Kampus
05 Mei, 2026 06:59 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Wuri Handayani, meraih penghargaan internasional dalam ajang Universitas 21 (U21) Award atas kontribusinya dalam mendorong inclusive global engagement. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas upayanya memperluas akses pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas.
Penghargaan tersebut diserahkan pada Selasa (21/4/2026) dalam forum The Universitas 21 Annual Network Meeting and Leadership Summit yang digelar di University of Glasgow, Glasgow, Skotlandia. Pengakuan ini menempatkan Wuri sebagai akademisi sekaligus advokat yang dinilai berhasil mendorong perubahan sistemik, baik di tingkat institusi maupun jejaring global.
Wuri, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM, mengungkapkan penghargaan tersebut tidak lepas dari perjalanan pribadinya sebagai penyandang disabilitas yang pernah mengalami diskriminasi, baik di lingkungan akademik maupun layanan publik.
“Pengalaman tersebut menjadi titik awal komitmen saya dalam memperjuangkan kesetaraan akses pendidikan bagi penyandang disabilitas. Saya merasakan bagaimana hambatan dan diskriminasi yang dialami,” ungkap Wuri, Senin (4/5/2026).
Pengalaman yang berbeda dirasakannya saat menempuh studi magister di University of Leeds, Inggris. Di sana, sistem pendidikan dinilai telah menyediakan layanan disabilitas secara terstruktur melalui disability service unit yang mampu mengakomodasi kebutuhan akademik maupun non-akademik.
“Pengalaman itulah yang kemudian menginspirasi saya untuk menghadirkan layanan serupa di Indonesia, khususnya di UGM,” ujarnya.
Pembentukan ULD UGM
Sepulang ke Indonesia, Wuri mulai memperjuangkan pembentukan layanan disabilitas di kampus. Upaya tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Pada 2019, ia terlibat dalam inisiasi pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD) di UGM.
Meski sempat terhambat pandemi COVID-19, upaya tersebut kembali menguat pada 2023 melalui serangkaian workshop, penyusunan naskah akademik, hingga pembahasan di tingkat universitas. Perjuangan itu membuahkan hasil dengan terbitnya Peraturan Rektor Nomor 19 Tahun 2024 tentang pembentukan ULD UGM, yang kemudian diresmikan pada Desember 2024.
Sejak berdiri, ULD UGM memberikan dampak nyata bagi civitas akademika penyandang disabilitas. Berbagai akomodasi dan penyesuaian fasilitas kini tersedia bagi mahasiswa dengan disabilitas fisik, netra, tuli, maupun mental.
“Mahasiswa menjadi lebih percaya diri untuk mengakses layanan dan mengungkapkan kebutuhan mereka,” katanya.
Ke depan, Wuri berharap ULD UGM dapat berkembang menjadi center of excellence dalam pengembangan layanan disabilitas di pendidikan tinggi, tidak hanya bagi mahasiswa tetapi juga dosen dan tenaga kependidikan.
“Saya melihat perlu dirancang kurikulum yang lebih fleksibel tanpa mengurangi capaian pembelajaran. Inklusivitas bukan tujuan akhir, tetapi proses yang harus terus diperjuangkan dengan kolaborasi semua pihak,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor UGM Danang Sri Hadmoko menyampaikan capaian tersebut merupakan representasi komitmen UGM sebagai kampus inklusif.
“Beliau merepresentasikan peran UGM sebagai kampus yang ramah untuk semua. Penghargaan ini juga menjadi pengakuan dunia terhadap capaian UGM,” tuturnya.
Menurut Danang, prestasi ini berdampak pada peningkatan reputasi UGM di tingkat nasional maupun global. Ia berharap praktik baik yang dikembangkan UGM dapat menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi lain maupun pemerintah dalam memperluas akses pendidikan inklusif.
Bagikan