakurikuler, seperti Pramuka, Hizbul Wathan (HW), maupun Paskibraka.

“Berbagai kegiatan tersebut memiliki fungsi penting karena memberikan ruang pengalaman langsung bagi siswa dalam membangun tanggung jawab, kerja sama, kedisiplinan, dan kepedulian sosial,” paparnya.

Nurwanto juga menegaskan nilai-nilai kebangsaan sebenarnya telah menjadi bagian dari kurikulum nasional. Nilai bela negara dan cinta tanah air bukan merupakan hal baru dalam pendidikan Indonesia. Warga negara yang cinta tanah air adalah warga negara yang membaca sejarah dengan terbuka dan jujur.

“Pendidikan Pancasila, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan agama, bahkan ilmu sosial, semuanya memiliki semangat untuk membangun kehidupan bangsa,” pungkasnya.