Di Era Industri 5.0, Pendidik Asal Generasi Z Harus Berkarakter Self Defense Mechanism

22 Februari, 2024 05:30 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

22022024-umby gen z.jpg
Kaprodi Bimbingan Konseling (BK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) IKIP PGRI Wates, Endah Rahmawati, bersama dengan dosen BK Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Abdul Hadi, seusai Kuliah Umum, di Auditorium IKIP PGRI, Selasa (20/2/2024). Dalam Kuliah Umum bertajuk 'Menghadapi Generasi Strawberry dalam Kesiapan Karier di Era Industri 5.0', Abdul Hadi mengatakan generasi muda atau generasi Z mempunyai tantangan yang cukup serius, terutama menghadapi era industri 5.0, karena itu diperlukan karakter mekanisme pertahanan diri (self-defense mechanism). (EDUWARA/Dok. IKIP PGRI)

Eduwara.com, JOGJA - Generasi muda sering kali dipengaruhi oleh media sosial, teknologi, dan globalisasi dalam membentuk identitas dan gaya hidup mereka. Di tengah kreativitas dan kemajuan digital, generasi muda atau generasi Z ini mempunyai tantangan yang cukup serius, terutama menghadapi era industri 5.0. Ia menghadapi tekanan dari berbagai sumber seperti pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, dan media sosial yang dapat mempengaruhi kesehatan mental dan emosional mereka.

“Di era 5.0 diperlukan karakter yang memiliki mekanisme pertahanan diri (self-defense mechanism) atau kekuatan mental agar tidak mudah rapuh," kata dosen Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Abdul Hadi, Selasa (20/2/2024).

Hal ini dipaparkan Abdul Hadi saat menjadi pembicara kunci Kuliah Umum 'Menghadapi Generasi Strawberry dalam Kesiapan Karier di Era Industri 5.0' di Auditorium IKIP PGRI. Kuliah Umum ini dihadiri 200 mahasiswa Program Studi (Prodi) BK.

Menurut Abdul Hadi, generasi muda di Indonesia, yang sering disebut generasi Z, merupakan kelompok demografis yang lahir sekitar pertengahan hingga akhir 1990-an hingga awal 2010-an. 

"Mereka adalah generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital yang pesat, termasuk internet dan media sosial," jelasnya.

Stres

Selain itu, penggunaan yang berlebihan terhadap teknologi dan media sosial dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan isolasi sosial di kalangan generasi muda. Hal tersebut juga berkaitan dengan perubahan dalam lingkungan sosial dan ekonomi yang dapat menciptakan ketidakpastian dan stres.

Bagi generasi muda yang mencoba menavigasi masa transisi dari pendidikan ke dunia kerja, khususnya kecemasan menghadapi karier atau pekerjaan setelah menempuh pendidikan SMA maupun  kuliah, masalah-masalah yang ada pada generasi Z tersebut diibaratkan dengan generasi ‘Strawberry’, generasi yang kreatif dan inovatif namun mudah sakit hati atau kurang mengontrol emosi.

"Karakter dengan kekuatan mental ini diperlukan agar tidak mudah rapuh menghadapi segala permasalahan pribadi, sosial dan karier. Selain itu, penting juga menanamkan pola asuh, manajemen diri dan feedback sosial," lanjutnya.

Dengan ketiga model penanaman tersebut, diharapkan generasi Z, yang lekat sekali dengan istilah generasi Strawberry, siap menghadapi tantangan karier di era 5.0.

Kaprodi BK Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) IKIP PGRI Wates, Endah Rahmawati. Ia menyampaikan dengan adanya penguatan karakter generasi Z, melalui mekanismen pertahanan diri dan manajemen diri, diharapkan generasi Z tidak mudah larut dalam kesedihan yang seharusnya dapat diatasi sesuai dengan kemampuan sehingga tidak ada masalah dalam menghadapi kariernya.  

Selain itu, Dekan FKIP IKIP PGRI Wates, Geyol Sugiyanto, berharap kuliah umum terkait generasi Z yang lekat dengan istilah strawberry, perlu diadakan secara berkelanjutan dan ditekankan lebih mendalam pada mahasiswa.

"Khususnya prodi BK IKIP PGRI Wates sebagai calon guru yang berhadapan langsung dengan para generasi muda yang akan datang," tutupnya.