Kampus
13 Maret, 2026 02:54 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Enam universitas Indonesia dan Jepang berkolaborasi dalam program pengabdian masyarakat bertajuk Six-University Initiative Japan Indonesia Service Learning Program (SUIJI-SLP). Berlangsung dua tahap, pengabdian pada periode 2025 berlangsung di Jepang dan periode 2026 di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam program ini, dua mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) terlibat dalam kegiatan pembelajaran lintas budaya sekaligus pengabdian masyarakat di Indonesia maupun Jepang. Kedua mahasiswa tersebut adalah Nuraini Islami Kamiliya dan Wanodya Kusumaning Pertiwi.
Menurut Wanodya atau akrab disapa Ayun, program SUIJI merupakan kerja sama antara enam universitas di Indonesia dan Jepang yang bertujuan memperkuat kolaborasi pendidikan, penelitian, serta pemberdayaan masyarakat. Program tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat di dalamnya.
“Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik internasional, tetapi juga belajar langsung mengenai dinamika sosial, budaya, dan pembangunan masyarakat di tingkat lokal,” kata Ayun, Kamis (12/3/2026).
Di program ini, ia dan Nuraini mengikuti rangkaian kegiatan SUIJI yang diselenggarakan dalam dua tahap. Kegiatan pertama berlangsung di Jepang pada Agustus-September 2025, sementara kegiatan kedua dilaksanakan di Imogiri, Bantul pada Februari-Maret 2026.
Selama mengikuti kegiatan di Jepang dua mahasiswa Fapet UGM ini terlibat dalam berbagai aktivitas pembelajaran dan interaksi lintas budaya bersama mahasiswa dari universitas mitra.
“Di Jepang, kegiatan yang dilakukan antara lain berkunjung ke komunitas lokal, mengikuti upacara adat setempat, menjelajahi alam sekitar, melakukan diskusi bertemakan sosial, budaya, serta lingkungan, dan saling bertukar wawasan dan budaya antar kedua negara,” katanya.
Ayun mengaku selama mengikuti program bersama SUIJI di Universitas Kochi, ia mendapat banyak pengalaman baru. Dia merasakan secara langsung kehidupan masyarakat di Kota Otoyo, Prefektur Kochi.
“Meskipun, komunitas di sana terbilang kecil tapi terasa akrab dan warga di sana menyambut kami dengan sangat baik. Melalui program SUIJI ini saya jadi bisa merasakan bagaimana tinggal di pedesaan (rural area) di Jepang,” ungkapnya.
Pembangunan Lokal
Sementara itu, kegiatan tahap kedua di Indonesia dilaksanakan di wilayah Imogiri, Bantul, dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat. Dalam kegiatan ini, mahasiswa UGM, bersama dengan mahasiswa dari Universitas Ehime, Universitas Kochi, dan Universitas Kagawa bekerja sama dengan masyarakat setempat mengidentifikasi potensi desa sekaligus merancang program yang dapat mendukung pembangunan lokal.
Beberapa kegiatan yang dilakukan di Imogiri antara lain melakukan diskusi terkait masalah pertanian dan peternakan dengan warga, melakukan sosialisasi Bahasa Jepang dengan siswa SD, mengunjungi peternakan domba, mengadakan mini exhibition budaya Jepang, serta melakukan aktivitas seperti membatik, bermain gamelan, dan membuat tempe dan jamu dengan UMKM di sekitar desa.
“Program di Desa Selopamioro, merupakan kegiatan yang ditujukan agar mahasiswa Jepang juga dapat merasakan kehidupan lokal di Indonesia. Teman-teman dari Jepang sangat senang dengan kegiatan yang dilakukan, terlebih karena program dilakukan saat bulan Ramadan, mereka bercerita bahwa pengalaman ini sangat berkesan dan tidak akan mereka rasakan di Jepang,” tambahnya.
Melalui program ini, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi lintas budaya, serta kepekaan terhadap permasalahan masyarakat. Selain itu, pengalaman internasional seperti SUIJI juga menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk berkontribusi dalam pembangunan global di masa depan.
Program SUIJI telah menjadi salah satu platform kolaborasi internasional antara Indonesia dan Jepang yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk belajar bersama sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat di masing-masing negara.
Bagikan