OREO Berbagi Seru Dukung Program Bocah Pinter di Gunungkidul

22 Juli, 2026 21:40 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

22072026-GK Oreo.jpg
Para guru dari lima SD di Gunungkidul, yaitu SDN Mentel 1, SDN Mentel 2, SDN Kemadang, SDN Kemiri 2 dan SDN Ngestiharjo, mengikuti pelatihan dalam program OREO Berbagi Seru, di SDN Mentel 1, Rabu (22/7/2027). Program ‘Oreo Berbagi Seru’ menekankan pentingnya playful learning sebagai pendekatan yang mendukung proses pembelajaran agar lebih bermakna, aktif, dan menyenangkan. (EDUWARA/Dok. OREO Berbagi Seru)

Eduwara.com, JOGJA - Sebanyak lima Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendapatkan kesempatan melaksanakan program peningkatan pendidikan ‘OREO Berbagi Seru’. Digagas sejak 2024, program ini menitikberatkan pada pemberdayaan orang tua, guru dan anak melalui kegiatan edukasi serta penyaluran donasi.

Dipusatkan di SDN Mentel 1, Desa Hargosari, Kecamatan Tanjusari, Gunungkidul, ada sebanyak 35 guru dari lima sekolah yang mendapatkan pelatihan pada Rabu (22/7/2027). Mencakup 708 siswa, para guru yang dilibatkan berasal dari SDN Mentel 1, SDN Mentel 2, SDN Kemadang, SDN Kemiri 2 dan SDN Ngestiharjo.

Senior Marketing Manager Biscuit Mondelēz Indonesia, Kevin Stefano, memastikan melalui program ini pihaknya berkomitmen untuk berkontribusi di bidang pendidikan yang menitikberatkan pada pemberdayaan orang tua, guru dan anak melalui kegiatan edukasi serta penyaluran donasi.

“Kontribusi ini diharapkan membantu para siswa mendapatkan pendidikan yang berkualitas, berkarakter dan seru secara lebih merata, sekaligus menjembatani kesenjangan pendidikan di berbagai penjuru negeri, khususnya di wilayah 3T dan marjinal,” jelasnya.

Sejalan dengan prinsip deep learning yang dikedepankan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), program ‘Oreo Berbagi Seru’ menekankan pentingnya playful learning sebagai pendekatan yang mendukung proses pembelajaran agar lebih bermakna, aktif, dan menyenangkan. 

Melalui pengalaman belajar yang interaktif, anak tidak hanya lebih mudah memahami konsep baru, tetapi juga terdorong untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, serta mengembangkan keterampilan sosial seperti komunikasi dan kerja sama.

“Selain itu, muatan edukasinya juga disesuaikan dengan perkembangan zaman agar anak dapat tumbuh menjadi individu yang berdaya saing,” tegasnya.

Alat Belajar Seru

Bermitra dengan Indonesia Mengajar, program ini secara khusus mengembangkan 15 unit alat belajar seru di bidang Literasi, Numerasi, Sains, dan Bahasa Inggris, yang dirancang menggunakan pendekatan belajar sambil bermain serta selaras dengan kurikulum nasional. Hingga akhir tahun, alat-alat belajar seru ini akan didistribusikan ke 7 provinsi untuk menunjang proses belajar 7.000 siswa. 

Di Gunungkidul, 270 alat belajar seru yang diberikan akan membantu proses belajar bagi 708 siswa. Selama Rabu-Sabtu (22-25/7/2026), sebanyak 35 guru, 70 orang tua dan 35 anggota komunitas di Gunungkidul akan mengikuti kegiatan yang dikemas secara menarik dan interaktif.

Gunungkidul adalah kabupaten kelima yang disambangi setelah sebelumnya terlaksana di Kabupaten Lebak (Banten), Pangandaran (Jawa Barat), Tulang Bawang Barat (Lampung), dan Purworejo (Jawa Tengah).

Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul, Supriyanto, mengatakan program ini merupakan wujud kolaborasi pemerintah, dunia usaha, para guru, orang tua dan masyarakat untuk menghadirkan pendidikan yang lebih baik.

“Ini sejalan dengan program ‘Bocah Pinter’ yang dikedepankan Pemkab Gunungkidul, kami yakin bahwa ketika seluruh elemen bergandengan tangan, kita tidak hanya menciptakan proses belajar yang lebih menyenangkan, tetapi juga mempersiapkan generasi yang cerdas, berkarakter dan siap menghadapi tantangan masa depan,” terangnya.

Supriyanto berharap jika nantinya program ini bisa berjalan dengan baik, maka ke depan tidak menutup kemungkinan konsep pembelajaran yang menyenangkan ini bisa dikolaborasikan atau diterapkan dalam konsep ‘Bocah Pinter’.

Guru SD Negeri Mentel 1, Endah Setyorini, melihat pelatihan yang diberikan tidak hanya memastikan anak memahami materi pelajaran, tetapi juga bagaimana membuat mereka merasa antusias, percaya diri, dan berani mencoba.  

“Kami mendapatkan banyak inspirasi baru untuk menghadirkan proses belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan, di mana anak-anak bisa belajar sambil bermain, berdiskusi, dan mengeksplorasi ide-ide mereka,” tutupnya.