
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Rachmat Pambudy, menuntut komitmen kalangan akademisi dan mahasiswa untuk mewujudkan swasembada pangan, energi dan air yang berkelanjutan. Ketahanan terhadap tiga aspek tersebut dinilai akan semakin menguatkan posisi bangsa.
Pernyataan tersebut disampaikan Rachmat saat mengisi 'Ceramah Motivasi' kepada 1.135 mahasiswa baru dan civitas akademika Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta di Kampus INSTIPER, Sabtu (5/9/2026).
"Dengan pengalaman panjang sejak 1958, saya rasanya tidak berhak untuk memberi motivasi kepada civitas akademika INSTIPER. Malah sayalah yang, jujur mendapatkan motivasi dari berbagai capaian INSTIPER," kata Rachmat di hadapan mahasiswa baru.
Rachmat menilai, dengan kurikulum yang spesifik pada perkebunan dan kehutanan, INSTIPER Yogyakarta telah menunjukkan komitmen berkelanjutan dalam memajukan bidang yang memiliki peranan krusial terhadap pembangunan Indonesia.
Dalam paparannya, Rachmat menjelaskan berakhirnya program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) pada 2030 yang bertujuan pengentasan kemiskinan di berbagai negara berkembang, maka tantangan dunia akan berganti pada ketahanan pangan, energi dan air.
Pada aspek inilah, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu berkontribusi terhadap pembangunan nasional, khususnya dalam mewujudkan swasembada pangan, energi dan air.
Ke depan, menurut Rachmat, mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai pengetahuan, tetapi juga perlu memiliki kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, berinovasi, dan mampu mengimplementasikan ilmu dalam kehidupan nyata.
"Di sinilah INSTIPER mendapatkan tempat. Dengan rekam jejak panjangnya, INSTIPER menjadi benteng kekuatan dan kedaulatan kita dalam swasembada tiga hal tersebut. Jika swasembada pangan, energi dan air mampu dilanjutkan, maka ini akan menentukan posisi strategis Indonesia untuk jaya," tegasnya.
Kepada mahasiswa baru, Rachmat berpesan agar menjadikan masa kuliah di INSTIPER sebagai ruang untuk membangun kompetensi, karakter, serta kesiapan menghadapi dunia kerja dan berbagai persoalan nyata di masyarakat.
"Indonesia membutuhkan kalian, generasi muda yang siap berkarya membangun Indonesia. Bidang perkebunan dan kehutanan merupakan bidang yang terus berkembang dan telah mendukung pembangunan Indonesia. Oleh karena itu, jadilah pembelajar yang baik dan saat lulus nanti berikan kontribusi terbaik untuk membangun negeri," pesannya.
Sekolah Kopi Nusantara
Selain memberikan ceramah motivasi, kehadiran Rachmat juga sekaligus meluncurkan Sekolah Kopi Nusantara (SKN). SKN merupakan salah satu langkah strategis INSTIPER dalam memperkuat ekosistem pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) di sektor perkopian Indonesia. Kehadiran SKN menjadi sebuah ikhtiar untuk meningkatkan kualitas rakyat dan negara karena akan mampu meningkatkan nilai tambah produksi maupun nilai tukar petaninya.
Sementara itu, Rektor INSTIPER, Harsawardana, memaparkan pada Tahun Akademik 2026/2027, INSTIPER menerima sebanyak 1.135 mahasiswa baru, yang terbagi atas 1.058 mahasiswa program sarjana dan 77 mahasiswa program pascasarjana.
"Jumlah ini meningkat 218 orang mahasiswa atau 20,8 persen dibanding tahun lalu yang berjumlah 876 mahasiswa baru untuk jenjang sarjana," terangnya.
Dari 1.058 mahasiswa baru program sarjana, sebanyak 766 mahasiswa atau 72,4 persen memilih Fakultas Pertanian, 196 mahasiswa atau 18,5 persen di Fakultas Teknologi Pertanian, dan 96 mahasiswa atau 9 persen di Fakultas Kehutanan.
Kepercayaan berbagai mitra terhadap INSTIPER juga tercermin dari tingginya jumlah mahasiswa baru penerima beasiswa. Pada tahun ini, sebanyak 329 mahasiswa atau sekitar 29 persen dari total mahasiswa baru merupakan penerima beasiswa.
"Para mahasiswa ini berasal dari 28 provinsi di Indonesia. Provinsi Sumatera Utara menjadi daerah asal mahasiswa dengan jumlah terbanyak, disusul Provinsi Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Jawa Tengah," jelasnya.
Terkait SKN, Harsawardana menjelaskan program tersebut dirancang sebagai satu ekosistem pembelajaran yang mengintegrasikan jalur pendidikan formal dan nonformal. Melalui skema tersebut, kompetensi yang diperoleh melalui pembelajaran nonformal dapat diakumulasi, direkognisi, dan dilanjutkan menuju jenjang pendidikan formal melalui mekanisme Recognition of Prior Learning (RPL).