Kampus
16 September, 2026 20:09 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Tim mahasiswa lintas program studi dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Program Studi Teknologi Elektro-Medis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan D-Sense. Ini adalah sebuah perangkat pemantauan berbasis teknologi sandang atau wearable yang dirancang untuk membantu pendamping atau caregiver mengenali aktivitas otot rahang yang mengindikasikan terjadinya bruksisme.
D-Sense fokus memperhatikan satu kondisi bruksisme atau bruxism, yakni aktivitas otot rahang berulang yang ditandai dengan menggertakkan atau mengatupkan gigi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa bruksisme cukup banyak ditemukan pada penyandang sindrom Down.
Tim ini diketuai Maryam Zalfaa Aurellia Alattas dengan anggota yaitu Muhamad Nur Sodiq, Muhammad Rafif Sarmadi, dan Najwa Raihana. Tim tersebut dibimbing oleh dosen FKG, Arief Waskitho.
Maryam menjelaskan bahwa D-Sense berangkat dari kebutuhan akan teknologi yang dapat membantu menjembatani komunikasi antara penyandang sindrom Down dan pendampingnya, terutama ketika pengguna kesulitan menyampaikan rasa sakit atau ketidaknyamanan.
“Kami membuat alat pemantauan ini untuk membantu komunikasi antara pendamping dan pengguna,” kata Maryam saat dihubungi pada Selasa (15/9/2026).
Secara teknis, D-Sense menggunakan sensor elektromiografi (EMG) yang ditempatkan pada area pipi. Sensor tersebut menangkap aktivitas listrik otot rahang dan meneruskan datanya ke aplikasi yang terhubung dengan perangkat.
Sebelum digunakan, sistem menjalani proses kalibrasi dengan merekam aktivitas otot ketika pengguna melakukan gigitan terkuat. Data tersebut kemudian menjadi nilai acuan untuk membaca intensitas aktivitas otot rahang.
Dalam prototipe D-Sense, tim menetapkan aktivitas otot yang mencapai 20 persen dari nilai gigitan terkuat sebagai indikasi episode bruksisme. Ambang tersebut digunakan oleh algoritma untuk membedakan aktivitas yang terdeteksi berdasarkan hasil kalibrasi setiap pengguna.
“Ketika aktivitas tersebut terdeteksi, aplikasi akan mengirimkan peringatan kepada pendamping. Aplikasi juga memberikan saran tindakan yang disesuaikan dengan tiga tingkat intensitas bruksisme, yaitu ringan, sedang, dan berat,” jelasnya.
Selain sistem peringatan, D-Sense dilengkapi fitur umpan balik berbasis getaran atau vibratory biofeedback. Fitur tersebut akan aktif secara otomatis apabila pendamping tidak memberikan respons terhadap peringatan yang dikirimkan aplikasi.
Getaran dirancang untuk mengalihkan perhatian pengguna ketika aktivitas bruksisme terdeteksi. Melalui mekanisme tersebut, tim berharap kebiasaan menggertakkan atau mengatupkan gigi dapat dihentikan pada saat terjadi.
Sesuai Kebutuhan
Menurut Maryam, bruksisme yang berlangsung secara berulang tanpa penanganan dapat memengaruhi kesehatan gigi dan mulut. Dampaknya dapat berupa pengikisan permukaan gigi, rasa nyeri, gangguan ketika mengunyah, hingga peningkatan risiko kerusakan dan kehilangan gigi.
Rasa sakit saat mengunyah juga dapat memengaruhi kenyamanan seseorang ketika makan. Apabila berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menurunkan asupan makanan dan memengaruhi kecukupan nutrisi.
Maryam menambahkan perangkat untuk memantau bruksisme telah dikembangkan di sejumlah negara. Namun, akses terhadap teknologi serupa di Indonesia masih terbatas, terutama perangkat yang dirancang sesuai kebutuhan penyandang sindrom Down dan pendampingnya.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Maryam dan tim mengembangkan D-Sense secara bertahap. Inovasi ini memperoleh pendanaan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) 2026.
Pengujian awal D-Sense dilakukan pada peserta tanpa sindrom Down. Tahap tersebut bertujuan menguji kemampuan algoritma dalam membedakan sinyal aktivitas otot yang mengindikasikan bruksisme dari gangguan sinyal lainnya.
Berdasarkan hasil pengujian internal tim, prototipe D-Sense mencatat akurasi pembacaan sebesar 98 persen. Angka tersebut merupakan hasil uji awal terhadap sistem dan belum dapat dipandang sebagai validasi klinis.
Setelah memperoleh persetujuan etik untuk penelitian yang melibatkan manusia, pengujian dilanjutkan kepada tujuh penyandang sindrom Down. Setiap peserta menjalani pemantauan selama 20 menit hingga dua jam.
Dalam kondisi pengujian, perangkat dilaporkan dapat terhubung dengan aplikasi pada jarak hingga 15 meter. Dari tujuh peserta, perangkat menunjukkan hasil pembacaan yang dinilai baik pada enam peserta.
“Dari tujuh penyandang sindrom Down yang mengikuti pengujian, enam orang menunjukkan hasil pembacaan yang baik. Kami memperoleh akurasi sekitar 93 persen,” paparnya.
Melalui D-Sense, tim berharap teknologi tidak hanya mampu merekam aktivitas otot rahang, tetapi juga membantu pendamping memahami ketidaknyamanan yang sulit disampaikan pengguna. Pengembangan berikutnya diharapkan dapat menyempurnakan prototipe hingga menjadi perangkat pemantauan yang aman, akurat, dan mudah digunakan.
Bagikan