Ini Kata Dekan Psikologi Universitas Pancasila Soal Fenomena Crazy Rich

16 Maret, 2022 14:11 WIB

Penulis:Bhakti Hariani

Editor:Bunga NurSY

Sonny Y Soeharso.jpg
Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila Sonny Y Soeharso dalam Diskusi Publik Virtual yang digelar IKAL Strategic Centre dengan tema “Fenomena Crazy Rich Indonesia: Mengkhawatirkan?”, Rabu (16/3/2022) (Eduwara/Bhakti)

Eduwara.com, JAKARTA – Fenomena crazy rich tak terlepas dari peran media sosial yang digunakan oleh mereka untuk memamerkan harta benda yang bisa memacu kesenjangan sosial.

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila Sonny Y. Soeharso menuturkan, fenomena crazy rich membuat banyak orang ingin cepat kaya tanpa melihat proses untuk menjadi kaya tersebut.

Kelakuan para crazy rich yang belakangan malah tersangkut kasus hukum dengan memamerkan barang-barang mereka dinilai tak memiliki kepekaan terhadap situasi sosial saat ini dimana banyak orang terkena pemutusan hubungan kerja karena dampak dari pandemi Covid-19.

“Pameran kekayaan seperti itu jelas tidak peka terhadap situasi sosial yang terjadi. Apalagi mereka mendapatkan itu semua dengan cara yang tidak benar yakni memperdayai orang lain melalui trading,” tutur Sonny dalam Diskusi Publik Virtual yang digelar IKAL Strategic Centre dengan tema “Fenomena Crazy rich Indonesia: Mengkhawatirkan?”, Rabu (16/3/2022).

Dipaparkan Sonny, pelaku flexing ini sesungguhnya hanyalah orang biasa saja. Tindakan pamer berlebihan ini lekat dengan eksistensi diri dan identitas seseorang.

Lebih lanjut dikatakan Sonny, kondisi kesenjangan sosial akan makin melebar dengan perilaku pameran harta kekayaan yang dilakukan para crazy rich.  “Anak-anak muda ini jadi tidak bahagia, jadi merasa insecure karena tidak sekaya dan sesukses para crazy rich,” tutur Sonny yang juga mengajar di Lemhanas RI.

Kebahagiaan, lanjut Sonny, tak selamanya diidentikkan dengan uang yang banyak.  Dia mencontohkan negara Singapura dan Jepang yang memiliki tingkat perekonomian yang jauh lebih baik dari Indonesia, namun banyak warganya yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

“Uang terkait dengan kebahagiaan sebenarnya kembali kepada bagaimana kita memaknainya. Memang ini suatu paradoks. Namun tak selamanya pendapatan yang dihasilkan seseorang bisa memicu kebahagiaan,” papar Sonny.