Sekolah Kita
20 Juli, 2026 20:21 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Sejumlah pimpinan daerah dan universitas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memimpin pelajar SMA/SMK untuk mendeklarasikan Pelajar Jogja Santun dan Cinta Damai, Senin (20/7/2026). Deklarasi ini sebagai upaya penguatan karakter dan keprihatinan mendalam atas fenomena kenakalan remaja yang telah melampaui pelanggaran disiplin biasa.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih memimpin seluruh pelajar membacakan deklarasi secara serentak lewat upacara bendera yang difokuskan di SMAN 1 Wonosari. Deklarasi Pelajar Jogja Santun dan Cinta Damai menjadi keseriusan Pemda DIY dalam melindungi anak.
Terkait hal ini, Gubernur DIY telah menerbitkan Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 6512 Tahun 2026 tentang Penanganan Kenakalan Anak Usia Sekolah yang Berujung pada Tindak Pidana di Ruang Publik.
“Melalui Ingub ini, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X memberikan instruksi tegas kepada Wali Kota dan para Bupati untuk melakukan langkah-langkah strategis guna menyoroti maraknya penggunaan senjata tajam, penyalahgunaan obat terlarang seperti pil sapi, hingga konsumsi minuman oplosan yang membahayakan nyawa,” kata Endah.
Endah juga berpesan kepada orang tua agar menjadikan rumah sebagai benteng pertama dan utama dan tidak segan memastikan keberadaan putra-putrinya di rumah pada jam istirahat demi menjaga keselamatan mereka.
"Dengan sinergi antara pemerintah, sekolah, dan keluarga, diharapkan masa depan DIY sebagai pusat pendidikan dan budaya dapat terus terjaga melalui generasi muda yang unggul," tegasnya.
Di Kulon Progo, Bupati Kulon Progo Agung Setyawan memilih SMKN 1 Pengasih sebagai lokasi pembacaan deklarasi bersama seluruh pelajar. Sebelumnya, deklarasi serupa juga dilakukan Pemkab Kulon Progo pada awal tahun ini dengan melibatkan Ketua OSIS dari seluruh sekolah jenjang SMP dan SMA.
“Ini merupakan gerakan kewaspadaan dan pencegahan pada potensi terjadinya kenakalan remaja. Semua pihak dan jajaran diharapkan memberikan dukungannya dalam menggencarkan gerakan serta memperluas ke sekolah-sekolah yang belum tersentuh,” kata Agung.
Di lingkungan MTS dan MAN, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Ahmad Bahiej, secara langsung mengajak seluruh siswa membacakan deklarasi bersamaan pelaksanan upacara di MAN 1 Yogyakarta.
“ini menjadi wujud komitmen madrasah dalam mendukung penanganan kenakalan anak usia sekolah yang berpotensi berujung pada tindak pidana di ruang publik, sekaligus memperkuat pembinaan wawasan kebangsaan,” ujarnya.
Melalui deklarasi tersebut, para pelajar berkomitmen menolak segala bentuk kekerasan, penyalahgunaan dan peredaran narkoba, serta tidak terlibat dalam aktivitas pornografi maupun pornoaksi. Mereka juga menyatakan kesiapan untuk menciptakan lingkungan madrasah yang santun, damai, aman, dan nyaman bagi seluruh warga sekolah.
"Kalian bukan sekadar murid madrasah. Kalian adalah calon dokter, guru, pemimpin bangsa, dan berbagai profesi mulia lainnya. Sangat disayangkan apabila potensi besar itu hilang hanya karena salah memilih pergaulan," tambah Bahiej.
Keberanian Sejati
Dari perguruan tinggi, Universitas Islam Indonesia (UII) turut ambil bagian dalam penanganan kenakalan remaja di DIY melalui partisipasi Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Keberlanjutan, Rifqi Muhammad, yang bertindak sebagai pembina upacara di SMAN 1 Sleman.
Kehadiran perwakilan pimpinan perguruan tinggi dalam upacara bendera dan deklarasi bersama tersebut merupakan bagian dari penugasan Gubernur DIY. Melalui kebijakan ini, para pejabat daerah, aparat keamanan, hingga pimpinan perguruan tinggi diterjunkan langsung ke sekolah-sekolah untuk membina wawasan kebangsaan serta menguatkan karakter peserta didik.
Melalui deklarasi ini, Rifqi mengajak pelajar harus mampu menunjukkan keberanian sejati dengan tidak melukai orang lain, dan berani berkata “tidak” pada ajakan yang salah.
“Terhadap pelanggaran hukum, penegakan akan tegas. Namun bagi yang tersesat, pintu pembinaan dan pemulihan akan selalu terbuka. Yang kita lawan adalah perilakunya, bukan masa depan anaknya,” katanya.
Hal yang sama juga dilakukan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menugaskan Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Arie Sujito, sebagai inspektur upacara bendera di SMAN 4 Yogyakarta
Arie mengingatkan DIY dikenal sebagai pusat pendidikan dan budaya, namun saat ini dihadapkan pada kenyataan adanya kenakalan anak usia sekolah, seperti membawa senjata tajam ataupun ada yang tubuhnya dirusak oleh pil dan minuman oplosan.
“Perubahan itu mestinya terjadi saat seorang anak memilih diam padahal harusnya bicara, saat ia memilih ikut padahal seharusnya menolak,” ujarnya.
Karena itulah, kata Arie, Pemerintah Daerah DIY bersama aparat keamanan, sekolah, perguruan tinggi, dan keluarga bergandengan tangan membangun gerakan bersama melindungi anak-anak. Ia juga meminta inisiatif "Jaga Warga" diperkuat untuk aktif meredam kenakalan anak usia sekolah.
“Mulai malam ini, biasakan berada di rumah pada jam istirahat anak dan simpan baik-baik nomor Call Center 110. Satu panggilan telepon bisa jadi yang menyelamatkan nyawa temanmu sendiri,” tuturnya.
Rangkaian pembacaan Deklarasi Pelajar Jogja Santun dan Cinta Damai oleh seluruh warga sekolah sebagai bentuk komitmen bersama untuk menolak kekerasan, perundungan, intoleransi, serta penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekolah.
Bagikan