Kampus
23 September, 2026 19:50 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Wakil Menteri Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, menegaskan setiap perguruan tinggi perlu memastikan ilmu dan pengetahuan yang dikembangkan tetap memiliki hubungan dengan persoalan masyarakat. Sebab, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mendidik manusia, mengembangkan ilmu, menjaga kebenaran, serta ikut menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Jangan biarkan ilmu terputus dari masyarakat. Jangan biarkan kampus hanya sibuk membangun dirinya sendiri,” tegas Fauzan di UGM, Rabu (23/9/2026).
Fauzan menyoroti pentingnya kepemimpinan di lingkungan perguruan tinggi, yang mampu menerjemahkan aturan ke dalam pelaksanaan yang inovatif. Pemimpin perguruan tinggi perlu memahami aturan sekaligus mencari ruang untuk menghadirkan cara kerja yang lebih relevan.
Fauzan mendorong perguruan tinggi membangun kolaborasi dengan memanfaatkan kepakaran dan sumber daya yang dimiliki masing-masing institusi. Selain itu, Fauzan menekankan soal keberanian menciptakan kebaruan dari sebuah inovasi dan terobosan kebijakan melalui konsep zero to one.
Fauzan juga mengingatkan perguruan tinggi agar tidak berhenti pada upaya meniru praktik yang sudah dilakukan institusi lain, melainkan mampu melakukan modifikasi hingga menghasilkan sesuatu yang baru.
Menurut Fauzan, kepemimpinan dengan visi yang jelas diperlukan agar perguruan tinggi dapat melihat kebutuhan masa depan dan menentukan arah transformasinya sendiri. Pada kesempatan itu, Fauzan juga membacakan puisi ‘Robohnya Sebuah Institusi’ sebagai bagian dari refleksi mengenai jati diri, tanggung jawab, dan peran perguruan tinggi.
“Kalau kita hanya meniru, pendidikan tinggi kita hanya dibiasakan membuat sesuatu yang sudah ada. Kita harus mampu menciptakan sesuatu yang baru,” pesannya.
Sinergi
Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) Tahap II merupakan kelanjutan dari proses pembelajaran yang telah dimulai pada tahap sebelumnya.
Rangkaian tersebut menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman mengenai tantangan yang dihadapi perguruan tinggi Indonesia, mulai dari perubahan lingkungan global, perkembangan teknologi, kompetisi talenta, tuntutan terhadap kualitas riset dan inovasi, hingga meningkatnya ekspektasi masyarakat.
“Proses pembelajaran antarpimpinan perguruan tinggi perlu terus dikembangkan agar peserta dapat membawa perspektif baru ke institusinya masing-masing,” katanya.
Badri juga menekankan pentingnya memperkuat pembelajaran dan sinergi antarpimpinan perguruan tinggi. Ia mencontohkan pengalaman Malaysia yang menurutnya berkembang melalui penguatan akademi kepemimpinan, kolaborasi antarkampus, berbagi sumber daya, serta penjaminan mutu.
Praktik tersebut menunjukkan pentingnya jejaring dan kolaborasi dalam mendorong perkembangan perguruan tinggi. Melalui AKPT, ia berharap peserta dapat membawa perspektif dan pengalaman baru untuk kemudian disesuaikan dengan konteks institusi masing-masing.
“Kami berharap apa yang dipelajari selama dua hari ini bisa dimodifikasi oleh Bapak dan Ibu ketika kembali ke institusi masing-masing,” pesannya.
Bagikan