Gagasan
02 Agustus, 2026 21:27 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Menjadi program edukasi dan pengenalan Aksara Jawa, Setu Sinau yang selalu digelar di Malioboro, semakin menarik minat masyarakat umum untuk belajar. Program ini juga menghadirkan berbagai aktivitas budaya yang melibatkan komunitas dan masyarakat umum.
Berlangsung pada Sabtu (1/8/2026) di trotoar depan Benteng Vredeburg, Setu Sinau merupakan gagasan para abdi Kapujanggan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yang didukung Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.
Sabtu kemarin, sepanjang sesi pembelajaran diisi RM Drasthya Wironegoro sebagai instruktur utama, didampingi abdi dalem Kapujanggan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Taufiq Hakim. RM Drasthya Wironegoro merupakan wayah dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. Selain aktif di lingkungan Keraton Yogyakarta, ia juga menjabat sebagai pengurus Bidang Seni, Budaya, dan Keistimewaan Karang Taruna Kota Yogyakarta.
“Ini merupakan gelaran yang kesekian kalinya dan memperoleh antusias peserta yang terdiri dari anak-anak hingga orang dewasa, tidak hanya belajar membaca dan menulis aksara Jawa,” jelas Drasthya, dikutip Minggu (2/8/2026).
Selama ajang pembelajaran, peserta diajak memahami sejarah, filosofi, serta penerapan aksara Jawa di tengah perkembangan teknologi digital. Kesemua materi disampaikan dengan pendekatan yang ringan dan interaktif sehingga mudah dipahami.
Selain pembelajaran aksara Jawa, program ini juga menghadirkan berbagai aktivitas budaya yang melibatkan komunitas dan masyarakat umum.
Menurut Drasthya, pembelajaran aksara Jawa perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
"Saya berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari aksara Jawa. Bagi saya, aksara Jawa bukan sekadar tulisan, tetapi bagian dari identitas dan warisan budaya yang harus terus hidup," ujar Drasthya.
Ia juga ingin agar kegiatan, seperti Setu Sinau, dapat terus menjadi ruang belajar budaya yang terbuka, menyenangkan, sekaligus menginspirasi masyarakat untuk ikut melestarikan aksara Jawa.
Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta, Yuliantono, mengapresiasi penyelenggaraan Setu Sinau dan menyatakan kesiapan organisasinya untuk terus berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.
Menurut dia, Setu Sinau memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mempelajari budaya secara langsung melalui pendekatan yang menyenangkan dan mudah diakses oleh berbagai kalangan.
Inklusif
Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menyambut baik kolaborasi dengan Karang Taruna Kota Yogyakarta dalam penyelenggaraan Setu Sinau.
"Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berkelanjutan. Tanpa kolaborasi, kita tidak bisa menghadirkan aktivitas-aktivitas yang lebih baik untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," ujarnya.
Menurut Yetti, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Ia menilai kehadiran Drasthya sebagai narasumber dalam Sinau Aksara Jawa mencerminkan sinergi Keraton Yogyakarta terhadap upaya pelestarian budaya yang dilakukan bersama pemerintah dan masyarakat.
Dengan kolaborasi tersebut, menurutnya, program-program kebudayaan akan semakin kuat dan berkelanjutan.
"Kalau ingin berjalan cepat kita bisa berjalan sendiri. Tetapi kalau ingin berjalan jauh, bergotong royong, dan berkelanjutan, maka kita harus berkolaborasi dan berjalan bersama," tambahnya.
Melalui Sinau Aksara Jawa, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai aksara tradisional, tetapi juga diajak memahami nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur. Antusiasme peserta dari berbagai latar belakang, termasuk wisatawan yang sedang berkunjung ke Malioboro, menunjukkan pembelajaran budaya tetap memiliki daya tarik di tengah perkembangan zaman.
Dengan konsep terbuka dan melibatkan berbagai komunitas, Setu Sinau diharapkan terus menjadi ruang belajar budaya yang inklusif sekaligus mendorong semakin banyak generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan warisan budaya Jawa.
Kegiatan ini tidak hanya diikuti peserta yang telah mendaftar sebelumnya, tetapi juga wisatawan dan pengunjung kawasan Malioboro yang bergabung secara spontan. Sejumlah orang yang semula hanya melintas tampak berhenti untuk menyaksikan jalannya kegiatan, kemudian ikut duduk bersama peserta lain mengikuti pembelajaran di ruang terbuka.
Bagikan