Kampus
29 April, 2026 06:37 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Pemerintah Indonesia dan China resmi menjalin kerja sama dalam integrasi dan sinergi antara pendidikan vokasi dengan industri sehingga mampu menghadapi berbagai disrupsi global. Kondisi ini diperkuat dengan era Asian Century, di mana Indonesia dan China menjadi motor kepemimpinan Asia.
Penandatangan kerja sama berlangsung saat Annual Conference of China–Indonesia TVET Industry–Education Alliance (CITIEA) yang digelar pada Senin-Selasa (27-28/4/2026) di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, memaparkan kolaborasi antarnegara menjadi semakin krusial untuk memperkuat daya saing.
“Perkembangan teknologi, perubahan iklim, serta dinamika geopolitik sebagai tantangan yang harus direspons secara adaptif. Kawasan Asia kini berada dalam momentum kebangkitan global,” terangnya, Senin (27/4/2026).
Praktino mengatakan, di era Asian Century sudah saatnya Indonesia dan China menjadi motor kepemimpinan Asia, di mana disrupsi yang terjadi saat ini perlu dipandang sebagai peluang untuk melakukan lompatan kemajuan.
“Kerja sama yang terbangun harus berorientasi pada aksi nyata dan dampak langsung bagi masyarakat,” tegasnya.
Keterlibatan industri dalam pendidikan juga perlu diperkuat agar menghasilkan solusi atas berbagai persoalan sosial. Pratikno turut menekankan pentingnya menghadirkan makna dalam konsep keterhubungan pendidikan dan industri.
Kolaborasi Internasional
Rektor UGM, Ova Emilia, menilai kolaborasi internasional menjadi kunci dalam menjawab perubahan industri yang berlangsung cepat. Ia menyoroti pentingnya penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri serta penguatan riset terapan.
Transformasi digital dan tuntutan keberlanjutan disebutnya, sebagai faktor yang mendorong perubahan tersebut. Karena itu, perguruan tinggi perlu beradaptasi melalui kemitraan lintas negara yang konkret.
“Forum ini menjadi ruang untuk menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang. UGM juga tengah membangun ekosistem masa depan yang menghubungkan talenta, teknologi, dan industri lintas negara,” ungkapnya.
Dekan Sekolah Vokasi UGM, Agus Maryono, menyampaikan konferensi ini diikuti lebih dari 300 peserta yang berasal dari puluhan institusi vokasi Indonesia dan Tiongkok serta berbagai perusahaan internasional.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut menunjukkan tingginya perhatian terhadap penguatan pendidikan vokasi berbasis kolaborasi global. Ia menilai forum ini menjadi ruang bertemunya kepentingan pendidikan, industri, dan inovasi teknologi dalam satu ekosistem.
“Kami ingin membangun keterhubungan dari hulu ke hilir, mulai dari proses belajar hingga penyerapan tenaga kerja di industri,” ujarnya.
Forum ini berfokus pada keterhubungan menyeluruh antara pendidikan, pelatihan, hingga dunia kerja. Skema tersebut diharapkan mampu membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa dan lulusan vokasi untuk mengakses pasar kerja internasional.
Perwakilan China–Indonesia TVET Industry–Education Alliance (CITIEA), Qiu Fuming, menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam pengembangan pendidikan vokasi. Ia menyampaikan bahwa kemitraan ini terus berkembang dan melibatkan berbagai institusi pendidikan serta industri dari kedua negara.
“Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kualitas pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan global. Selain itu, pertukaran pengetahuan dan pengalaman menjadi bagian penting dalam kerja sama ini,” tutupnya.
Bagikan