Gagasan
08 November, 2026 19:20 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Melalui program Kampung Inggris di Kota Yogyakarta (Krista), Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengagas pembelajaran Bahasa Inggris di lapangan bagi pelajar maupun masyarakat umum. Program ini mendapatkan basis dukungan dari mahasiswa peserta KKN dari berbagai kampus.
Diluncurkan pada akhir pekan kemarin, Program Krista menjadikan Kampung Taman, Prawirotaman, Sapen, Demangan dan Pengok sebagai kampung percontohan. Di keempat kampung tersebut, pembelajaran Bahasa Inggris digelar seminggu sekali setiap Jumat sore.
“Melalui Krista diharapkan masyarakat menguasai kemampuan praktis berbahasa Inggris dan semakin meneguhkan Yogyakarta sebagai Kota Pelajar dan Kota Pendidikan. Kebetulan ada mitra dari swasta yang sudah mengembangkan (Kampung Inggris), sehingga kita tidak berat," kata Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, dikutip Minggu (8/11/2026).
Menurut Hasto, program Krista juga memperkuat penanda keistimewaan sebagai Kota Pelajar dalam bentuk yang tidak kebendaan.
"Sebagai Kota Pelajar, harapannya kita menjadi best practice untuk komunikasi yang baik. Kalau di daerah lain ada Kampung Bahasa Inggris, masa kita sebagai Kota Pelajar malah justru enggak punya Kampung Bahasa Inggris. Sehingga, Dinas Pendidikan saya minta untuk bisa membangun Kampung Bahasa Inggris," paparnya.
Menurut Hasto, target dari program Krista ada tiga, yakni basis student, dalam hal ini melatih anak-anak sekolah, kuliah, yang ingin belajar bahasa Inggris. Ada juga yang berbasis UMKM, yang menyasar pengusaha-pengusaha kecil untuk membantu memasarkan produk kepada wisatawan mancanegara, termasuk berbasis destinasi pariwisata.
Untuk mendukung Krista, ada program One Village One Sister University sehingga bisa bekerja sama dengan perguruan tinggi dan mahasiswa.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta, Agus Trimadi, menjelaskan Krista sudah dimulai sejak 17 September 2026. Program Krista di Kampung Taman diikuti 31 peserta, di Prawirotaman dengan 25 peserta serta Kampung Sapen, Demangan, dan Pengok diikuti 24 peserta.
Pembelajaran bahasa Inggris ini melibatkan 15 relawan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkot Yogyakarta sebagai mentor. Sebagai bentuk komitmen dalam kegiatan tersebut, para Ketua Kampung sasaran program Krista mendeklarasi Kampung Inggris di Kota Yogyakarta.
Kolaborasi
Sebagai dukungan, bekerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Janabadra (UJB), UPN Veteran (UPNV) Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), sebanyak 830 mahasiswa diterjunkan ke kampung-kampung percontohan guna menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial, lingkungan, pendidikan, dan ekonomi.
Melalui program ini, para mahasiswa dan kampus diharapkan menjadikan Kota Yogyakarta sebagai laboratorium kecil untuk mengembangkan penelitian dan pengabdian masyarakat berdasarkan persoalan nyata di lapangan.
Kepala Bappeda Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono, menjelaskan pelaksanaan KKN merupakan bagian dari penguatan kolaborasi Pemkot Yogyakarta dengan perguruan tinggi melalui program One Village One University. Saat ini, Pemkot Yogyakarta telah bekerja sama dengan 48 perguruan tinggi untuk mendampingi 169 kampung tematik.
"Mahasiswa hadir bukan hanya sebagai peserta program, tetapi sebagai agent of change yang membawa ide, inovasi, dan energi baru untuk masyarakat Kota Yogyakarta," katanya.
Menurut Agus, mahasiswa diharapkan tidak sekadar datang membawa program kegiatan, tetapi terlebih dahulu mendengarkan kebutuhan masyarakat dan menghasilkan karya yang memberikan manfaat nyata.
Pada periode keempat ini, sebanyak 830 mahasiswa yang diterjunkan ke kampung-kampung percontohan berasal dari UAD sebanyak 530 mahasiswa, UJB dengan 227 mahasiswa, UPNV Yogyakarta dengan 33 mahasiswa, UGM dengan mahasiswa, dan UKDW dengan 19 mahasiswa. Mereka akan melaksanakan KKN di 12 kelurahan yang tersebar di enam kecamatan dan 13 kelurahan.
Adapun pengabdian mahasiswa periode ini difokuskan pada lima tema, yaitu pengelolaan sampah berbasis kelurahan, pengembangan Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP), pendampingan wirausaha mandiri, penguatan Jam Belajar Masyarakat (JBM), serta pengembangan Kampung Inggris.
Agus berharap program KKN dapat berjalan berkelanjutan melalui regenerasi kader masyarakat, penguatan interaksi sosial, kesinambungan program antarkelompok mahasiswa, serta kolaborasi berbagai pihak. Dengan begitu, manfaat pengabdian tidak berhenti ketika masa penugasan mahasiswa selesai, tetapi dapat diteruskan secara mandiri oleh masyarakat.
Bagikan