OASE PTKIN 2026, Bukti Mahasiswa Mampu Berpikir Kritis, Logis dan Kreatif

08 November, 2026 20:38 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

08112026-UIN Suka OASE PTKIN.jpg
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berhasil menyabet gelar juara umum dari 18 kategori yang diperlombakan dalam OASE III PTKIN 2026, di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu-Jumat (4-6/11/2026). OASE III PTKIN 2026 diikuti 54 PTKIN dan 497 mahasiswa. (EDUWARA/Dok. UIN Sunan Kalijaga)

Eduwara.com, JOGJA - Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang berakhir pada Jumat (6/11/2026) menjadi bukti bahwa di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), kemampuan berpikir kritis, logis, dan kreatif tetap harus mendapat ruang utama bagi mahasiswa.

OASE III PTKIN 2026 mampu menuntut mahasiswa untuk mengembangkan nalar, menyampaikan gagasan, dan melahirkan inovasi yang berkontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Diikuti 54 PTKIN dan 497 mahasiswa, ajang yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta berlangsung dari Rabu-Jumat (4-6/11/2026). Sebagai tuan rumah, UIN Sunan Kalijaga juga menyabet gelar juara umum dari 18 kategori yang diperlombakan.

Rektor UIN Sunan Kalijaga, Noorhaidi Hasan, selaku tuan rumah penyelenggaraan OASE III PTKIN 2026, menyampaikan ajang tersebut memiliki makna lebih luas daripada kompetisi untuk memperebutkan gelar juara. Ajang ini menjadi ruang pertemuan talenta

“OASE merupakan ajang bergengsi di lingkup PTKIN sekaligus memiliki makna filosofis yang sangat mendalam karena mempertemukan talenta-talenta hebat, berbakat, dan cerdas yang menampilkan kemampuan nalarnya, berinovasi, mempresentasikan pikiran dan gagasannya untuk menjadi langkah awal menemukan perkembangan sains dan teknologi,” ungkap Noorhaidi, dikutip Minggu (8/11/2026).

Noorhaidi juga memaknai OASE sebagai mata air di tengah padang pasir yang menghadirkan kehidupan, kesegaran, dan harapan di tengah kekeringan serta kesulitan. Filosofi tersebut, menurutnya, sejalan dengan harapan agar kompetisi ini melahirkan generasi ilmuwan yang mampu menghasilkan penemuan dan inovasi serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), Noorhaidi menilai kemampuan berpikir kritis, logis, dan kreatif tetap harus mendapat ruang utama. Ia melihat mahasiswa yang mengikuti kompetisi OASE sebagai generasi yang terus mengasah kemampuan berpikir dan tidak sepenuhnya larut dalam arus perkembangan teknologi.

“OASE juga sekaligus membuat kita lega di tengah terjangan AI yang membuat otak kita sedikit berhenti. Mereka yang berkompetisi di sini saya yakin mereka yang tidak terbuai dan larut dalam arus deras AI. Mereka yang masih menyisakan secara signifikan ruang berpikir logis, kritis, kreatif,” ujarnya.

Daya Juang

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Sunan Kalijaga, Abdur Rozaki, mengapresiasi antusiasme dan daya juang mahasiswa PTKIN selama mengikuti kompetisi. Ia menyebut ribuan mahasiswa telah mendaftar pada tahap awal sebelum melalui proses seleksi hingga terpilih peserta yang berhak melaju ke babak kompetisi.

“Kami mengamati dengan cermat daya juang mahasiswa PTKIN sangat luar biasa. Sportivitasnya juga luar biasa, dan begitu pula upaya untuk membangun persahabatan antarmahasiswa PTKIN sangat luar biasa,” ungkapnya.

Tingginya antusiasme dan kemampuan mahasiswa sebagai modal penting bagi masa depan Indonesia. Perpaduan penguasaan sains dan nilai-nilai agama dinilainya dapat melahirkan kekuatan inovatif yang relevan dengan tantangan mendatang.

 “Kalau melihat kompetisi ini, insyaallah Indonesia memiliki harapan yang luar biasa, karena sains dan agama jika disatukan menjadi kekuatan yang sangat inovatif dan menjanjikan bagi masa depan Indonesia,” jelasnya.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama, Sahiron, mengaitkan pengembangan kompetensi mahasiswa melalui OASE dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. Menurutnya, terdapat dua hal penting yang perlu dipersiapkan untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju, yakni penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta terbentuknya masyarakat religius yang menghadirkan kemaslahatan.

“Terdapat dua hal penting yang harus dipersiapkan untuk mencapai Indonesia sebagai negara maju, yakni penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta terbentuknya masyarakat yang religius dan menghadirkan kemaslahatan,” katanya.

Sahiron juga memaparkan sejumlah program Kementerian Agama untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi masa depan, di antaranya Prima Magang dan AKMINAS. Ia menyebut sekitar 16 persen peserta Prima Magang tahun ini telah diterima bekerja sebelum menyelesaikan pendidikan tinggi. Sementara itu, AKMINAS memberikan pembekalan keilmuan dan kepemimpinan bagi mahasiswa.